Cerita si DB, si doyan banget

goodreads.comMenurut Science Fiction Writers of America (SCWA), beda antara novella dan novel adalah dari banyaknya kata. Disebutkan bahwa novella adalah sebuah cerita yang memiliki jumlah kata antara 17.500 hingga 40 ribu kata. Sementara novel minimal memiliki 40 ribu kata.

Lalu, apa namanya jika sebuah buku cerita tebalnya hingga 1016 halaman? yang pasti tetap saja novel, namun novel yang sangaaaaat panjang. Itulah salah satu novel bikinan Remy Sylado yang judulnya ‘Hotel Prodeo’.

Saking panjangnya, sampai sekarang saya belum mampu menamatkannya. Ya, saking tebalnya, saya sampai harus berkali-kali datang ke rumah paman saya -yang punya buku itu- untuk meneruskan ‘hanca’ bacaan. Padahal, ceritanya yang saling sambung menyambung antarbab menjadikan saya sulit melepaskan buku itu. Memang terkesan hiperbola, tapi itu kenyataannya.

Padahal, cerita dalam novel itu sangat menarik, dan sangat membumi. Sebagai orang yang bukan bergelut dalam bidang sastra, saya masih dapat membayangkan dengan mudah bagaimana tabiat buruk bapak Kombes DB Dharsana, yang oleh penulis singkatan itu berarti ‘Doyang banget’, merujuk pada tabiat buruk Dharsana yang sangat doyang perempuan.

Bagaimana ceritanya? Seperti cerita-cerita fiksi karya Remy Sylado yang lain (cuma beberapa yang berhasil saya tamatkan, salah satunya Ca Bau Kan), alurnya sangat menarik. Menceritakan kisah Ibu Intan (nama lengkapnya sangat panjang, sampai 66 huruf) yang ditinggal mati suaminya, Andre, seorang diplomat Perancis, dan mempunyai anak semata wayang: Marcel, biasa dipanggil Marc.

Di kemudian hari, Ibu Intan menikah dengan Dharsana -sang lelaki buaya darat-, sahabat karib Mas Rachmat. Meski anggota ABRI keduanya merupakan anggota DPR RI ketika Soeharto di ujung kekuasannya. Sifat buruk DB inilah yang menjadi asal muasal cerita rumit sepanjang 1016 halaman itu. Lalu bagaimana akhir ceritanya? Saya belum tahu (sambil berusaha tidak membuka halaman terakhir buku ini).

Tentu saja ada yang menarik selain ceritanya yang memang menjelimet itu (meski sudah bisa ditebak arahnya, toh di bagian pembukaan sudah dijelaskan bahwa Marc akhirnya mati). Ini mengenai tabiat mereka yang katanya mewakili rakyat. Entah tu polisi, jaksa, hakim, pengacara, anggota hewan seperti si DB, dan tokoh-tokoh lainnya.

Sampai bab 39 (terakhir saya baca) saya disajikan bagaimana kelakuan buruk anggota hewan, dan juga oknum kepolisian seperti Anton. Anton misalnya, dengan mudah menjual narkoba hasil sitaan kepada pengedar. Apa ini khayalan belaka? Mungkin saja benar. Atau, ya.. kelakuan si DB. Bagaimana dengan kekuasaannya dia mampu merekayasa kasus yang menimpa anak tirinya. Terasa sangat Indonesia sekali, bukan?

Oh iya, di buku ini kita dapat menemukan apa bedanya ungkapan ‘terima kasih sebesar-besarnya’, ‘sebanyak-banyaknya’, ‘setinggi-tingginya’, atau ‘sedalam-dalamnya.

Semoga saya segera dapat menamatkan buku ini.

%d bloggers like this: