Selalu terdepan

BEGINILAH tabiat pemotor di negara kita indonesa. Setidaknya di Bandung, baik di kota maupun kabupaten. Semua ingin selalu terdepan, seperti slogan salah satu merek motor. Tak mau sabar menunggu di belakang garis putih. Selalu ingin juara, atau ingin jadi yang tercepat. Hampir semua pengendara motor (bahkan mobil juga) berkelakuan seperti itu. Termasuk saya.

Karena yamaha (dan juga motor lainnya) selalu terdepan. Pffftt #bandung

A photo posted by hahn (@hahnsaja) on

Tapi itu dulu. Setidaknya, sejak setengah tahun terakhir saya mulai mencoba menahan diri untuk tidak bergabung sama mereka di barisan terdepan. Kalau kena lampu merah, ya berhenti tepat di belakang garis putih. Ya, kadang lewat sedikit, tapi nggak apa-apa kan? 😀

Dan menerapkan aturan untuk diri sendiri itu susahnya minta ampun. Kadang suka tergoda juga untuk sedikit lebih maju beberapa meter (padahal pengaruhnya pas jalan nggak ada, tetep aja disalip sama yang di belakang :D).

Terutama masalah lampu merah, masih tergoda untuk melanggarnya. Apalagi waktu malam hari, ketika jalanan sudah sepi dan orang lain dengan enaknya melanggar. Godaan yang sangat berat :)). Untuk jalanan kecil sih kadang masih dilanggar (dengan asumsi memang sudah sangat sepi), tapi untuk jalan besar seperti perempatan Soekarno Hatta-Moh Toha atau BKR-Moh Toha, saya sudah lumayan bisa mengendalikan diri. ciee..

Kadang, ketika melihat orang lain dengan enaknya melanggar lampu merah, suka mendoakan yang tidak-tidak. Celaka lah, mogok lah, dll. Salah sih, tapi mau gimana lagi, kesel soalnya 😀 *alesan*

Apakah di Indonesia kelakuan pengendara (terutama motor) memang seperti itu ya? Mungkin iya, mungkin tidak. Setidaknya di Jogja, saya lihat pengendaranya masih tertib. Dulu, waktu liburan di sana, saya kagum sama penduduknya yang tertib di jalan. Jauh sama di Bandung. Kadang malu ketika hendak menerobos atau sekadar berhenti setelah garis putih di perempatan.

Juga ketika menjalankan kendaraan, mereka (terutama moil) jarang yang ngebut. Slow. Tapi malah sempet kesel juga karena susah nyalipnya :))..

Bisakah Bandung seperti Jogja? Ya daripada mengutuk kegelapan, mending sekarang mah sendiri aja dulu yang berusaha berubah. Semoga pengendara lain bisa ngikutin. Atau kalau nggak, cobalah ngetroll di perempatan. Hentikan motor di tengah lajur atau di sela-sela mobil, dan diam sebelum lampu benar-benar berubah jadi hijau. Niscaya kamu bakal dapat banyak umpatan dan klakson dari pengendara lain yang kesel :))

Ada komentar?

%d bloggers like this: