Lada

PERUT masih panas gara-gara makan keripik pedas buatan maicih. Sebuah produk kuliner yang tiba-tiba terkenal dan jadi fenomena di ranah dunia burung. Setelah setahun keluar, akhirnya hari ini saya kesampaian juga membelinya. ya saya memang bukan orang gahool.
Rasanya ternyata begitu, pedas alias lada. Tapi mirip beberapa produk keripik lainnya yang dijual Rp500 yang biasa saya beli di warung bibi saya. Tapi mungkin saja keripik yang Rp500 itu BS nya. Siapa tahu kan? 😀

Sebenarnya sudah lama saya ingin beli keripik bermerek maicih ini. Kalau tidak salah belum tentu benar, rasa penasaran mulai muncul saat teman maya di dunia burung mulai berkicau tentang si emak. Waktu itu baru segelintir orang yang bisa beli dan makan keripik itu. Penasaran, pernah datang ke Taman Flexi Dago demi menghampiri si penjual. Tapi ternyata sudah tidak ada. Setelah itu, si emak semakin terkenal, dan saya semakin malas untuk membelinya.

Sebenarnya bukan itu yang mau saya tulis. Tapi tentang persaingan antara maicih dan maicih lainnya. Sebuah persaingan yang saya rasa terkadang tidak sehat. Dan ternyata tidak semua orang tahu dengan masalah ini.

Saya pun baru tahu cerita di balik keripik ini sekitar 3-4 minggu lalu, ketika dengan senang hati ditugaskan untuk datang ke acara liputan maicih di Common room. Waktu pembawa acara menceritakan sejarah si emak, saya masih belum ngeh.. masih belum jelas, dia bicara apa.

Si owner yang teridentifikasi sebagai Bob itu mulai bercerita tentang awal mula berdirinya si emak. Panjang ceritanya, yang pasti sangat menarik. Dari sanalah saya mulai ngeh ternyata sekarang ada dua versi si emak. yang satu pakai bungkus kertas dan memiliki izin dari Dinkes plus logo halal, sementara yang lain masih berbungkus plastik saja tanpa (atau belum?) logo dari MUI maupun Dinkes. Oiya, logonya juga beda, yang satu memakai logo seorang emak dari pinggir, sementara yang satu tampak wajah si emak dari depan.

Sekarang, dua produk yang sama-sama menjual makanan pedas dan membuat panas perut itu terus bersaing. yang satu dengan gencar menggelar dagangan di atas mobil, sementara yang satunya lagi lebih adem. Yang satu memborbardir linimassa dunia burung dengan lokasi gentayangan si emak, yang satu lagi masih adem ayem. Yang satu punya stus .co.id, sementara yang satu .com.

Lalu mana yang asli? Sampai saat ini, saya rasa dua-duanya asli. Tak ada yang palsu. Tidak ada fotokopian. Tinggal pilih, beli yang sudah ada logo halalnya atau tidak. hehe

#masihmerasakarasapanasdiperut
#inibukaniklan

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: