Kartu Kuning yang Berwarna Putih

ENTAH alasan apa sehingga Dinas Tenaga Kerja setiap kabupaten menganjurkan (atau mengharuskan?) setiap warga yang mau bekerja untuk mempunyai kartu tenaga kerja. Bisa jadi untuk mempermudah menghitung jumlah pengangguran di daerah tersebut. Tapi bisa jadi itu tidak valid, karena kenyataannya kebanyakan kartu kuning yang warnanya putih itu sering kali tidak dikembalikan setelah seseorang mendapatkan kerja. Atau malah banyak juga yang memilih untuk tidak membuat kartu kuning yang berwarna putih itu.

Seperti saya contohnya. Sejak dua tahun lalu lulus kuliah, saya tidak pernah pergi ke Disnaker untuk membuat kartu kuning yang berwarna putih itu. Malas jadi salah satu alasan utamanya. Selain itu, saya sedikit trauma ketika harus berhadapan dengan para abdi negara itu.

Tapi Senin (01/11/2010) kemarin terpaksa saya harus berurusan juga. Karena adik saya baru lulus dan hendak menjadi pengangguran, maka agar tercatat secara resmi sebagai pengangguran yang tercatat di Disnaker Kabupaten Bandung, kami pun membuat kartu kuning yang berwarna putih itu. Daripada hanya mengantar, saya pun akhirnya buat juga kartu itu. Mumpung gratis.

Tadinya kami mau buat kartu pada Sabtu, namun setelah capek-capek ke kantor komplek Pemda Kab Bandung di Sabtu pagi, ternyata sepi. Setelah berkeliling -siapa tahu ada kantor yang buka- kami menyerah, kembali pulang. Di gerbang, saya tanya ke salah satu anggota Satpol PP yang sedang berjaga. Ternyata, para abdi negara itu sedang libur, berhenti melayani rakyatnya di akhir pekan.

“Bukanya Senin sampai Jumat kang, Sabtu libur,” ujar salah seorang dari mereka. Sial.

Senin pagi, kami kembali ke komplek kantor Pemda. Setelah berkeliling mencari letak kantor Disnaker -yang ternyata lokasinya lain dengan yang ditunjukkan di peta gerbang depan- kami masuk ke sebuah ruangan. Di pintu masuk, terpampang jelas pengumuman tentang syarat pembuatan kartu kuning yang berwarna putih itu. “KARTU KUNING GRATIS (TIDAK DIPUNGUT BIAYA)”. Di bagian bawah, tertulis siapa yang memasang pengumuman itu, yakni Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja Disnaker Kab Bandung. Pengumuman itu tak hanya satu, di beberapa tempat strategis tampak pengumuman itu ditempel. Sayang di ruang pembuatan kartu, tidak terlihat pengumuman tersebut.

Karena hari masih pagi, belum banyak orang yang mau buat kartu kuning yang berwarna putih itu. Saat masuk, ada tiga petugas yang memakai seragam serba hijau dan satu orang pembuat kartu kuning yang berwarna putih. Maka kami pun segera dipanggil, duduk di hadapan petugas.

Untuk membuat kartu kuning yang berwarna putih ini ternyata tidak sulit. Sebelumnya, di depan gedung sudah terpampang syarat apa saja untuk membuat kartu tersebut. Yakni fotokopi ijazah yang sudah dilegalisasi, fotokopi KTP, dan dua buah pas foto ukuran 3×4. Setelah diserahkan, bapak petugas lalu mengeluarkan sebuah formulir, dan menuliskan data diri si pengaju kartu. Semuanya ditulis tangan, meski di ruangan itu sudah ada komputer canggih. Setelah beres, lalu ditandangani oleh si pengaju kartu, lalu diserahkan.

“Teu langkung,” tiba-tiba si bapak petugas yang ramah itu berkata ketika menyerahkan kartu kuning yang berwarna putih itu ke saya. Dalam bahasa Indonesia artinya seridonya atau terserah. Hmm.. apakah saya harus bayar jasa pembuatan kartu itu padahal itu adalah tugasnya sebagai abdi negara?

Dengan muka polos, saya sedikit bertanya, “Teu langkung apa pak?”. Dia menjawab, terserah. Maksudnya terserah mau bayar berapa. Dan -lagi-lagi- dengan muka polos saya jawab lagi.

“Wah pak maaf saya nggak bawa uang kecil,” ujar saya sambil bangkit dari kursi. Tak lupa sambil tersenyum. Padahal memang di kantong saya tidak ada uang receh. Cuma ada satu lembar uang lima puluh ribuan.

“Ya teu sawios,” timpal bapak petugas itu. Dari mukanya terlihat sedikit kecewa. Di sebelahnya, si ibu petugas pun terlihat kecewa, karena adik saya pun tak memberikan uang jasa.

5 Thoughts.

  1. hmm…
    heran ya !
    kenapa begitu??
    aku gak ngerti dengan otak para abdi negara model begitu.

    seneng banget aku, begitu baca bahwa pada akhirnya mas hahn ngasi tu Bapak.
    _______________

    nggak ngasih mbak, ga ada duit hehe..
    itulah watak para abdi negara kita mba πŸ˜€

  2. buhaha nya mayan pan tamba kesel nulisan kartu koneng nu warnana bodas wkwkw πŸ˜€
    ______________

    enya kang, lumayan daripada lumanyun πŸ˜€

  3. Itu karena kebiasaan masyarakat yg suka ngasih imbalan kalo buat kartu tanda pencari kerja. Akhirnya kalo ga dikasih, begitu deh sikap petugas. Ayo dong biasakan bersih. πŸ™‚

Ada komentar?

%d bloggers like this: