Oleh-oleh BlackBerry Casual Meetup

BERAWAL dari saling mensyen di Twitter antara Dieka, Dichi, Dani dan Asep sang freelancer 50 juta per bulan. Tadinya mau nodong Dieka yang katanya ulang tahun pada 1 Maret kemarin. Tapi berhubung makan-makannya bakal malam, akhirnya Dieka usul mending kumpul di acara BlackBerry Casual Meetup saja yang digelar Sabtu (2/3).

Sabtu pagi, berangkatlah saya ke acara itu dengan nebeng motornya dieka. Jam 9 pagi, saya sudah tiba di TKP, tapi ternyata panitianya masih siap-siap, jadi belum ada registrasi. Padahal kita sengaja datang lebih pagi supaya dapat makan siang GRATIS! Di TKP sudah ada beberapa peserta yang nggak saya kenal. Sementara Dani dan Dichi masih di jalan. Sementara Asep sang freelancer 50 juta per bulan ternyata baru bangun. Padahal dia salah satu pembicara di acara itu.

Untunglah sekitar jam 10-an panitia mulai meregistrasi peserta, dan akhirnya saya dapat vucher makan siang gratis (dan ternyata walaupun datang telat juga pasti dapat makan siang gratis :mrgreen: ).

Menurut jadwal, seharusnya acara dimulai jam 10, tapi berhubung ini di Indonesia, berarti acara bakal ngaret, ya sekitar setengah jam lah. Sekitar jam 10.30 dimulailah acara dengan dibuka oleh MC tyohan dari Fowab. Lalu ada pembukaan dari om IDBerry juga.

Acara ini pun ternyata didukung penuh oleh RIM. Buktinya Mr Jason, Director apa gitu di RIM menyempatkan diri datang dari Jakarta. Dalam sambutannya, Pak jason mengatakan pertumbuhan BlackBerry di Indonesia sangat pesat. Namun belum semua pengguna BB memaksimalkan smartphone mereka. Kelanjutannya saya lupa karena pidatonya dalam bahasa Inggris.

Selain itu, Pak Jason juga membocorkan informasi bahwa RIM akan bekerja sama dengan ITB dengan membentuk BlackBerry Inovation Center. Apa seperti Microsoft Innovation Center ya? :D. Tapi waktu itu Pak Jason meminta peserta jangan dulu mengetwit tentang informasi itu sebelum sore hari. Ternyata eh ternyata Pak Jason ke Bandung memang untuk membahas kerja sama itu dengan ITB.

Lalu dimulailah acara. Materi pertama diisi oleh @almaujudy yang saya nggak tahu nama aslinya dan om Idberry. Dia berbagi cerita tentang Better-B. Dia pun mengatakan bahwa potensi pasar aplikasi mobile sangat tinggi.

Materi selanjutnya diisi oleh Asep sang freelancer. Dia menceritakan tentang proyek isengnya yang menjadi serius, Travelin7, sebuah aplikasi yang memberi informasi mengenai kuliner di beberapa kota di Indonesia. Kata Asep, aplikasi itu berawal dari sebuah blog yang isinya membahas mengenai destinasi-destinasi wisata yang jarang dibahas oleh media atau blog mainstream. Pada perkembangannya, dari blog itu lalu dibuat aplikasi di PlayBook dengan nama Culinary Guide.

Asep yang masih jomblo itu mengatakan aplikasi itu dibuat dengan Webworks, jadi katanya bagi yang biasa bikin web, membuat aplikasi dengan Webworks nggak akan mendapat banyak kesulitan. Benarkah? entahlah, kan saya mah bukan prohremer.

Oh iya, di akhir presentasi, ternyata Asep dapat Playbook loh.. *makan-makan sep*. Ohh iya lagi, ada kutipan bagus dari (temennya) Asep:

“Bikin app pake webworks itu ga serumit cari pacar” – @bepituLaz #DevIDBdg”

Setelah rehat makan dan salat, acara dilanjut lagi, dengan menghadirkan Arisetyo yang menjelaskan lebih teknis tentang develop aplikasi di PlayBook. Banyak materi yang disampaikan, tapi sayang, karena kombinasi hari yang sudah siang dan habis makan, saya nggak terlalu memperhatikan. Bahkan sesekali ketiduran :D.

Sekitar jam 3 acara kembali dilanjutkan. Tapi karena saya adalah seorang buruh yang harus bekerja di Sabtu malam, akhirnya saya mesti cabut dari TKP. Sebenarnya sayang karena acara masih cukup panjang *sepertinya*. Tapi mau bagaimana lagi, karena hari mau hujan, seentara saya pakai sepeda dan nggak bawa jas hujan, jadi terpaksa duluan.

Ya sudah, segitu saja ceritanya. Kalau mau cerita yang lebih resmi, mending baca detikinet saja :D.

[adsense_id=4]

0 Thoughts.

  1. Pingback: 18 kilometer pertama | cacatan kecil

Ada komentar?

%d bloggers like this: