Film yang (mungkin) membuat (saya) trauma

AKHIRNYA nonton lagi. Di bioskop tentunya. Tentu saja bukan nonton bioskop seperti kata dosen saya dulu. Ini beneran nonton film di bioskop.

Apa? nonton film di akhir bulan di tengah banyaknya yang harus dibayar dan ketika posisi saldo di bank cuma seratus ribu? Iya benar. Dan untuk itu, salahkan saja Andra dan Mega yang mengajak saya membuang 30 rebu demi sebuah kursi di bioskop. haha.

Film Flight dipilih sebagai film yang kami tonton. Awalnya mau nonton di Braga, tapi karena katanya bioskop Braga menjelang tengah malam itu menakutkan, akhirnya pindah tempat ke Ciwok. Pukul 20.45 masuklah kami ke bioskop 5 yang ternyata tidak penuh itu.

Film Flight seperti apa? Saya taya ke Andra yang ngajak saya. Dengan sombongnya (haha) dia nggak mau jawab. Gugling katanya. Tapi saya malas. Masa cuma gitu aja harus gugling (padahal sebenarnya karena modemnya ga jalan. haha). Akhirnya saya tak sempat gugling. Dan film Flight pun dimulai.

Di awal film, diceritakan sang pilot (Denzel Washington) yang merupakan pilot kawakan menerbangkan pesawat SouthJet227 menuju Atlanta. Di kemudian hari pesawat ini dinyatakan tidak layak terbang karena ada bagian yang rusak. Bersama sang kopilot, dia menerbangkan pesawat yang membawa 102 penumpang itu di tengah hujan badai. Dengan terampil, akhirnya kapten Whip berhasil melewati badai dan membawa pesawat di atas awan yang sedang bergemuruh, meski membuat seluruh penumpang dan awak tegang dengan situasi yang menyeramkan.

Selesai? Tentu saja tidak. Film nggak akan rame kalau semuanya mulus-mulus saja kan? Seperti hidup. Halah. Di sinilah cerita dimulai. Ketika kapten Whip sedang tidur selama 26 menit dan kendali dipegang sang kopilot, masalah mulai muncul. Pesawat tiba-tiba saja tidak bisa dikendalikan. Ada yang mati. Ada yang rusak. Semua tegang. Lalu, pesawat butut itu pun menukik tajam ke bawah. Pesawat pun mengeluarkan peringatan-peringatan seperti dalam game FlightSimulator (suaranya persis sama ternyata! haha).

Semua panik. Tentu saja. Kecuali si kapten yang masih bisa mengendalikan situasi. Dengan cekatan, pilot yang ternyata kecanduan alkohol dan kokain itu masih mampu menerbangkan pesawat itu meski jadinya terbalik. Iya terbalik. Entah dalam dunia nyata itu bisa dilakukan atau tidak. Tapi katanya tindakan itu mampu menyelamatkan pesawat untuk sesaat sehingga pesawat itu kembali stabil. ya. mesti harus terbalik.

Namanya Hollywood, pasti masalah ditambah lagi dong. Iya memang. Setelah berhasil kembali diputarkan lagi, muncul masalah baru, kedua mesinnya mati. Akhirnya, sang kapten pun meminta kepada menara ATC untuk mendarat darurat. Kebetulan *ehm ada lapangan yang cukup luas di dekat gereja. Mendaratlah sang burung besi itu di sana.

Mulus? Tentu saja tidak. Lihat lagi kecelakaan pesawat Garuda yang mengalami kecelakaan di Adisucipto beberapa tahun lalu. Waktu itu, setidaknya 20 orang tewas. Makanya di sini juga begitu. Yang namanya mendarat darurat tentu saja berdarah-darah. Banyak yang menjadi korban. terluka. dan 6 orang tewas, dua di antaranya awak pesawat.

Lalu bagaimana nasib sang pilot? Ternyata masih hidup. Memang dia terluka juga, tapi masih mending daripada yang dialami kopilot yang lukanya lebih parah. Terus bagaimana kelanjutannya? Silakan nonton sendiri ya, soalnya di bioskop masih ada :D.

Bagi saya yang belum pernah naik pesawat (kampring? baeweh haha), menonton film ini bisa jadi menjadi memori tak mengenakan jika nanti ada kesempatan naik burung besi ini. Seperti halnya trauma saya ketika naik mobil yang sedang melaju di tanjakan gara-gara dulu pernah kecelakaan.

Apalagi di Indonesia kecelakaan pesawat cukup banyak terjadi, dan juga mematikan. Tragedi Adam Air misalnya. Atau yang Sukhoi kemarin. Apalagi penggambaran di film ini bagi saya cukup realistis. Menyeramkan. Semoga para perusahaan kapal mau nonton film ini. Bahwa ternyata di balik kegagahan dan kemegahan pesawat, banyak yang perawatannya diabaikan. Akibat kesalahan kecil, ratusan nyawa terancam.

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: