Gasibu-pindah-ke-braga Festival

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan September, Pemkot Bandung mengadakan festival bertajuk Braga Festival. Namanya festival, sepanjang jalan Braga tentu harusnya ramai oleh berbagai macam kegiatan atau pergelaran kesenian. Harusnya.

Tahun lalu, hampir setiap hari saya ke Bragafestival. Tentu bukan hanya sekadar datang, karena waktu itu nyambi sambil liputan :D. Tapi acaranya cukup keren, seperti pertunjukkan musik karinding dan blues, pembukaannya juga cukup meriah.

Nah, tahun ini acara Braga Festival pun kembali digelar. Karena kali ini nggak dibebani harus liputan, saya hanya sempat datang ke BragaFestival pada hari kedua, yaitu kemarin alias SAbtu (29/9/2012). Itu pun hanya sore hari, karena siang hari sibuk instal ulang laptop teman yang ternyata nggak bisa diinstal.

Sekitar jam 4 sore saya berangkat dari daerah Dipati Ukur menuju Braga. Memasuki perempatan Jalan Braga-Perintis Kemerdekaan, jalan sudah padat alias macet. Ratusan motor sudah mulai diparkir di sekitar seberang Landmark Braga. Semakin dekat jalan Braga, jalan semakin macet. Untunglah masih bisa parkir motor di dekat TKP.

Sebenarnya saya datang ke Braga bukan sekadar ingin nonton, karena sudah janjian dengan anak Isola. Ceritanya mau pinjam beberapa buku. Janjian di dekat Bebek Garang, karena katanya dia jaga stand di sana.

Tapi sayang, ternyata di perempatan Braga-Lembong, ada panggung cukup besar yang sedang menggelar musik underground. Jalanan jadi macet. ABG-ABG berkaos hitam tampak bergerombol. Juga merokok. Entah sambil mabuk atau nggak. Gahul banget pokoknya. Mereka berkerumun dekat panggung. Sementara di panggung, band yang vokalisnya cewek sedang tampil. berkaus putih, perempuan itu nyanyi -yang bagi saya yang nggak suka musik genre itu- dengan suara nggak jelas. Ngajorowok teu puguh.

Hari makin sore, nggak ada jalan lain untuk masuk ke Bragafestival selain menerobos ABG-ABG gahul itu. Meski kepanasan, saya paksakan juga. Untunglah bisa menerobos mereka. Selesai? Ternyata belum. Di sepanjang jalan Braga, ribuan orang tampak tumplek hilir mudik seperti thawaf padahal bukan. Apalagi di dekat gedung (bekas) Gas Negara, ada panggung lain. Di sana, komunitas OI sedang menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals. Suaranya bagus, sangat mirip dengan iwan Flas, dan tentu saja panggung ini pun dikerumuni ratusan penonton.

Bragafestival

Karena niat saya bukan ke panggung itu, saya kembali harus menerobos penonton itu. Bersama puluhan pengunjung yang sedang thawaf padahal bukan, saya coba tembus barikade penonton. Kali ini lebih sulit, meski akhirnya bisa lolos juga.

Sampai di pertigaan Jalan kejaksaan, ternyata saya nggak menemukan tersangka yang dimaksud. Saya SMS lah dia. ternyata dia sedang di Galeri Rumah Seni Ropih. Setelah lama saling tunggu -dan sempat beli sosis yang harganya 10 rebu sama kakak yang ternyata juga datang ke sana- akhirnya kami ketemu. Yuni namanya. Bersama anak-anak Isola lainnya, kami dibawa ke dalam galeri.

Saya pikir galeri Rumah Seni Ropih itu sempit. Ternyata tidak, setelah masuk, di dalam ada ruangan ke lantai bawah. Basement. lantai pertama nggak ada isinya, hanya ditutupi kain putih. Kami terus turun lagi ke lantai paling bawah. Di sana, ternyata ada ruangan terbuka yang cukup nyaman, jauh dari kebisingan jalan Braga. Kawasan yang tepat di pinggir sungai itu sepertinya sebuah tempat pementasan seni, karena ada sebuah bangunan dari bambu tempat pengunjung duduk. Nyaman, tentu saja.

Di sini, kami bertukar buku. Saya dapat 4 buku (3 buku-buku SGA, satu buku tentang Kretek), dan saya pinjami 1 buku yang disusun Mbak Mardiyah. jelang Magrib, saya pamitan.

Eh kok jadi cerita rampok buku ya.. Kembali ke masalah, bagaimana dengan BragaFestivalnya? Sependek pengamatan saya selama menembus kerumunan dari ujung perempatan Braga-lembong hingga Jalan kejaksaan, festival kali ini sepertinya jauh dari harapan. Bukan festival yang saya lihat, tapi cuma sekumpulan orang lalu lalang di tengah jalan -yang dibatasi dengan pameran foto barudak WFB- sementara di trotoar, ratusan pedagang menjajakan dagangannya. Alih-alih festival rakyat, yang saya lihat malah seperti suasana gasibu saat Minggu pagi yang pindah tempat ke Braga. Suasana festivalnya kurang terasa.

Saya nggak melihat festival sampai ujung Museum KAA karena harus segera ke kantor, tapi dari sejumlah orang yang sempat datang pada festival tahun lalu, Bragafestival tahun ini memang di bawah ekspektasi pengunjung alias cukup mengecewakan. Teman saya yang meliput pas malam pembukaan pun mengatakan hal serupa, katanya lebih ramai tahun lalu. Entah benar atau tidak, bagaimana menurut kamu?

cacatan: Beberapa hari sebelumnya, sejumlah media memberitakan festival ini dengan menyingkatnya menjadi Brafest. Tapi kok artinya jadi beda ya, apa ini festival bra? halah

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: