Jalan-jalan di Bandung

DULU, beberapa tahun lalu, ketika masih unyu dan berstatus mahasiswa di kampus UPI, pernah ingin berencana mau pulang jalan kaki dari Setiabudhi ke Tegallega. Jalan-jalan menikmati malam. Sendirian.

Tapi, seperti biasa, itu hanya wacana. Hanya rencana yang tak kunjung terlaksana. Akhirnya kembali naik Damri, angkot Ledeng, atau kemudian naik motor setelah dikasih motor sama orang tua. Jalan kaki? Sepertinya terlupakan waktu itu.

Lalu ketika punya sepeda dan pernah sesepedahan ke kota, rencana itu kembali terngiang-ngiang di kepala. Tentu saja, kali ini tak jalan kaki, tapi bersepeda keliling kota.

Ya..ya..ya, kamu pasti tahu, itu lagi-lagi cuma wacana yang tak kunjung terlaksana. Takut kehujanan dan jauh menjadi alasan. Akhirnya, ya cuma wacana saja.

Lalu ketika sedang bermalam di Bogor awal bulan ini, rencana itu tiba-tiba muncul di kepala. Bukan, bukan jalan kaki ke Bandung dari Bogor, tentu saja. Saat itu, saya yang sedang gelisah menunggu pagi *halah* iseng bacabaca timeline di Twitter, dan terbacalah kicauan kang Zenrs, yang kebetulan sedang bahas flaneur.

Apa itu flaneur? Cari saja sendiri, karena saya pun nggak tahu definisinya yang jelas :)). Intinya sih jalan-jalan dan menikmati kota. Katanya.

Kembali ke pembahasan, maka ketika pulang dari Bogor -yang terus ke Jakarta sambil merasakan maag- saya coba untuk jalan-jalan di kota tercinta. Dari tempat travel di Cihampelas, akhirnya saya jalan-jalan sendirian tak tentu arah. Awalnya sih mau naik angkot, namun karena saya nggak tahu harus naik angkot apa dari Cihampelas ke Leuwipanjang, jadi diputuskanlah untuk jalan-jalan. *padahal alasan utamanya sih supaya ngirit ongkos :D*

Sepertinya, ini adalah pertama kalinya saya jalan kaki dengan tujuan yang nggak jelas di Bandung. Sudah lama memang, saya ingin menikmati hal-hal yang selama ini terlewatkan kalau kita naik motor atau angkot. Dan benar saja, banyak hal yang luput dari pandangan mata minus saya selama ini ternyata.

Contohnya, saya baru tahu di Bandung ada nama Jalan Hatta, yang tak bersandingan dengan Soekarno seperti jalan yang besar itu. Jalan Hatta, yang terletak di Cihampelas bagian bawah, merupakan jalan kecil. Awalnya saya mau telusuri jalan itu, tapi berhubung perut saya yang sedang maag+mulas, rencana itu kembali jadi wacana.

Tak jadi menelusuri Jalan Hatta (semoga bukan diambil dari nama Hatta Rajasa), saya kembali berjalan ke arah selatan. Melewati beberapa rumah makan (di antaranya Bakso Semar yang katanya terkenal itu) dan sebuah kampus yang letaknya persis di perempatan Cihampelas-Wastukancana. Di sini tak ada yang aneh, kecuali trotoar yang kurang layak dan susahnya saya menyeberang jalan.

Berhasil menyeberang, masih di Cihampelas, kali ini yang di sebelah kirinya ada Eiger yang terkenal itu. Di sebelah Eiger ternyata ada tempat kursus Bahasa Inggris yang pengajarnya lulusan Australia yang katanya menyadap karet presiden kita itu. Di sana pun saya lihat ternyata ada jalan kecil yang entah nyambung ke mana, dan beberapa rumah pribadi yang cukup asri. Cukup aneh, karena di pinggir-pinggirnya sudah jadi kawasan komersil.

Lanjut, di perempatan Jalan Pajajaran-Cihampelas, saya kembali sulit menyeberang. Apalagi di sini lebih banyak lagi kendaraan yang melaju kencang. Tapi, pemandangan di sini lumayan keren, karena bisa melihat pabrik Kina yang terkenal itu. Di seberang jalan pun ada beberapa bangunan yang umurnya sepertinya sudah tua. Baiklah, mari menyeberang, mumpung ada anak SMP yang menyeberang juga.

Sampai di Jalan Cicendo, jalanan sudah semakin ramai, tak seperti di Cihampelas atas. Apalagi ini sudah sore, jam 3 lebih, waktunya sebagian orang normal pulang dari pekerjaan atau sekolahnya masing-masing. Sampai di RS Cicendo, ternyata ada bus Damri tujuan Leuwipanjang yang lewat. Tadinya petualangan jalan kaki saya dicukupkan sampai sini, tapi sial. Itu bus melaju cepat karena lolos dari jebakan macet. Sial.

Jadi, jalan kaki diteruskan, dan di sepanjang jalan Cicendo terpaksa harus lebih sering jalan di badan jalan. Bukan di trotoar. Kenapa eh kenapa? Karena trotoar bukan lagi milik pejalan kaki. Sudah sore, sudah mulai banyak PKL yang menggelar lapak. Apalagi di kawasan RS Cicendo, trotoar habis tertutup karena sedang ada proyek pemangunan. Baiklah, yang lemah mengalah.

Melewati sekolah luar biasa Cicendo, trotoal kembali sedikit normal, minimal saya masih bisa jalan kaki di atasnya. Tapi pas di pinggir gedung Pakuan tempat tinggalnya orang nomor satu di Jabar, trotoar kembali dikudeta. Kali ini bukan oleh proyek atau PKL, tapi oleh keangkuhan pagar Pakuan. Apa salah trotoar sehingga harus dimakan sama pagar? Bahkan di ujung pertigaan jalan, trotoar pun terhalang oleh tiang listrik. Hey, pagubernur, saya harus jalan kaki di sebelah mana hah??

Baiklah, tak usah menggerutu, lebih baik kembali jalan dan menyeberang jalan. Di belokan Jalan Kebon Kawung, suasana sedikit manusiawi, bahkan sangat nyaman, seperti Bandung tempo doeloe katanya. Meski di sana ada dua hotel yang saling berhadapan, rerimbunan pohon membuat jalan kaki di sana cukup nyaman. Apalagi trotoarnya lebih lega. Meski ada satu PKL dan beberapa pengemudi taksi yang sedang bermain catur, langkah kaki saya nggak terhalang.

Tapi kenyamanan itu cuma sebentar. Setelah menyeberang rel kereta lewat jembatan yang tangganya kurang manusiawi (tapi pemandangan di atasnya lumayan keren), saya dihadapkan kembali dengan trotoar yang amburadul. Memang, di Jalan Otista dekat rel sedang ada perbaikan gorong-gorong plus trotoar. Jadi ya pasrah saja dan jalan berhati-hati meski sempat hampir jatuh karena ternyata jembatannya retak.

Setelah jalan beberapa ratus meter, sampailah saya di perempatan Otista-Suniaraja. Seperti biasa, di sini jalanan sangat padat, terutama di sekitar Pasarbaru. Jam sore begitu memang sedang macet-macetnya itu jalan.

Awalnya, petualangan kaki akan diteruskan hingga kawasan tegallega, tapi pas sampai di dekat Pasarbaru, saya lihat bus Damri yang saya kejar tadi terjebak macet. Maka dengan sisa-sisa tenaga -halah-, saya kejar bus jurusan Dago-Leuwipanjang itu.

Di dalam bus, ternyata nggak padat, karena masih ada beberapa kursi kosong. Maka duduklah saya di dekat pintu belakang, di sebelah ibu-ibu yang membawa banyak barang. Sepertinya sudah belanja di Pasarbaru. Meski bus berjalan lebih lambat karena macet, saya nikmati saja. Karena ini keduakalinya dalam sebulan saya kembali naik Damri setelah hampir 4-5 tahunan meninggalkan armada yang sudah cukup tua ini.

Dan seperti bus Damri lainnya, sepanjang perjalanan yang lambat itu penumpang yang ditarif Rp3000 itu disuguhi oleh para pengamen. Yang pertama, dua pengamen laki-laki yang sudah ABG dengan suara lumayan. Yang satu membawa gitar, satunya membawa biola.

Selesai pengamen yang satu, kemudian naik 3 perempuan, dua anak satu orang yang sudah cukup berumur. Sepertinya si orang tua itu ibunya, karena beberpa kali memerintahkan si dua anak itu untuk mengamen dengan suara pas-pasan.

Awalnya si anak paling kecil itu menolak, tapi si ibu berkilah, bahwa mengamen lebih mulia daripada mencuri atau telanjang. Maka setelah dibujuk beberapa kali, ketika sampai di perempatan Tegallega-BKR, si ibu itu pun mengamen bersama anak yang kecilnya itu. Nyanyinya saya lupa, tapi kalau nggak salah lagunya wali yang tentang salawat.

Hari sudah semakin sore, dan bus pun sudah masuk ke Jalan Leuwipanjang. Maka berakhirlah petualangan si saya yang karena motornya di Leuwipanjang harus jalan kaki dari Cihampelas ke Pasarbaru demi menghemat ongkos.

Sekian. Semoga di lain waktu saya bisa kembali menikmati Kota yang katanya bakal dicintai oleh siapapun yang pernah menjadi penghuninya. Tentu dengan rute yang tidak jelas, seperti penulisnya yang nggak jelas mau nulis apa di blog yang sudah dibayar tapi tak diisi ini. Halah.

*halah, tulisan naon ieu :))*

Ada komentar?

%d bloggers like this: