Salah Diagnosa

Hampir 9 (atau 10?) tahun saya pakai kacamata. Sudah lama juga, sejak kelas 2 SMA. Pertama pakai kacamata model bulat kayak heri poter, tapi jadi aneh heuheu… Harusnya sejak SMP saya pakai kacamata, tapi kerana ketiadaan biaya dan juga dianggap belum merasa perlu jadilah saya baru pakai kaca saat SMA, itu pun kelas 2.

Padahal sejak SMP saya sudah butuh banget yang namanya kacamata. Sebelum pake kacamata, setiap guru nulis di papan tulis, saya pasti bingung. Nulisnya gimana? Jadilah saya suka niron catatan ke teman sebangku. Bahkan selama 3 tahun di SMP, hampir setiap hari saya niron catatan ke teman, termasuk saat ulangan matematika 😀 (makasih Us!).

Nah saat kelas 1 SMA, aksi saya itu ketahuan sama guru Fisika. Untung bukan pas ulangan, tapi pas lagi nulis jadi aman hehe.. Singkat cerita jadilah saya menjadi jamaah bermata empat. waktu itu minus saya sudah cukup gede, minus 2.

Sejak pakai kacamata pada 2001-2002 hingga sekarang sudah beberapa kali ganti kacamata. Selain bosen modelnya, saya ganti kacamata karena minusnya terus bertambah (Walaupun modelnya tetep aja yang mirip-mirip karena itu yang paling murah hehe).

Terakhir ganti model pas sudah lulus kuliah, sekitar 2008-2009, lupa tepatnya. Seperti waktu pertama beli kacamata, saya ganti lensa sekaligus periksa minus langsung di toko optik, tepatnya di toko N*co di Jalan Moh Toha. Entah kenapa saya beli kaca ke sana, mungkin karena waktu pertama pun belinya di sana.

Waktu periksa terakhir itu, saya kaget, karena tiba-tiba saja minus saya bertambah drastis, jadi minus 7. Sebelumnya, minus saya ‘cuma’ 5. Ya sudah, jadilah saya pakai kacamata dengan lensa yang semakin tebal :(.

Seperti waktu pertama pakai kacamata, pasti suka pusing. Saya pikir ini biasa, toh waktu pertama juga suka begitu. Tapi bisanya nggak lama, sebelum mata beradaptasi dengan lensa baru.

Tapi yang terakhir ini lain, pusingnya lumayan lama. malah saya sering suka ingin muntah. Bahkan sampai hampir 3 tahun pakai kacamata ini, pusing itu suka datang. Yang suka pakai kacamata atau yang pernah pakai teropong pasti tahu bagaimana rasa pusingnya. Tapi sampai saat itu saya nggak pikir apa-apa, selain mengira kalau minus saya nambah lagi.

Nah saat bulan puasa kemarin, saya iseng main ke JL ABC. Bagi yang suka beli frame kacamata, tentu tahu dengan kawasan ini, tempat mencari frame kualitas KW dengan harga miring. Singkat kata saya beli frame KW merk Levi’s seharga sekiar 100 ribuan. Tapi karena belum punya uang buat beli lensa, sampai Lebaran tiba frame itu belum saya pakai.

Jumat kemarin, karena tidak ada agenda jelas dari Bandung#1, akhirnya saya iseng ke RS mata Cicendo. Sudah lama sebenarnya saya ingin periksa bener ke dokter mata, nggak hanya mengandalkan hasil pemeriksaan petugas optik. Sayang, hampir setiap hari saya sibuk atau pura-pura sibuk, sehingga nggak sempat ke Jl Cicendo. Selain itu, teman saya yang kerja di sana menyarankan saya untuk periksanya akhir September. “Suka penuh kalau habis lebaran,” kata dia. Ya sudah saya manut saja.

Saya datang ke rumah sakit sekitar pukul 10.40 dan dapat antrian ke-143. Karena ‘cuma’ periksa minus, saya pikir nggak akan lama. Benar saja, sekitar puku 11.00 saya sudah dipanggil dan daftar di loket, bayar Rp20 ribu. Setelah itu saya naik ke lantai 2, ke ruang refraksi. Di sini nunggu lagi, sekitar 15 menitan. Akhirnya nama saya dipanggil juga oleh ibu dokter.

Pertama masuk ruangan, saya mendapat pemeriksaan lewat komputer (nggak tahu namanya). yang pasti mata kita dianalisa lewat monitor, sementara kita bakal disuguhkan gambar syur rumah (yang pernah tes mata pasti tahu). tes itu nggak lama, kurang dari 5 menit. Saya pikir setelah itu selesai, ternyata belum. Saya dipanggil lagi untuk pemeriksaan manual, yang disuruh membaca satu persatu huruf.

Nah ternyata tes ini lumayan lama. Beberapa kali pemeriksa mengganti lensa untuk memastikan berapa minus saya. Beberapa kali saya harus ganti lensa. setelah disuruh mengeja huruf, saya pun disuruh melihat garis. Kalau periksa di optik, saya belum pernah tes ini. Apa ini tes silindris juga ya?

Di antara pasien lain, pemeriksaan manual saya sepertinya paling lama. Bahkan setelah selesai tes pun saya harus menunggu lama, padahal adzan Jumatan sudah berkumandang. Tapi mau gimana lagi, tesnya belum selesai. Saya lihat si bapak pemeriksa seperti konsultasi dengan hasil pengetesan saya. Apa ada yang salah dengan mata saya?

Jawabannya terjawab ketika masuk ke periksaan terakhir. Kalau nggak salah oleh dokter Monita. Dokter muda ini mengabarkan kalau kacamata yang selama 3 tahun saya pakai itu nggak cocok dengan mata saya. Dia sempat tanya saya dulu periksa mata di mana,, ya saya jawab saja di optik.

Menurut bu dokter, minus mata saya ‘cuma’ sekitar 5, sementara lensa kacamata saya minusnya 8! Ya, DELAPAN. Gila banget kan? Pantas saja selama ini saya suka pusing kalau pakai kacamata. Bagaimana nggak pusing, saya pakai kacamata yang nggak cocok. Untung saja minusnya nggak jauh beda, cuma nambah 0,5.

Sejak tahu itu saya jadi nggak percaya lagi sama pemeriksaan di optik. Selain nggak lengkap, saya jadi takut kalau hasilnya nggak tepat. Mending ke rumah sakit saja deh, walaupun harus bayar (dan kadang mahal kalau harus beli vitamin cendoberry :D).

Ini ceritaku, bagaimana dengan kamu? 😀

5 Thoughts.

  1. parah tah tukang optik na han, mending dikasih bata aja.
    perlu berapa pasukan :ngakak
    makanya jgn nonton blue pelm wae, jadi mines nya nambah terusss…

  2. Wah… ga kebayang gimana pusingnya tuuu…
    Kalo gitu, besok saya periksanya langsung ke dokter aja. Lebih terpercaya.
    Sekarang kacamatanya sudah diganti lagikah?

  3. Aku pake kacamata kelas 6 SD…huaa udah lamaa bangeet 🙁
    udah hampir 3tahun terakhir ga mau periksa mata, takut. Padahal, jarak pandang ke laptop dari tempat duduk kalo ga pake kacamata udah ga keliatan 🙁

  4. Gw baru cek mata nih… sbb malam liat lampu hijau kaya ada dua gitu… terus suka pusing smpe mau muntah dan bawaan klo kondisi pusing gini solusiny dibawa tidur… belain ke dktr sp.m, konsul aja kena 350 sm obat tetes. Trus lensany doank 400rb… waaaa pdhl sy frame sndiri… mau nangis dlm keadaan bokek. Pdhl dikira gk smpe 500rb… tapi ya sdhlh… mdh2an mata gw lbh baik.

Ada komentar?

%d bloggers like this: