Mencari Belut

ALKISAH di negeri antah berantah hiduplah sekelompok petani yang menggarap berhektare-hektare sawah milik tuan tanah. Tuan tanah kaya raya, tapi sangat menggantungkan hidupnya pada hasil panen sawahnya. Tak ada usaha lain, karena usaha utamanya memang dari padi.

Karena sepanjang tahun ini cuaca tidak menentu, hasil panen padi pun menjadi tak menentu. Hasil yang didapat tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya. Juga untuk membayar hasil kerja para petani yang sangat giat bekerja itu. Cuaca tahun ini memang sangat merugikan si tuan tanah. Betapa tidak, hujan yang turun sepanjang tahun menyebabkan hasil panennya menurun sangat drastis. Bahkan banyak pula yang gagal panen.

Setelah berpikir lama, menimbangkan masak-masak, dia pun mempunyai gagasan baru: mencari pendapatan lain di luar hasil tani. Tapi tetap harus dihasilkan dari sawah miliknya. Memang, ada ketentuan bahwa dia tak boleh mencari usaha lain di luar sawahnya itu. Dia harus bisa memaksimalkan sawahnya untuk bisa mencukupi segala kebutuhannya.

Dan inilah ide yang muncul di kepalanya: mencari belut di sawah miliknya. Pria tua yang biasa dipanggil pak Tuan itu berpikir, sawah adalah salah satu habitat belut. Maka dapat dipastikan, pikirnya, di sawahnya pun pasti bakal banyak belut yang bisa ditangkap. “Ini pasti ide yang sangat bagus, pasti bisa menambal kekurangan,” ujarnya lantas tersenyum sendiri membayangkan betapa briliannya ide besarnya itu.

Nantinya, kata si Pak Tuan, petani yang selama ini menggarap sawah diwajibkan untuk mencari belut di sawah yang dikerjakannya. Bukan jika ada saja, tapi harus mencari sampai ketemu. Tidak bisa tidak, karena ini perintah. Petani tak boleh pulang dari sawah sebelum mendapatkan belut. entah besar atau kecil. Yang penting belut.

Tentu saja, di kalangan petani, banyak pro dan kontra. Sebagian menolak, tapi tak sedikit yang tidak menolak, walau belum tentu menyetujui ide ini. Mereka yang menolak menganggap, jangankan mencari belut, sawah yang sangat luas itu pun belum bisa digarap maksimal karena kekurangan orang.

“Ini kan bisa dilakukan sambil jalan,” ujar Pak Tuan ketika mendengar keluhan petani.

Maka, bagai titah Raja yang tak bisa dibantah, akhirnya semua petani pun turut serta mencari belut. Apalagi dengan iming-iming naik haji bagi yang bisa menangkap ribuan belut. Akhirnya semua petani sibuk sendiri, terus menggali di tanah garapannya masing-masing. “Moga-moga saja bisa ke Arab kalau banyak dapat belut. Minimal bisa naik pesawat,” ungkap salah seorang petani. tentu dalam hati.

Hasilnya memang menakjubkan. Dalam waktu singkat, Pak Tuan bisa menerima begitu banyak belut dari petani yang rajin -atau terpaksa rajin- mencari hewan licin itu. Dalam waktu singkat pula, kekayaannya bertambah signifikan, sementara para petani yang dijanjikan naik haji itu hanya mendapat secuil persenan dari hasil tangkapannya. Kecewa? “Ah itu sudah biasa,” ujar petani.

Namun Pak Tuan yang tidak berpikir panjang itu tidak mengantisipasi dampak pencarian belut secara besar-besaran di sawah miliknya itu. Makin hari, belut yang diterima tidak juga bertambah, walau tidak menurun tajam. Makin hari yang diterimanya hanya anak belutnya saja. Tak ada lagi belut besar yang bisa dijual mahal ke restoran elit di kota besar sana.

Itu belum seberapa. Dia tak menyadari ternyata petani yang kerjanya menanam padi itu ternyata sudah lama meninggalkan pekerjaan utamanya. Karena terlena dengan hasil dari belut, dia lupa bahwa dia sudah lama tak mengunjungi sawahnya yang sangat luas itu. Dia lupa mengingatkan petani bahwa mereka pun harus tetap menanam padi.

Karena itu, keesokan harinya dia bergegas pergi ke sawah, menengok padi yang petani tanam. Alih-alih mendapatkan sawah yang hijau atau menguning -seperti sawah tetangganya yang sebentar lagi panen- yang Pak Tuan dapatkan hanya tanah yang hancur berantakan. Tanah yang dulu subur itu kini kondisinya menyedihkan, tak lagi hijau.

Tak ada lagi padi yang ditanam di sana. Semua petani yang bekerja terus berusaha mencangkul tanah, semakin dalam, semakin dalam. Mencari hewan licin itu sampai ke dasar. Dengan hasil yang semakin mengecewakan.

“Tuan, tuan, di sini sudah tak ada lagi belut, tuan,” ujar petani kepada Pak Tuan. “Kenapa kami tidak disuruh memaksimalkan tanah tuan dengan menanam padi atau palawija saja tuan? Kalau sudah begini, saya tak yakin tanah tuan bisa ditanami padi lagi tuan. Semua cacing dan belut sudah habis tuan.”

Pak Tuan bingung. Sementara persediaan belutnya sudah menipis. Pertanda dia harus menjual sawah. Itupun jika ada yang berminat.
*ceritangabulatuk*

0 Thoughts.

  1. hmm…jd intinya kacang takboleh lupa pada kulitnya gitu yah?? ;p
    _______________

    orang kanan harus ditempatkan di kanan 😀

  2. anti spamnya menyebalkan.. apa itu bahasa inggris 😀 eehehe

    ohhh jadi klo punya sawah.. trus belutnya habis kita tinggal menjualnya ya? baiklah 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: