Pemilihan Unyu Kepala Daerah

Hari ini (29/8/2010) Kabupaten Bandung menggelar hajatan mahal: Pemilihan bupati untuk periode 2010-2015. Setelah sebelumnya digelar kampanye meski sedang puasa. Makanya, katanya banyak peserta kampanye yang jadi nggak puasa gara-gara ikut-ikutan kampanye. Untung saya nggak ikutan :D.

Meski tiap hari suka baca berita tentang pemilukada, saya kaget waktu pengumuman calon bupati, ternyata jumlahnya ada 8. Busyet, banyak banget. Saya sadar ketika lihat spanduk peserta kampanye nomer 8 di jalan-jalan. MEski nggak menyalahi aturan, saya pikir jumlah ini kebanyakan. Bukan apa-apa, peluang untuk mendapatkan suara mayoritas semakin kecil, karena pasti suaranya bakal terbagi. Akhirnya, pasti bakal ada putaran kedua. Dan itu sangat membosankan bagi saya yang setahun lalu ngeliput kampanye para calon anggota hewan.

Putaran pertama saja sudah banyak warga yang bosan. Waktu tadi ke TPS yang digelar di gedung madrasah, saya lihat sangat sepi. entahlah, mungkin saya yang memang telat datang (karena ketiduran) atau warga di kampung saya memang sudah muak sama namanya pemilu dan memilih. Dari status beberapa teman di jagat maya pun, banyak yang males ke tekape. Mending nerusin tidur, mumpung minggu :D. Kalaupun ada yang mau datang, sepertinya banyak yang mau milih nomor 0 atau nomor 9, alias golput..

Sebenarnya bukan males-males amat sih, tapi sudah banyak yang nggak percaya kepada yang namanya pemimpin. Lah yang sekarang mimpin saja banyak masalah. Mulai dari masalah penanganan banjir yang nggak bener, perbaikan jalan yang asal-asalan, dan mungkin masalah dugaan korupsi. Jadi, bisa-bisa, setelah turun nanti mereka bakal jadi tersangka.

Selain itu, saya nggak yakin bupati yang terpilih nanti bakal langsung memerhatikan warganya. Lah, untuk jadi calon saja butuh duit gede. Katanya (dari tulisan di opini Kompas tgl 27 Agustus), salah satu calon setidaknya mengeluarkan duit Rp1 miliar, hanya untuk pencalonan. Belum untuk kampanye, pelicin, pemanis, dllsb. Bahkan, katanya lagi, total ongkos politik ini bisa mencapai Rp3-4 miliar. gila!

Bukannya pesimistis tapi logikanya, sebelum mereka konsen kerja, pastinya pengen balik modal dulu kan? Lalu dari mana cara balik modal, jika gaji bupati "hanya" Rp6 juta per bulan? Ah sudahlah mereka memang unyu.

Oh ya, apa sih arti unyu? Gara-gara baca ini, jadi keseringan tulis unyu.. :D.

0 Thoughts.

  1. Haduwh…leres.,..
    kalau difikir (mskipun males dipikiran oge) kok rasanya memilih atau tidak memilih rasanya sama sajah…yah…
    meskipun tadi bapak sayah yang menjadi ketua KPPS, tapi mending mabuuurrr,,,, :kishishi: daripada kelimpahan dosa jika yang saya pilih jadi menjabat.,..
    meskipun dipungkiri,,,yang namanya jabatan, pasti sajah rentan terhadap penyalahgunaan… jadi daripada ikutan dosa ketika yang dipilih berbuat dosa karena jabatan yang diembannyah…mending juga mabuuuurrrr,,,, 😀

    sekarang yang namanya kejujuran dan amanah dalam jabatan mungkin sangat sedikit kesempatan…banyak orang bilang, jika ingin nyaman dalam jabatan, jangan coba-coba untuk jujur,,,serba salah…. :-3 mungkin di negeri ini kejujuran sudah lagi tak disukai…daripada teu milih nu teu jujur,,,,mending kabuuuurrr,,,hehehhe…. 😆

Ada komentar?

%d bloggers like this: