Cilimus

[A]WALNYA Senin (1/4) kemarin nggak ada rencana untuk kembali ke kampus. Tapi karena ada kabar bahwa sekre PKM disatroni satpam gara-gara berita tentang skandal dagang nilai, akhirnya saya sempatkan ke sana untuk lihat situasi.

Sekitar jam 2 siang saya akhirnya ke kampus UPI, langsung menuju PKM. Tapi ternyata di PKM sepi-sepi aja, nggak ada satu pun satpam yang nongkrong di sana. Bahkan di ruang si babeh yang biasanya ada orang, ternyata sepi. Juga teman-teman Isola pun nggak ada. Mereka ternyata ‘diungsikan’ di sekre baru.

Sekre baru itu ternyata bekas asrama mahasiswa. Letaknya di bagian selatan kampus, dekat daerah Cilimus. Bersatu dengan beberapa sekre lain dan bisa 24 jam. Sayangnya, di sekre baru nggak ada wc. Padahal saya mau salat. Akhirnya saya harus cari masjid terdekat, karena hari sudah sangat sore (maklum deadliner. halah).

Maka pergilah saya ke daerah Cilimus. Kawasan yang dari dulu sudah terkenal dengan banyaknya tempat kos murah ala mahasiswa. Beberapa teman saya dulu kosnya di sana, meski saya belum pernah ngekos di sana (bahkan saya memang nggak pernah ngekos di mana pun :D). Salah satu tempat kos yang paling dekat kampus adalah Al-Huda. Dulu, di tempat kos itu ada masjid Al-Huda, yang letaknya di lantai bawah kos-kosan. Saya pun niatnya mau salat di sana.

Waktu mau ke sana, saya nggak lihat masjid itu. Sebenarnya bukan masjid sih, semacam musala pribadi yang punya kos. Karena khawatir disangka orang asing yang lagi cari mangsa, saya nggak sempat masuk ke bagian dalam kos-kosan itu. Soalnya masjidnya memang di bagian dalam. Ya sudah saya cari masjid lain saja.

Seingat saya, di bagian atas ada masjid juga. Lupa namanya. Yang pasti letaknya cukup nyempil, dan berada di dalam gang sempit. Tapi saya masih inget sedikit jalannya. Dari gerbang atas kampus, tinggal lurus, lalu belok kiri di pertigaan pertama. Setelah lewat jembatan kecil, cari lapangan, di barat lapang itulah gang tempat masuk ke masjid.

Sampai di pertigaan, ternyata suasana Cilimus belum banyak berubah. Masih ada tukang bubur di sebelah kiri. Juga tukang dagang di sebelah kanan jalan. Di pertigaan itu, ada rumah temannya teteh saya -yang saya lupa namanya haha-. Di kanan jalan, tiang listrik raksasa masih ada. Jembatan kecil juga masih ada, meski makin sempit karena makin banyak kos-kosan.

TAPI DI MANA LETAK LAPANGANNYA? seharusnya, setelah lewat jembatan, ada sebidang tanah sedikit lega dan di sana bisa kelihatan plang masjid itu. Tapi saya nggak menemukannya. Suasana sudah berubah ternyata. Kos-kosan semakin banyak, dan juga semakin tinggi. Bahkan di sebelah kanan dekat jembatan itu, dibangun lagi kos-kosan dua lantai. Cilimus makin sempit aja. Dan saya seperti orang tersesat.

Cilimus makin sempit

Cilimus yang makin sempit

Makin banyak kos-kosan

Makin banyak kos-kosan

Terpaksalah saya tanya ke bapak-bapak yang kebetulan lewat. Setelah diberi tahu, ternyata saya salah masuk gang. Gang yang ada masjidnya itu ada di gang sebelah barat. Gang ini memang sekarang terhalang oleh kos-kosan baru. Bahkan plang masjid pun nggak bakal kelihatan dari jauh.

Lalu masjidnya? Ternyata masih sama. Gelap. Kurang cahaya. Bahkan semakin sempit karena semakin banyak kos-kosan yang berlantai dua atau lebih.

Cilimus, kamu banyak berubah…

0 Thoughts.

  1. Alhuda mah kostn saya dulu maaang.. 😀 murah dulu mah setahunnya, entah sekarang berapa.

    jadi kangen ka eta kostn. -__-

    Cilimus, semoga kau tetap murah. bisi adik atau anak saya ngekost di kamu nanti.

Ada komentar?

%d bloggers like this: