Ngurek

MENULIS ini karena lagi nggak punya tema :D. Juga gara-gara tadi di jalan lihat orang lagi ngurek di sawah, dan pemuda itu sudah dapat korban. keren sepertinya. Bangenan, kalau kata teman saya, dulu.

Tapi apa itu ngurek? Bagi yang belum tahu, itu adalah bahasa Sunda, yang artinya… apa ya? Kira-kira artinya memancing belut. Entah di Bahasa Indonesia ada padanan katanya atau nggak :D. Kata ‘ngurek’ berasal dari kata urek. Ini adalah alat untuk memancingnya. Seperti ngurek, saya juga nggak tahu apakah urek ada padanan katanya atau ngga.

Dulu, waktu masih kecil dan imut, saya suka ngurek. Tentu saja nggak sendirian, tapi dengan teman-teman. Tapi nggak banyakan, paling 2 atau 3 orang saja. Kebetulan rumah bapak saya dekat dengan sawah, jadi nggak harus jauh-jauh cari belut.

Untuk dapat menangkap belut, diperlukan alat pancingnya, yaitu urek tadi. Alat ini terbuat dari benang nilon yang dipelintir seperti tambang. Panjangnya sekitar 20-30 cm. Di ujungnya dipasang kail tempat umpan. Untuk umpannya, biasanya menggunakan cacing. Atau bancet alias kodok kecil. Kalau ada.

Biasanya, kegiatan ngurek dilakukan sore hari setelah Ashar, sampai menjelang magrib, ketika hari sudah nggak terlalu panas. Sebelum berburu belut, kami harus cari umpannya dulu. Cacing atau bancet biasanya didapatkan dari pematang sawah alias galengan.

Tentu saja nggak semua pematang sawah ada cacingnya. Kita harus tekun melihat tanda-tanda kehidupan cacing, tapi saya lupa tandanya apa saja :D. Ketika dirasa umpannya sudah cukup, barulah kami mulai berburu belut.

Untuk mencari belut, kami harus berjalan perlahan di sepanjang pematang yang sawahnya masih basah terendam air. Artinya sawah yang baru ditanami padi. Sambil berjalan membungkuk, kami berjalan perlahan mencari lubang kecil di sepanjang pematang yang dilewati. Nggak semua lubang diduga sebagai sarang belut. Soalnya, kadang lubang itu merupakan sarang tikus, atau ular. Jadi harus hati-hati.

Setiap menemukan lubang yang dirasa ada belutnya, urek yang sudah dipasang umpan perlahan-lahan dimasukkan ke dalam lubang itu, sambil diputar-putar alias diurek-urek. Mungkin dari sinilah kegiatan mencari belut disebut ngurek. Dapat? Tidak selalu. Terkadang lubang yang dimasuki urek kosong, atau malah umpannya habis dimakan belut dengan cerdik.

Dari beberapa kali ngurek, memang nggak selalu dapat belut. Kadang sampai menjelang magrib, tangan kami masih kosong, sementara kaki dan tangan sudah kotor dengan tanah. Tapi kalau sedang beruntung, kami bisa dapat banyak belut.

Setiap belut yang berhasil ditangkap biasanya digantung dengan menggunakan batang rumput. Ujung batang rumput yang masih ada daunnya diikat, sementara ujung yang satunya lagi dimasukkan ke dalam insang dan tembus ke mulut belut. Sadis? mungkin iya, tapi memang dulu biasanya begitu cara bawanya.

Menjelang magrib, dapat atau nggak dapat, biasanya kami bergegas pulang. Selain takut dimarahi orangtua, sawah pun sudah mulai gelap, jadi susah kalau jalan. Padahal biasanya pada malam hari justru belut keluar dari sarangnya. hasil tangkapan biasanya kami bagi rata.

Duh, jadi pengen ngurek lagi..

1 Thought.

Ada komentar?

%d bloggers like this: