Gowes Lagi

LAGI-LAGI nekat. Dengan sepeda. Setelah mencoba gowes kantor rumah yang jaraknya “hanya” 18 kilometer, jadi ingin coba bagaimana rasanya menjadi seperti para aktivis GKK alias gowes ke kantor (atau kampus) :D. Maka pada Kamis (22/3/2012) yang merupakan hari libur Nyepi diputuskan untuk mencoba tes trek rumah-kampus. Tapi jauh (╯‵□′)╯︵┴─┴

Dari hasil perhitungan Google, jarak antara rumah ke kampus itu sekitar 20-22 kilometer. Artinya kalau bolak-balik bsia sampai 40 km. Jauh? Iya lah. Pakai motor aja bisa satu jam kalau nggak macet parah. Tapi karena penasaran, jadilah saya coba saja. Toh sebelumnya saya sudah latihan, hampir setiap hari gows keliling kampung, sekitar 5-6 kilometer.

Sebelum berangkat, saya coba cek sepeda, ternyata dalam keadaan baik. Saya siapkan juga lampu sepeda dan tak lupa sebotol air minum. Lampu memang sengaja dibawa, karena rencananya mau coba pulang malam, tapi dudukan lampunya hilang -__-. Helm? sayangnya saya belum punya.. Harganya mahal, jadi belum mampu beli.

Sekitar jam 9 (lebih sedikit) saya berangkat. Saya pikir jam segitu masih belum terlalu siang dan jalanan sudah nggakk terlalu macet. Tapi hari itu cuaca sangat cerah, matahari jarang tertutup awan. alhasil sepanjang jalan saya kepanasan. Apalagi saya nggak pakai topi dan kacamata hitam. Jadilah saya serasa dipanggang atau dioven. Padahal itu baru jam 9, apalagi kalau siang ya?

Supaya nggak terlalu diganggu dengan lalu lintas, saya coba lewat jalur Cibaduyut. Jalur ini memang sepi, tapi jalannya HANCUR banget. Saya heran kenapa bupati obarland junior masih bisa bertahan di kursi kekuasaan, sementara ngurus jalan saja nggak bisa.. Ups..

Selain jalannya yang hancur, ternyata jalur ini sangat kurang pohonnya. Alhasil makin panas saja perasaan. Oh, pa bupati Dadang Naser yeah, semoga anda segera sadar bahwa lingkungan kawasan Kabupaten Bandung sudah tidak hijau dan asri lagi!

Untunglah jalur ini tidak ada nanjaknya, jadi masih bisa gowes santai walaupun kepanasan. Seperti waktu dulu, saya berusaha gowes sesantai mungkin, nggak ada kebut-kebutan. Saya nggak mau di tengah jalan tepar karena kecapean 😀

Karena santai, saya baru sampai ke daerah kota sekitar jam 10.30-an, ketika udara semakin panas. Sudah sampai? tentu saja belum, karena masih jauh dari tujuan semula: kampus.

Waktu sampai di perempatan Leuwipanjang, sempat bingung, apa mau lewat jalur Moh. Toha atau lewat Leuwipanjang. Tapi karena susah belok (masih takut keserempet hehe) akhirnya mending lurus saja, terus lewat jalan kecil yang tembus ke jalan Nyingseret-Astanaanyar. Dari sana belok ke Jalan Ciateul dan belok kiri ke terminal Kebonkalapa. Lewat jalur ini lumayan sepi dan teduh karena banyak pohon gede.

Dari kebon kalapa belok ke jalan Dewi Sartika, terus ke Balonggede, belakang kediaman Dada Rosada Yeaah. Tadinya mau lurus, tapi karena banyak mobil, jadi mending cari jalan sepi saja. Dari sana nyebrang ke depan Alun-alun. Terpaksa naik sepeda di trotoar karena melawan arah, takut ketabrak :D. Pas mau nyebrang Asia Afrika awalnya bingung, mau lewat jembatan penyeberangan atau nerobos? Karena susah kalau naik jembatan, akhirnya nekat saja nuntut si sepeda sambil nyebrang. Salah sih, tapi mau bagaimana lagi? (alesan :D).

Memasuki Braga, saya pilih kembali gowes di trotoar, karena jalannya tahu sendiri kan hancur banget. Rasanya? seperti di eropa euy hihi.. Pas di depan Bank Indonesia saya istirahat dulu. Pas lihat jam, sudah jam 11 siang ternyata. Sambil istirahat, hampir lupa untuk foto-foto dulu :D.

Sapedah Gaya

Dari Braga, terus masuk ke Wastukancana dan belok di Jalan Riau, terus belok lagi ke jalan Purnawarman belakang hotel *lupa namanya*. Tadinya mau belok ke kiri, ke Tamansari, tapi karena di sana jalanan cukup nanjak -sementara kaki sudah mulai pegal- akhirnya belok kanan dan masuk ke jalan dago. Ternyata baru terasa kalau Jalan dago pun sebenarnya nanjak walau sudutnya kecil. Halah pake sudut segala. Dan sekitar jam 11.20-an akhirnya saya tiba di lab besmen tercinta. Akhirnya sampai jugaaa… Terus pulangnya?

Itulah yang jadi pikiran saya ketika di lab. Masih bingung, apa mau nekat lagi balik pakai sepeda atau mending nginep dulu? Karena ingin coba sesepedahan malam, saya putuskan nekat saja, pulang. Maka sekitar pukul 7.51, saya putuskan gowes lagi. Tentunya sebelumnya sudah saya siapkan lampu belakang yang bisa kelap kelip. Tadinya mau pasang lampu depan juga, tapi karena dudukannya hilang, akhirnya nggak jadi dipasang 🙁

Berbeda dengan jalur berangkat, untuk pulang saya memilih lewat jalur normal. Artinya lewat Moh. Toha-Dayeuhkolot-Banjaran. Saya nggak berani lewat jalur Cibaduyut, karena takutnya jalannya sepi hehe..

Ternyata sesepedahan di malam hari itu enak juga. Tidak seperti naik motor yang selalu kedinginan karena ngebut, gowes pake sepeda cukup nyaman. Udara malam yang dingin cukup membantu ketika bada sudah mulai keringat. Gowes pun rasanya nggak terlalu berat. Buktinya, dua botol air minum yang saya persiapkan nggak saya habiskan.

Selain itu ternyata enak juga lihat-lihat bangunan heritage Bandung di malam hari sambil sesepedahan. Jadi bsia lebih lama lihat bangunannya hehe… Tapi harus tetap hati-hati karena kadang pemakai sepeda suka nggak kellihatan kalau malam. Untunglah lampu cukup membantu.

Berapa lama waktu sampai ke rumah? ternyata sama saja. Saya sampai ke rumah sekitar jam 9.20-an. Seharusnya bisa lebih cepat kalau saya nggak istirahat dulu di tukang Bubur Kacang Madura :D.

Ya sudah, sekian saja laporan nekat gowes kali ini. Semoga lain kali saya bisa nekat lagi, gowes ke Pangalengan 😀

 

Lihat Petunjuk arah berjalan ke Jalan Ganeca di peta yang lebih besar

[adsense_id=4]

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: