Bronchopneumonia Duplex

http://fhadil77.blogspot.com

BANGUN siang, seperti biasa saya langsung setel komputer, masuk slekwer, buka terminal, lalu ketik wvdial. Terakhir buka browser dan buka tuit. Sudah jadi kebiasaan memang, padahal belum cuci muka atau pun makan/minum. Lalu, di beberapa TL teman maya, terdapat ucapan berduka, meninggalnya seorang manusia yang dideteksi mengidap Bronchopneumonia Duplex. Apa itu?

Sebenarnya belum begitu penasaran, namun ketika makin banyak yang mengucapkan bela sungkawa, timbullah penasaran, lalu dibukalah TL dia, perempuan yang meninggal pukul 14.00 tadi siang. Dia, wanita itu, ternyata mengidap penyakit flek paru atau Bronchopneumonia Duplex, yang katanya akibat perokok pasif. Meski saya nggak pernah mengenal dia -bahkan tahu akun twitternya baru tadi siang- namun saya sangat berduka.

Peristiwa ini menjadi satu -lagi- bukti bahwa para perokok pasif sangat rentan terkena penyakit. Huh.. nggak adil, mereka yang bersenang-senang, tapi kami, yang bukan perokok, dapat penyakitnya. Katempuhan buntut maung.

Saya memang nggak merokok. Bahkan waktu kuliah saya sempat sangat benci pada para perokok, terutama yang suka merokok di bus atau angkot. Rasanya napas sangat sesak. Bau asap di mana-mana. Walau saya sudah batuk-batuk, bahkan memperlihatkan wajah protes, namun para perokok seperti tertutup hatinya, seperti Nurdin Halid yang tertutup hatinya dari teriakan orang yang menuntut dia turun tahta.

Pernah saya berdebat dengan saudara saya yang perokok aktif. Tapi ketika debat, pasti ujung-ujungnya masalah ekonomi. Mereka, para perokok, berdalih bahwa dengan merokok berarti ikut andil dalam menyejahterakan petani tembakau. Benarkah?

Sampai sekarang saya belum menemukan bukti ilmiah atas hipotesis itu. Jusrtu saya lihat, ternyata impor tembakau setiap tahun selalu naik. Nggak percaya? cek saja di situs www.bps.go.id. Bahkan katanya jumlah petani tembakau tiap tahun mengalami penurunan karena dianggap tidak menguntungkan. Katanya.

Tapi, dulu, waktu masih kecil, saya sempat terpikat untuk mencoba menghisap tuhan 9 cm itu. Pernah sekali -menurut ingatan pendek saya- saya mencoba hisap puntung rokok bekas bapak, waktu beliau nyuruh buang itu puntung rokok. Rasanya? Saya lupa, tapi perasaan nggak ada enak-enaknya.

Bahkan waktu SMP, saya pernah membayangkan merokok di kamar pas malam hari supaya nggak ketahuan. Untungnya saya nggak melakukan hal itu. Tapi waktu kelas 3, saya pernah coba merokok. Waktu itu sekolah ngadain acara study tour ke Jogja. Nah, waktu di bus, beberapa teman mulai diam-diam merokok, terutama yang duduk di belakang. Saya pun akhirnya tergoda. Sambil makan permen, saya pun coba merokok. Tapi cuma satu hisapan saja. Cukup. Rasanya? Nggak tahu, karena sambil makan permen mint. 😀

Sekarang, saya kerja dengan para perokok aktif. Bahkan para pecandu. Untung saja di kantor ada AC,s ehingga mereka tak bisa merokok sambil mengetik. Tapi tetap saja, di luar, saya masih terkena dampaknya. Ah semoga saja paru-paru saya masih bagus, dan tidak terkena flex paru. Amin.

Etapi, ada tulisan menarik tentang mitos propaganda rokok itu racun. baca saja di sini.

*turut berduka untuk tika*

0 Thoughts.

  1. Turut berduka untuk yang meninggal.

    Tapi buat yang lain, JANGAN TIBA-TIBA MENJADI BODOH. Sejauh saya tau, Bronchopneumonia disebabkan oleh bakteri… Mungkin benar, sebagai perokok pasif beliau jadi rentan terhadap penyakit itu… Tapi tolong berfikir lebih logis, bahwa ybs sudah terkena bakteri penyebab penyakit tersebut, dengan ataupun tanpa menjadi perokok pasif..

    Sifat rokok pasif hanyalah satu dari banyak racun lain yang mungkin jadi pemicu semakin parahnya penyakit tersebut, seperti halnya asap knalpot yang dihisap ybs setiap hari, polusi udara yang terhisap ybs setiap hari, makanan terkontaminasi bermacam zat kimia berbahaya yang dimakannya setiap hari, (mungkin) kurangnya ybs olahraga, dll. See? Salahkanlah rokok pasif, tapi bersikaplah fair dengan menyalahkan hal-hal lain tersebut. 🙂
    _________________

    ga akan didebat ah, pasti kalah hehe..
    yang pasti paman saya kena serangan jantung ketika suka merokok.
    sekarang udah berhenti total, jantungnya normal lagi dan nggak pernah kumat. padahal dia masih isep asap-asap berbahaya lain 😀
    *bangga dikomen seleb blog 😀*

  2. Klo industri rokok bisa nambah devisa negara, mengentaskan kemiskinan, sekalian aja bisnis prostitusi, Perjudian, Narkoba disemarakkan…. Apa bedanya tohhh?! Sama-sama melibatkan orang banyak… wong cilik…

    I HATE SMOKE & SMOKER !!!
    Coba klo udah ngerokok 5000 sehari, nda perlu makan deh…. Tapi kenyataannya tetep aja makan 3X sehari, nambah pula @@

    Alhamdulillah…. Suami bukan perokok… Tapi klo udah Pulkam… Welcoming ASAP ROKOK….

Ada komentar?

%d bloggers like this: