Bahasa Inggehis

Lagi-lagi beberapa teman menulis blog dalam bahasa Inggris. Banyak juga yang membuat status dalam akun fesbuknya menggunakan bahasa internasional itu. Juga di komentarnya. Sementara saya? cukup menyimak saja, mengingat keterbatasan yang sangat terbatas. Sesekali ikut gaya-gayaan nulis status di fesbuk atau twitter, itu pun hasil kopas dari kutipan orang lain. Atau lirik lagu. Yang penting gaya. Bahasa inggehis gitu loh..

Ya, saya memang nggak bisa bahasa inggris. Meski dalam tes PTESOL (semacam TOEFL katanya, tapi untuk lokal katanya juga) yang dikeluarkan Balai Bahasa UPI nilainya cukup menggiurkan, tetap saja untuk cas cis cus masih balelol. Saya masih mengandalkan petunjuk mbah gugel dalam mentranslasi bahasa, terutama dengan translate.google.com-nya.

Meski masih belum becus, saya beranikan diri menjadi salah satu relawan penerjemahan KDE. Ironis memang, sementara untuk GNOME sudah banyak yang diterjemahkan, untuk KDE masih sangat minim. Jadilah, meski dengan kemampuan yang sangat terbatas sekali saya coba mengalihbahasakan KDE agar lebih manusiawi untuk orang Indonesia yang kebanyakan tidak bisa cas cis cus.

Tapi, ternyata memang tidak mudah mengalihbahasakan sesuatu. Apalagi mengalihbahasakan bahasa aplikasi komputer yang terkadang ketika dialihbahasakan menjadi lebih aneh dan asing. Contohnya, orang pasti lebih familiar dengan istilah ‘mouse’ daripada tetikus. Atau printer daripada pencetak. Atau keyboard, atau monitor, atau password. Apakah istilah itu harus juga diterjemahkan?

Belum lagi akibat dari keterbatasan sumberdaya alias nggak bisa bahasa inggehis, hasil translasi malah jadi aneh. Padahal itu sudah dibantu mbah gugel. Jadi, masihkah harus dialihbahasakan? Ya coba sajalah. Toh ini bukan pekerjaan yang bakal dibayar. Ini sukarela. Mau ikut menerjemahkan ya syukur, kalau nggak, ya kenapa nggak mau? haha..

Bagi yang mau coba ikut translasi KDE, coba saja buka laman ini. Tenang, tak usah kuatir nggak bakal kebagian, masih banyak kok yang belum diterjemahkan (bahkan masih SANGAT banyak).

0 Thoughts.

  1. hehe, bung ini merendah saja.

    saya pernah mendapat informasi dari salah satu editor senior, katanya menerjemahkan itu tidak harus kata perkata. yang pertama harus kita lakukan adalah memahami tulisan secara keseluruhan. baru mulai menerjemahkan.

    masalah istilah khusus, yang jika diterjemahkan justru jadi aneh, menurut saya, dibiarkan saja seperti bahasa aslinya.

  2. Saya penerjemah artikel akademis. Dalam menerjemah, saya menyadari bahwa ada sedikitnya tiga pekerjaan yg harus dilakukan: mengalihbahasakan, menyunting, dan melihat ketersesuaian.

    Salam, kawan!

Ada komentar?

%d bloggers like this: