Anak (Luar) Biasa

APA sebenarnya definisi sempurna bagi manusia? Apa mereka yang memiliki harta melimpah? Atau yang bentuk fisik yang atletis dengan otot yang kekar? Atau ada ddefinisi lainnya? Jika demikian, sungguh menyedihkan mereka yang tak punya apa-apa atau yang berbadan kerempeng. hanya bisa jadi manusia kelas dua.

Lebih-lebih bagi orang yang memiliki keterbatasan fisik, yang sering disebut sebagai orang cacat. Apa mereka tidak sempurna? Tidak. Mereka, para difabel, sama saja dengan orang yang secara ukuran normal, memiliki fisik yang lengkap. Mereka juga sempurna.

Toh, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing kan? Seperti pak Liman yang barusan tampil di TV. Dia sangat lihai ngelenong dan jaipongan. Padahal, dia termasuk orang difabel.

Di kampung saya pun ada seorang difabel. Dia masih kecil, mungkin baru 8 atau 9 tahun. Kaki dan tangannya tak seperti orang kebanyakan. Untuk jalan pun, dia menggunakan sepeda roda tiga. Ahmad, nama anak itu, saat ini sekolah di SD khusus anak berkebutuhan khusus. Tapi untuk sekolah agama, dia masuk di madrasah biasa, bersama teman-temannya.

Yang membuat saya kagum, meski dari segi fisik kekurangan, dia tetap semangat menikmati kehidupan sebagaimana anak pada umumnya. Dia termasuk anak wanteran, nggak pemalu atau minder dengan keterbatasan fisiknya, Bahkan dia nggak malu-malu ketika mau minta tolong ke orang lain. Juga sering nyapa orang yang lebih tua, apalagi ketika bertemu gurunya.

Saya lebih kagum lagi dengan sikap teman-teman sebayanya yang nggak membeda-bedakan perlakuan ketika lagi main, Mereka tampak biasa saja meski tahi bahwa temannya memiliki keterbatasan fisik. saya salut sama kepedulian teman-temannya.

Berbanding terbalik sama pemerintah yang terkesan menjadikan para difabel sebagai warga kelas dua. Lihat saja foto yang dibuat kang Adi yang dipamerkan di BIP minggu lalu. Foto itu memperlihatkan tentang perjuangan seorang difabel ketika menggunakan fasilitas umum.

Untuk menyediakan fasum saja masih setengah-setengah, gimana mau memperhatikan nasib mereka? Ah sudahlah, cape mikirinnya juga 🙁
#30harimerangkaikata

Ada komentar?

%d bloggers like this: