ide ali smeeh

ADA beberapa alasan ketika saya memutuskan untuk berhenti (dulu?) jadi pengajar. Karena saya memang bukan lulusan jurusan kependidikan, meski kampusnya katanya kampus para calon pendidik. Tapi bukan karena itu, toh banyak juga teman saya yang sukses jadi guru meski tak punya akta mengajar. Juga bukan karena gajinya kecil :D.

Tapi ada hal lain, salah satunya karena begitu besarnya tekanan yang mengharuskan saya bimbang, apakah harus mengikuti kata hati atau kata orang banyak. Entah karena saya memang masih hijau sedemikian sehingga nggak tahu dunia pendidikan di Indonesia seperti apa, atau memang kenyataannya seperti itu.

Apalagi pelajaran yang saya ampu memang katanya termasuk horor, matematika. Padahal, sebenarnya biasa saja, sama seperti pelajaran lain. Toh materinya masih dasar hihi. Entah kalau dibandingkan dengan fisika, pasti lebih horor fisika :D.

Sebagai orang yang ngaku-ngaku lulusan matematika murni (padahal sudah sedikit murtad), tentunya saya nggak terlalu kesulitan ketika mengajar. Ya.. namanya juga matersi SMP, masih bisa diatasi :D.

Tapi bukan itu masalahnya. Masalah mulai muncul ketika memasuki bulan Januari atau Februari. Biasanya, semua kalang kabut mempersiapkan diri untuk UN. Nah, matematika biasanya yang jadi ganjalan utama, karena nilai para murid yang nggak jauh dari angka Dji Sam Soe. Padahal, angka minimal lulus cukup “tinggi”, waktu itu minimal 5,5.

Dan tibalah UN. Segala cara dilakukan agar para murid tersayang bisa lulus. Di sinilah hati nurani *halah* seorang guru dipertaruhkan, apakah hendak mengikuti perintah yang di atas (bukan hanya kepala sekolah, tapi malah perintah langsung dari kadisdik atau bupati! wew) atau mengikuti kata hati. Dan *maafkan murid-muridku* waktu itu saya kalah.

Makanya, dengan berat hati, setelah kejadian itu, saya memilih nonaktif jadi guru. Saya merasa nggak kuat untuk membohongi diri sendiri. Bagaimana mau membangun bangsa, kalau yang mengajarnya sudah curang? Ah…

Ngomong-ngomong tentang UN, memang nggak adil sih. Murid saya yang sekolah jauh dari kota tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. Jangankan perlengkapan alat belajar *euh apa ya namanya?*, untuk buku saja masih sangat kurang.

Lalu, apa adil mereka disamaratakan dengan murid-murid kota yang punya fasilitas lengkap plus ditambah dengan berbagai macam les privat?

Makanya, meski menentang, saya nggak bisa menyalahkan ketika para guru mencoba berbagai cara agar anak didiknya lulus. Makanya, tolak UN! :D.

Tos heula ah ngabcotna. yuk.

0 Thoughts.

  1. hahaaa… pak guru… saya mah gmw banyak komen soal inih… lingkungan saya lingkungan guru.. walaupun saya bukan guru.. 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: