‘Korupsi’ kecil di Samsat

[S]ebenarnya ini postingan lanjutan dari cerita di sini. Masih dalam upaya menjadi warga negara yang baik yang membayar pajaknya tepat waktu. Kali ini, sesuai petunjuk panjenengan petugas Samsat Rancaekek, saya harus ke Soreang. Tapi soreang itu luas, dan saya nggak begitu kenal daerahnya. Tapi bukan ini yang akan saya ceritakan.

Setelah sukses nyasar beberapa kali, singkat cerita sampailah saya tiba di Samsat Soreang. Tidak seperti Samsat di Pajajaran dan Soekarno Hatta yang ramai, di sini cenderung sepi. Baguslah, jadi saya tidak usah ngantri lama.

Setelah menyerahkan berkas berupa STNK dan KTP ke petugas, saya duduk di kursi tunggu, seperti yang lain. Meski sepi, tetap saja butuh waktu cukup lama sampai saya dipanggil. Sekitar 30 menit, baru nama saya dipanggil oleh teteh-teteh petugas Samsat yang imut :D.

Karena saya bayar sekaligus dua tahun, saya baru tahu ternyata prosesnya jadi dua kali. Pertama saya dipanggil untuk pembayaran pajak tahun 2010. Kata si teteh petugas, saya kena pajak Rp159 ribu. Ok, saya bayar sejumlah itu meski lembaran pajaknya belum dikasih. Setelah itu, saya nunggu lagi.

Selang beberapa menit, nama saya kembali dipanggil, kali ini ternyata nilai pajaknya lebih tinggi :(. Saya sempat kagegt, karena si teteh bilang saya harus bayar Rp230 ribu. Wow gede banget. Untunglah saya bawa uang agak banyak, jadi nggak harus malu karena kurang uangnya :D.

Setelah beres bayar pajak, beberapa menit kemudian berkas yang diserahkan tadi dikembalikan. Ditambah dengan bukti pajak sebanyak dua lembar. Di sini masalahnya dimulai.

Waktu saya lihat, ternyata nilai pajak tahun 2010 itu besarnya Rp158.500. Sementara untuk 2012 sebesar Rp229.800. Artinya ada selisih sebesar Rp700.

Untuk zaman sekarang, sebenarnya nilai segitu kecil. Untuk bayar parkir saja sudah nggak cukup :D. Tapi masalahnya ini institusi negara, yang beberapa kantornya sudah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008. Katanya ISO 9001 merupakan standar internasional yang mengatur tentang sistem manajemen mutu (Quality Management System).

Jadi sudah seharusnya pelayanannya pun setransparan mungkin. Termasuk dalam pengembalian yang jumlahnya kecil. Di supermarket saja, kalau belanja ada kembalian kurang dari Rp500, mereka berusaha untuk memberi kembaliannya. Meski kadang hanya dengan permen, tapi itu merupakan wujud perhatian mereka terhadap yang ‘remeh-remeh’ ini. Apalagi ini, institusi yang dibiayai dari pajak rakyatnya :D.

Misalnya saja dalam sehari pengunjung Samsat ada 200 orang. Jika kita anggap semua pengunjung itu ada kembalian sebesar Rp700, dalam sehari Samsat dapat ‘sisa’ uang kembalian sebesar Rp140.000. Kalau seminggu, berarti sekitar Rp700 ribu. Kalau sebulan? setahun? Gede juga ya hehe..

Saya bukan mau menjelek-jelekan Samsat, apalagi digeneralisasi semua kantor Samsat seperti ini. Untuk lembaga yang beberapa di antaranya sudah memperoleh sertifikat ISO, sudah seharusnya semua aspek layanan diperhatikan, termasuk yang dianggap remeh. Betul tidak? πŸ˜€

Di luar masalah uang kembalian ini, saya rasa sistemnya sudah cukup baik. Saya nggak harus nunggu lama untuk dilayani, juga nggak perlu capek-capek ke Rancaekek negeri nun jauh di sana, demi menjadi warga negara yang baik. Tapi ya itu tadi, kalau bisa mah, masalah ini juga diperhatikan. πŸ˜€

Oh iya, ternyata nilai pajak tahun ini lebih besar, karena sekarang ada komponen lain, yakni SWDKLJJ atau Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (sumbangan kok wajib? :D). Untuk yang saya, besarnya Rp102.000. Jumlah pajak akan semakin besar kalau kita punya kendaraan lebih dari dua, karena pajak progresif sudah mulai diterapkan. So, silakan siap-siap merogoh kocek lebih dalam :mrgreen:.

0 Thoughts.

  1. kamari rerencangan nembe sidang di soreang, ditilangna gara2 teu make helm di pengkolan cileunyi nu bade ka tol…… πŸ˜€
    sae kang tulisana………….

  2. Bener leuwih mahal euy. Karek bieu mayar pajak 5 tahunan, eh pas rek mayar duitna kurang 70 rebu. Era, pan? (tapi faktor mahalna mah meureun kusabab telat 2 bulan, hehehe).

    *Korupsi kecil harus diberantas. Kusaha? Ku nagara, ateuh!

Ada komentar?

%d bloggers like this: