Gempa! Gempa!

SIANG itu terasa lebih terik. Apalagi sedang puasa, panasnya lebih terasa. Yang ada di pikiran inginnya cuma tidur saja. Atau setidaknya menikmati es kelapa muda. Ditambah keadaan yang sepi-sepi saja di daerah kota. Tak ada yang menarik. Makanya, karena nggak ada kejadian penting lagi, sekitar jam 2 siang saya iseng main ke BEC Purnawarman. Sudah lama ingin beli joystick agar bisa main playstation di komputer.

Tak afdol rasanya jika ke BEC cuma beli barang lalu pulang. Makanya, setelah berhasil menggondol stik PS dari sebuah toko di lantai 2, saya iseng naik ke lantai atas, lihat-lihat berbagai macam laptop yang matak ngiler. Itung-itung sambil ngabuburit dan cuci mata. Toh buka masih lama, baru jam 3 kurang.

Lalu, terjadilah kejadian besar itu. Tiba-tiba, gedung BEC yang megah itu tampak bergoyang. Awalnya, orang-orang yang ada di dalam gedung tak begitu peduli, soalnya getaran kecil suka terjadi dari lift. Semua orang masih biasa-biasa saja, meski tampak sedikit kaget. Tapi, ketika goyangan lindu itu kembali terjadi dan semakin keras, semua langsung sadar. Ini bukan goyangan biasa. Ini benar-benar goyangan lindu. Maka, paniklah semuanya.

Sepertinya, semua orang yang ada di gedung megah itu tak peduli lagi akan harta bendanya. Para penjual maupun pengunjung BEC -termasuk saya- berdesakkan ingin segera keluar secepat mungkin. Apalagi ketika goyangan itu semakin hebat, dan terdengar ada pecahan sesuatu dari lantai atas. Praakk!! Mungkin kaca toko. Semua orang tak peduli lagi akan nasib orang lain. Semua menjadi terasa sangat egois. Wajah-wajah ketakutan terpancar dari semua orang.

Sebagian orang -kebanyakan perempuan- tampak terjatuh dan terhimpit ribuan orang, ketika berusaha turun lewat eskalator yang mendadak diam. Tak ada yang berusaha membantu mereka. Yang ada ketakutan, jangan-jangan gedung ini bakal runtuh menimpa mereka -termasuk saya. Sebagian mereka tak lagi memakai sendal, terutama yang biasanya memakai rok mini dan bersandal high heels.

Setelah berdesakkan di eskalator dan pintu depan yang mendadak menjadi sangat sempit, akhirnya saya -bersama ratusan orang yang lain- akhirnya bisa keluar jua dari gedung BEC. Di luar, ternyata sudah banyak orang yang menyemut. Jalan Purnawarman yang kecil itu mendadak menjadi penuh sama orang-orang yang baru keluar dari gedung. Semuanya tampak masih ketakutan. Sebagian masih terkejut atas apa yang barusan dialami. Jalanan macet total.

Meski panik, saya penasaran, seberapa parah kerusakan yang dialami gedung ini. Sayang, selain pemilik toko yang akan menutup tokonya, pengunjung tak boleh masuk. Ah, kalau masuk pun, belum tentu saya berani masuk ke lantai paling atas. Akhirnya saya cuma memperhatikan bagian depannya saja. Tampak beberapa tegel terkelupas. Untung tidak parah.

Ternyata, gempa yang barusan terjadi itu nggak hanya membuat panik warga Bandung. Di rumah, bapak saya nelpon, katanya rumah nenek saya rusak, meski tak parah. Yang lebih parah, rumah yang persis di depan rumah nenek saya hancur. Bukan lagi rusak, tapi rata dengan tanah. Ah, padahal setahu saya, rumah itu belum selesai dibangun.

Setelah gempa yang berkekuatan 7,3 skala Richter itu, rasanya hari-hari berikutnya menjadi lebih sibuk. Hampir setiap hari jadi sering nongkrong di gedung Jalan diponegoro 22. Sekadar update informasi mengenai data korban jiwa dan rumah. Di sana, adapula citra satelit dampak gempa, berupa longsor yang melanda suatu desa. Mengerikan.

Bahkan, selama beberapa hari, saya sempat harus ke Pangalengan, salah satu daerah yang terkena dampak gempa. Beberapa kali harus melewatkan buka puasa bersama mereka. Di sana, keadaan tampak mengkhawatirkan. Sebagian penduduk tampak mengungsi di pinggir jalan, karena rumahnya rusak berat. Untung bukan termasuk wartawan siaga bencana yang harus siaga di sana lebih lama.

Warga merubuhkan rumah yang rusak (dok. Pribadi)

Di pusat kota, keadaan lebih mengkhawatirkan. Banyak gedung yang rusak parah, termasuk sekolah dan masjid agung Pangalengan. Sebagian pengungsi yang rumahnya hancur terpaksa mengungsi di lapangan dekat sekolah. Tempat pengungsinya menyedihkan? Itu belum seberapa, karena di bagian lebih selatan lagi, tepatnya di perkebunan teh Malabar, keadaan pengungsi tampak lebih menyedihkan. Di sana, mereka terpaksa mengungsi di kawasan perkebunan teh yang sangat berdebu. Jangan harap bisa tinggal lama di sana tanpa pakai masker.

Butuh dana tunai. (dok. Pribadi)

Hari ini, tepat setahun bencana itu datang. Kejadian yang mungkin takkan pernah terlupakan. Pertama kali merasakannya saat puasa. Apa kabar para pengungsi? Apakah rumah mereka sudah berdiri tegak? Entahlah, saya belum ke sana lagi. Yang pasti, rumah tetangga nenek saya yang hancur rata dengan tanah itu, sampai sekarang belum juga kembali dibangun. Saya nggak tahu apa karena dana belum turun? Katanya sih sudah, tapi nggak tahu juga. Yang pasti lagi, sekarang gubernur sedang sibuk narsis, jadi mungkin nggak mikirin lagi mereka.

Salat di masijd yang rusak

0 Thoughts.

  1. Beledag!!
    Tak terasa gempa yang mengguncang Bandung Selatan sudah setahun lamanya.
    Bersyukur bagi kita yang masih diberikan kelayakan pasca gempa tahun lalu.

    Bagi saudara saya yang harus 2 kali berlebaran di dalam tenda, bersabarlah. 😛

    _________________________________
    wow emang masih ada yang tinggal di tenda???

  2. ada lho,
    di desa pintu, saat kita memasuki gerbang perkebunan malabar, di sana masih ada kurang lebih 10 tenda lagi, mereka yang bertahan rumahnya rata dengan tanah kang, adapun bantuan yg dijanjikan belum sepenuhnya dipenuhi, :hoahm:

  3. Musibah memang misteri alam dan tuhan, kalo lihat kondisi indonesia akhir akhir in memang sangat memprihatinkan, banyak musibah dan bencana.

Ada komentar?

%d bloggers like this: