23 tahun

[A]KHIRNYA ke kampus lagi. Bukan, bukan kampus gajah, tapi kampus yang ada di utara Bandung yang punya pemandangan indah kalau kamu naik tower masjidnya.

Ya, walaupun sudah meninggalkan kampus tercinta 4 tahun lalu, selalu ada alasan untuk ke sana lagi termasuk cari jodoh. Apa karena saya terlalu lama kuliah di sana? Ah padahal cuma 5 tahun saja. 

Jadi, di hari kiamat bangsa Maya itu, teman-teman saya di Isola mengadakan syukuran. Bukan, bukan syukuran nggak jadi kiamat Maya. Tapi syukuran milangkala UPM yang ke-23. Sudah lama juga ternyata Unit satu-satunya di UPI ini.

Kembali ke kampus, kembali ke sekre R.20 -yang sekarang jadi R.02- membawa ingatan ke masa 2006-2008. Ketika saya yang sudah tingkat tiga dengan pedenya daftar di unit kegiatan mahasiswa ini.

Saya lupa bulan apa, yang pasti awal-awal 2006 saya nekat gabung ke UPM. Sebenarnya sudah sejak tingkat 1 ingin masuk ke sini, hanya saja karena banyak halangan rintangan dan alasan, baru tiga tahun kemudian memberanikan diri daftar.

Juni 2006, ketika sedang ramai Piala Eropa, menjadi awal masuk secara resmi di organisasi ini. Malam yang tak terlupakan, yang mengingatkan bahwa tindakan seseorang jangan hanya karena ego pribadi -ya walaupun sebenarnya pada akhirnya tetap menjadi ego pribadi ribet.

Selama di UPM, banyak ilmu yang saya dapat, bahkan sampai sekarang terpakai di kerjaan hehe. Mulai dari hal remeh seperti kesalahan dasar menulis (sekadar bukan sekedar), sampai yang sebelumnya nggak terbayang bisa mengalaminya (cari kertas murah di Pagarsih, cari tempat cetak murah tapi bagus, buat plat bagus tapi murah di Polar Jl Pungkur, kenal sama orang percetakan di Sinyo dll).

Selama itu pula beberapa kali terlibat melahirkan tabloid Isola Pos, dan yang pertama menerbitkan majalah Isola pos. Saat tu, saya baru tahu bahwa menerbitkan sebuah media itu nggak mudah. Walau pun berembel-embel mahasiswa, tapi yang disajikan itu sama: fakta. Artinya, kami nggak bisa sembarangan nulis. Tuduh sana tuduh sini tanpa ada verifikasi dan fakta yang jelas.

Perubahan format Isola pun tak kalah menarik. Banyak alasan yang mendasarinya, dan juga perdebatan di dalamnya. Bahwa majalah dengan ukuran yang lebih kecil akan tampak lebih eyecatching, bahwa format yang sebelumnya terlalu besar dll.

Majalah edisi pertama

Majalah edisi pertama. Siapakah model majalah di atas? :D

Tak hanya kenangan manis tentu ketika memutuskan hidup di sini. Tak jarang terjadi perselisihan, juga pertengkaran. Yang terbesar, ketika adanya pertengkaran antara angkatan bawah dengan pengurus. Kalau didiamkan, mungkin bisa terjadi perkelahian hehe.. Juga ketika ternyata isu yang diangkat membuat pihak rektorat bak kebakaran jenggot (kalau nggak salah pas edisi Dilema Sebuah Nama).

Waktu 2 tahun memang sangat singkat bagi saya. tapi ya pengalaman itu menjadi tak terlupakan, hingga saat ini. Dirgahayu Isola Pos! Dirgahayu UPM! Tetap berkobar dan semakin besar! hehe

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: