Tragedi di Malam Jumat Kliwon

HARI sudah malam. Jam di kantor sudah menunjukkan pukul 23.58 dan pekerjaan sudah semuanya dikerjakan. Itu artinya sudah waktunya pulang ke rumah, menembus dinginnya Bandung. Di depan tempat parkir, masih asyik ngobrol. Tadinya ingin bergabung, tapi malam sudah semakin larut. Akhirnya, dengan motor mio kesayangan, meluncurlah saya dari kantor yang terletak di daerah Soekarno Hatta itu.

Biasanya, ketika pulang, saya suka melawan arus Soekarno Hatta. Cuma saat ini beberapa ruas jalan sedang dibeton, sehingga memaksa saya pakai jalan biasa, jalan kecil yang ketika malam sangat sepi. Juga gelap. Pun jalannya berlubang di sana-sini, yang ketika habis hujan menimbulkan danau yang cukup besar.

Ketika melewati sebuah sekolah, tiba-tiba motor terasa sedikit goyang. Apalagi ketika lewat di pertigaan Kiaracondong motor sedikit oleng. Untung tidak jatuh, padahal ketika itu para penghuni pertigaan sudah mulai banyak bermunculan. Ya, dengan dandanan yang menor, para wadam alias wanita berwujud adam dengan genit mencoba merayu setiap pengguna jalan. Tapi bukan itu tragedi yang saya alami.

Tragedi menimpa motor saya. Ternyata ban belakang mio saya bocor. Entah kena apa, karena tak terlihat. Sialnya, di dekat tempat mangkal banci itu tak ada satu pun tukang tambal ban yang masih buka. Saya lihat jam, sudah hampir jam setengah satu. Wajar. Terpaksa saya tunggangi motor itu meski bannya bocor. Di daerah Soekarno Hatta dekat Tribun Jabar, saya lihat ada tukang ban yang masih buka. Alhamdulillah. Sepertinya si tukang ban sedang asyik nonton TV, karena suaranya terdengar sampai ke luar.

“Kang bade tambal ban,” ujar saya.

Sayangnya, muka si tukang tambal sangat tak bersahabat. Dengan ngomong-ngomong nggak jelas, saya tahu dia malas nambal ban motor saya. “Nya atos kang ari teu tiasa mah,” ujar saya sambil pergi. Ah dia ternyata menolak rejeki yang datang.

Dengan berjalan perlahan, sambil menahan dingin di malam jumat kliwon itu, saya terus mencari tukang tambal yang masih buka. Lewat persimpangan Buahbatu, sepi. Begitu juga ketika lewat SPBU terusan buah batu. Beberapa tukang tambal yang saya tahu kalau siang aada di sana, ternyata tak buka lapak.

Akhirnya, di dekat Indomaret Buah batu, ada tukang tambal yang masih buka, meski si tukang tambal sudah terlelap. Meski sungkan, saya coba bangunkan dia. Untung dia bangun dan mau nambal ban, meski dengan wajah terpaksa. Selesai? Tidak. Masalah belum selesai, karena..

“Wah kang ini mah musti ganti ban dalam,” teriak si tukang tambal saat melihat lubang di ban yang lumayan besar.

Benar saja, ketika saya lihat, lubangnya gede, mungkin sekitar 2 cm, dan melingkar. Kata tukang tambal, lubang seperti itu sudah tak bisa ditambal lagi. Saya bingung, sebab duit di kantong tinggal Rp37 ribu.

“Kalo ganti berapa kang?” tanya saya.
“35,” ujar si tukang tambal singkat.

Dengan berat hati -karena biasanya harga ban dalam cuma Rp25 ribu- saya setuju, meski sisa uang di kantong tinggal 2 ribu, dan perjalanan masih 15 kilometer lagi.

Untungnya, sampai ke rumah tak ada lagi tragedi yang menimpa di malam jumat kliwon itu. MEski hanya bawa 2 ribu, sisa perjalanan 15 kilometer berhasil dilalui dengan selamat. hufttt…
[ad#adsen]

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: