96

96 buah. Tak lebih jumlahnya. Itu katamu. Tapi, masih kata kamu, jumlah itu dihitung kemarin malam. Jadi bisa jadi jumlahnya bertambah lagi, atau bahkan berkurang jika kau hitung lagi sekarang. Atau besok.

“96 buah. Menurut kamu, banyak atau kurang?” tanya kamu. Aku tak tahu. “Cukup, mungkin?”

Ya, kata kamu, banyak atau sedikit itu relatif. Bergantung sudut pandang. Bergantung siapa yang bicara. “Kau tahu apa itu relatif?”

“Relatif itu berarti tak mutlak. Nisbi. Kamu boleh bilang 96 itu banyak. Kebanyakan. Tinggi. Tapi bagi saya, 96 itu sedikit. Sangat sedikit.”

“Kau tahu kenapa?” aku menggeleng. Masih bingung apa yang mau dia katakan. 96 itu apa? kode buntut? nilai ujian? Nomor rumah pacar dia? Ah dia kan jomblo.

“Karena 96 itu adalah jumlah lampu. Sesuai kodratnya, lampu dipasang untuk menyala bukan? Kalau lampu dipasang di pinggir jalan namun tidak menyala, berarti keberadaannya tidak berguna. Tentu bukan lampu sembarangan, ini lampu PJU. Artinya itu lampu buat saya, kamu, dia, pembayar pajak, dan pemalas.”

“Lampu dipasang agar kawasan sekitarnys terang, bukan? Kalau ternyata masih gelap, berarti dia gagal sebagai lampu. Hanya rongsokan yang terbuat dari plastik, alumunium, dll. Tak layak lagi disebut sebagai lampu.”

Lalu kamu menjelaskan, jumlah itu tersebar di jalan sepanjang 12,3 kilometer. Atau 12.300 meter. Kata kamu, jika satu langkahku jaraknya satu meter, berarti butuh 12.300 langkah buat aku untuk menghitung semua lampu yang menyala itu. Lalu, kamu masih iseng bertanya, apa masih bisa dibilang cukup untuk jalan sepanjang itu?

“96 untuk 12.300 meter, itu artinya satu buah lampu untuk setiap 128,125 meter,” jelas kamu.

Tapi, kamu menyela, itu jika jaraknya rata. Sama. Padahal faktanya tidak ada yang persis sama, kan? Masalahnya, jelas kamu, tidak seperti itu. “Kalau kamu jeli, dalam 3,1 kilometer pertama, ada 21 saja yang hidup dan menghidup. Apa artinya? Itu artinya, satu lampu untuk 147,619 meter. Cukup panjang bukan?”

Lalu kamu jelaskan, jarak 3,1 kilometer terbentang dari perbatasan sampai belokan pertama. Di antara buruknya infrastruktur kota. Buruk seburuk-buruknya dari 12,3 kilometer total jarak yang kamu tempuh. Setiap hari. Setiap malam.

“Apa kamu tak ada kerjaan, menghitung lampu kota yang menyala? Sampai kamu rela melambatkan motormu, bahkan kalau perlu menghentikan laju motormu?” akhirnya aku ungkapkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengusikku sejak kami bertemu sore itu.

“Iseng, tentu saja. Membunuh waktu di tengah keheningan kota dini hari. Motivasi apa lagi coba?”

“Oiya, lapu yang mati jumlahnya lebih sedikit. Hanya 56 saja. Tentu, bisa lebih, bisa kurang,” kamu melanjutkan.

Karena, kata kamu, menghitung sesuatu yang gelap lebih sulit dilakukan. Apalagi jika sambil mengendarai mio merahmu itu. Lalu, sambil berlalu, kamu menantangku, “Mau coba hitung lubang jalan yang rusak? Sepertinya lebih menarik…”

Ada komentar?

%d bloggers like this: