Gedung Sate

JIKA ditanya apa sih ikon Bandung? Tentu Gedung Sate adalah salah satu jawabannya. Gedung yang menjadi tempat ngantornya gubernur ini memang bersejarah. Tentu saja bersejarah bukan hanya karena ditempati oleh orang nomor wahid di Jawa bagian barat tapi tidak terlalu barat ini, tapi juga desainnya yang sangat keren sekali. Apalagi dengan ciri khas sebuah ornamen sate (entah itu daging apa) sebanyak enam buah tusukan di atas gedung yang menjadikannya unik.

Tapi tulisan ini takkan menceritakan tentang sejarah gedung bersejarah itu. Kalau penasaran, lebih baik baca di wikipedia atau tanya paman google. Atau lebih baik datanglah ke sana sebagai turis, niscaya pak satpam akan menyambut Anda dengan ramah.

13 bulan lalu, saya masih sering main ke gedung tua ini. Tentu saja bukan hanya sekadar main, tapi untuk menjalankan tugas negara. Hampir tiap hari saya nongkrong di sana, meski seringkali hanya nongkrong di depan gerbang yang ada tukang cuankie. Nunggu ilham dari pemilik kendaraan D 13xx PN atau wakilnya yang mantan artis itu. Atau dari penghuni samping gedung Sate. Kalau lagi apes, nunggu ilham para tukang teriak-teriak yang suka berteriak di depan gerbang (padahal teriakan itu tak terdengar dari dalam lho).

Ketika pertama kali masuk, canggung juga, apalagi ketika ditanya oleh pak satpam yang berjaga di depan pintu utama. Mungkin karena saya berjanggut sehingga takutnya teroris :p. Terlebih, itu pertama kalinya saya masuk ke gedung yang tepat mengarah ke Gunung Tangkubanparahu itu.

Tapi lama kelamaan biasa, bisa langsung masuk saja ke kantor megah itu. Pak satpam pun kemudian mafhum melihat kami yang selalu berpakaian ala gembel -celana jeans, jeket belel, sandal gunung, kaos oblong, tas ransel- masuk ke gedung itu. Meski dandanan kami kontras dengan sebagian besar penghuni gedung, toh kami cuek.

Interior gedung ini ternyata sangat megah. Jauh berbeda dengan gedung-gedung pemerintahan yang dibuat belakangan. Termasuk gedung dewan yang ada di samping Gedung Sate. Sangat kontras. Di sana lebih gersang dan terasa sempit. Sementara di Gedung sate, ruangan terasa lapang, terutama di bagian tengah, karena atapnya yang tinggi. Khas gedung tua. Suasana sempit baru terasa kalau masuk ke lantai bawah. Terasa seperti lorong di bawah tanah. Tak ada ventilasi udara di sini (kalau tak salah sih).

bukan tukang sate

Setelah setahun, akhirnya tadi siang (09/10/2010) saya berhasil lagi masuk ke gedung ini. Seperti biasa, masuknya tak lewat pintu utama, tapi pintu belakang yang ada tulisan “silahkan matikan rokok anda di sini”. Lorong yang terasa sangat rendah sehingga kepala seperti yang mau kena atap lorong padahal masih bisa dilalui oleh saya yang tidak jangkung. Biasanya pintu ini dijaga dua satpam, tapi tadi siang tidak ada satu pun. Sepertinya mereka pindah ke bagian dalam, ke tempat resepsionis.

Selain tak ada satpam di mulut lorong, ada satu lagi yang berubah. Ternyata sekarang di dekat resepsionis ada pintu kaca, seperti pintu di mal-mal. Tapi alat deteksi logam tidak lagi terpasang. Padahal, ketika sedang ramai-ramai isu bom, alat deteksi logam ini dipasang di semua pintu masuk, terutama pintu utama (meski orang masih bisa masuk tanpa harus dideteksi logam). Yang nampak berubah lagi, pipa-pipa di lorong lantai bawah sekarang ditutupi. Dulu, pipa ini jelas terlihat. Selebihnya -perasaan- tidak berubah.

Hmm.. apa lagi ya?

1 Thought.

Ada komentar?

%d bloggers like this: