Startup

SIANG kemarin diajak sama Pak Suro untuk ikut dalam acara diskusi yang digelar oleh Kemenparenkraf. Tema diskusinya keren, tentang bisnis startup dan hal-hal yang berkaitan dengan itu pokoknya. Yang datang pun bukan orang sembarangan. Selain dari orang kementerian, juga dari stakeholder, mulai dari venture capital, perusahaan besar (Microsoft dan Intel di antaranya) dan beberapa startup yang boleh dibilang sukses. Seperti Gits dan Nightspade.

Juga ada dari media, yakni dari Oomph (ga tahu ini perusahaan apa hehe) dan dari Bisnis Indonesia (halo teh :D). Saya sebenarnya nggak diundang, termasuk media tempat saya kerja hehe.. Tapi bermodalkan muka tebal dan rasa ingin tahu tentang startup akhirnya saya terima dengan senang hati tawaran Pak Suro.

Diskusi itu digelar di gedung Pusat Kreatif Digital di Jalan Batik Kumeli. Saya baru tahu ada gedung semacam ini di Bandung, padahal sudah sok-sokan sebagai pengamat ai ti dan gejet di Bandung hehe.. Pas masuk ke lantai atas tempat diskusi, ternyata di sana ada dosen saya, Pak Ary. Jadi malu :D.

Jalannya diskusi cukup meriah, artinya nggak satu orang saja yang ngomong. Mulai dari wakil kementerian, praktisi pendidikan, pemodal, dan yang lainnya.

Menurut ibu dari kementerian, masalah utama para startup pemula adalah di masalah dana. Mereka punya impian besar tapi dana cekak. Karena itu, kata beliau, peran inkubator sangat penting di sini untuk membuka wawasan para entrepreneur muda. Menurutnya, inkubator ngga bisa kasih dana seenaknya kepada para pengusaha muda itu sebelum mindsetnya diubah. Ini merupakan tantangan besar, terutama di dunia pendidikan untuk mengubah budaya manja ini. katanya begitu.

Sementara menurut salah seorang pelaku venture capital yang juga pemerhati startup, beberapa tahun lalu memang wawasan para calon entrepreneur itu masih sangat polos. mereka punya mimpi besar untuk membuat produk berkualitas, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan berwirausaha.

Namun, kata beliau, akhir-akhir ini pandangan tersebut mulai berubah. Menurutnya, para pelaku startup mulai membuka diri dan berpikir lebih realistis. Mereka sudah mulai bicara pasar, bisnis, dll. Karena itu dia mengaku optimistis pelaku startup ke depan akan lebih baik.

Dia pun menambahkan, salah satu yang harus dikuasai oleh pelaku startup adalah mengenai skill bisnis. Menurutnya, hal itu penting untuk mengembangkan usaha startup mereka. Dia mengatakan, bisnis plan itu nothing jika para pelaku startup tidak memiliki kemampuan alias skill bisnis.

Selain itu, kata dia, para pelaku startup harus tahan banting dan benar-benar punya passion untuk mengembangkan usahanya. Dia mengatakan, sebenarnya usaja startup itu merupakan bisnis yang hampir akan selalu menemui kegagalan. Nggak ada startup yang tiba-tiba langsung sukses. Jadi, kata dia, para pelaku startup harus benar-benar punya passion sehingga mampu menghadapi kegagalan itu.

“Gagal itu pasti, gagal itu biasa. Ini yang harus disadari oleh pelaku. Kalau berhasil itu mah kebetulan,” ujarnya dengan tersenyum.

Hal itu disadari oleh pelaku startup. Menurut Gari dari Nightspade, saat mendirikan perusahaan, dia dan kawan-kawannya benar-benar memulai dari nol. Nggak tahu bikin perusahaan itu seperti apa. Yang baru terpikirkan adalah hanya akan bikin sesuatu.

Namun akhirnya dia sadar bahwa ketika bikin produk itu harus tahu marketnya ke mana. Siapa yang akan pakai, dll. Dia menambahkan, sekarang rekan-rekan sesama pengembang game sudah mulai terbuka dan menyadari hal ini. Agar kesalahan itu nggak terulang lagi, dia dan kawan-kawannya sepakat membuat komunitas game yang membicarakan tentang hal ini.

Sementara pendiri Gits, Ibnu mengatakan, perubahan mindset memang menjadi hal yang harus diperhatikan. Bukan hanya mindset diri sendiri, juga mindset lingkungan, teman, dan terutama orangtua. Dia mengaku banyak orangtua yang antipati dengan yang namanya startup dan lebih menginginkan anaknya jadi PNS atau kerja di perusahaan mapan.

Hal ini diamini ibu Lolly. Menurutnya, mindset seperti itu harus segera diubah. Menurutnya, dengan jaman yang terus berubah, bekerja tidak lagi harus di luar rumah. Hal seperti ini, menurutnya masih banyak yang belum disadari, terutama oleh orangtua. Padahal, kata dia, potensinya sangat besar.

Yak, begitulah sedikit catatan saya yang saya catat di Colornotes henpon saya saat diskusi kemarin. Sebenarnya masih banyak yang bisa ditulis, tapi kemarin keburu asyik twitteran karena password wifi Pusat kreatif ketahuan sama saya hehe.. Juga karena saya nggak sampai beres mengikuti acara ini. Kalau mau tahu lebih banyak infonya, silakan ck situs bisnis-jabar.com, ada beberapa berita terkait tentang diskusi ini.

Mau jadi entrepreneur muda? Mau kembangkan startup? Berani? Sok atuh hehe..

Caw.

Ada komentar?

%d bloggers like this: