minke

SEHARUSNYA tulisan ini diposting dua minggu lalu, ketika RadioBuku menggelar kegiatan PekanPram. Tapi apa daya, kesibukan yang dibuat-buat membuat minat untuk menulis padam sama sekali. Padahal ide ini sudah lama muncul. Maka, mumpung masih di bulan Februari, mari kita tulis saja yang berjudul minke ini.

Sebelumnya, dulu saya boleh sombong bahwa saya suka baca. Baca buku apapun. Bahkan koran dan majalah pun tak lupa dilahap. Seringnya bongkar-bongkar gudang buku milik paman membuat saya sudah kenal Nick Carter waktu SMP. Bagi yang nggak kenal Nick Carter, silakan googling dengan kata kunci Nick Carter dan detektif. Pasti seru (–,).

Menginjak SMA, beberapa buku tebal mulai saya baca. Tak hanya buku Harry Potter yang waktu itu baru jilid pertama (dan satu-satunya jilis yang paman saya beli haha), beberapa buku novel karya penulis terkenal Indonesia dan yang berbahasa Sunda juga saya baca. Tapi sampai saat itu saya belum ngeh dengan sesosok yang namanya Pramoedya, penulis yang tak pernah saya kenal di pelajaran Bahasa Indonesia dari SD sampai SMA.

Ketika mulai kuliah di jurusan matematika, semakin banyak buku yang saya baca -meski kadang nggak sampai selesai :D. Tapi tetep, saya belum tertarik dengan deretan novel Pram yang mulai tersusun rapi di rak buku paman saya. Oiya, (hampir) semua buku yang saya baca memang bukan saya beli, tapi pinjam punya paman yang koleksi bukunya (sampai sekarang) sudah ribuan.

Lalu mulailah saya melirik penulis yang saya nggak kenal ini. Buku cetakan lama dengan penerbit Hasta Mitra. Buku yang tampilannya mulai kusam dengan kertas yang menguning. Ukurannya tidak terlalu tebal. Judulnya sepertinya biasa saja: Bumi Manusia.

Saya buka lembar pertama. Hmm.. prolognya tak meyakinkan saya untuk membaca buku ini. Buku apa ini? Untuk ukuran buku yang katanya dilarang terbit, ini buku biasa saja. Pikiran saya waktu itu.

Tapi saya tetap penasaran. lembar demi lembar saya baca. Dan tanpa sadar, keempat buku tetralogi itu saya baca habis. Saya lupa berapa lama buku itu saya baca habis. Kalau tidak salah selama semester 1 dan 2 sudah saya tamatkan keempat buku ini. Bahkan kadang ketika kuliah saya sempatkan baca novel ini. Termasuk ketika kuliah Kewiraan dengan dosennya yang orang militer itu. Entah bagaimana reaksi pak dosen jika tahu salah satu mahasiswanya baca buku yang pernah mereka buru :D.

Dan pikiran saya dulu yang meremehkan buku ini langsung kandas. Cerita si Minke memang benar-benar terasa nyata. Apalagi ketika membaca bahwa cerita ini berlatar belakang sejarah, jadi semakin terasa realistis.

Mungkin sejak itu niat saya untuk jadi jurnalis tumbuh. Saya menjadi sangat mengagumi tokoh Raden Mas Minke alias Raden Tirto Adhi Soerjo. Bahkan waktu tingkat pertama, saya namai nomor telepon di beberapa temen saya dengan nama minke. Juga username di forum UPI (meski kemudian saya ganti karena saya merasa ngga pantas memakai nama itu :D). Salah satu teman saya bahkan masih mengingat saya dengan nama minke haha..

Dari tetralogi Buru itulah akhirnya saya mengenal karya-karya Pram yang lain, yang ternyata paman saya mengoleksi sebagian besar karyanya. Beberapa sudah saya baca, seperti Keluarga Gerilya, Bukan Pasar malam, dan Gadis Pantai. Juga beberapa tulisan nonfiksi sudah saya baca. Tak hanya karya Pram, akhirnya saya pun jadi kenal dengan tokoh lain seperti Mas Marco Kartodikromo.

Dengan gaya cerita yang begitu bagus, saya rasa aneh jika karya-karya Pram tidak dijadikan salah satu bacaan di sekolah. Setidaknya ketika saya masih sekolah. Entah sekarang, apakah karya Pram turut diperkenalkan seperti halnya novel Burung-burung Manyar dll?

2 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: