Taman dan sesepedahan di hari libur

Taman Vanda

SABTU pagi. Tak biasanya saya bisa nggak tidur lagi setelah Subuh. Padahal ini hari libur, yang biasanya dihabiskan untuk melakukan salah satu hobi: tidur. Tapi pagi itu saya nggak tidur lagi, karena sudah punya rencana untuk olahraga: sesepedahan.

Sayangnya, hal itu cuma wacana, #awalwacana. Setelah menunggu agak terang, ternyata saya masih tergoda oleh tayangan kartun di tv. Juga sama cireng, cipuk, dan bala-bala buatan bii saya. Juga oleh internet yang tiba-tiba koneksinya lancar jaya. Banyak godaan. Dan setelah nonton-internetan-makan-gorengan- saya ketiduran. Sampai jam 10.

Tapi untung niat sesepedahan tetap ada, meski masih ngantuk dan belum mandi (hey,, ini hari libur, hematlah dengan air!), saya paksakan keluarkan sepeda dari gudang. Dan untungnya lagi cuaca mendukung, mendung dan mau hujan.

Setelah menyetel Strava di ponsel (olahraga pun perlu narsis, bung!), berangkatlah saya keluar dari rumah dengan sepeda Wimcycle warna biru yang masih tampak baru meski sudah berumur dua tahun (karena jarang dipakai sih..). Masih tanpa mandi dan tanpa membawa botol minuman.

Niat awal saya sesepedahan adalah ke ATM, karena diminta teteh untuk transfer ke rekening teteh saya yang satu lagi. Karena ingin gowes agak jauh, saya putuskan transfer uang di ATM bjb cabang bojongsoang, meski sebenarnya di dekat rumah juga ada. Saya putuskan ke Bojongsoang karena jaraknya cukup lumayan, sekitar 10 km dari rumah. Jadi sekalian olahraga.

Setelah cukup capek gowes, sekitar setengah jam kemudian saya sampai di tkp. Karena ini hari Sabtu, sudah barang tentu kebanyakan bank tutup, termasuk bjb Bojongsoang. Tak masalah, toh yang dituju ATM-nya.

Sialnya, ATM yang ada di bank itu ternyata dimatikan dan nggak bisa diapakai. Sial, padahal sudah jauh-jauh gowes ke Bojongsoang. Karena penasaran, saya teruskan perjalanan, mencari ATM lain.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Universitas Telkom. Sayangnya. meski Sabtu, area ATM ternyata cukup ramai. Mungkin banyak mahasiswa yang bokek setelah hura-hura tahun baruan ๐Ÿ˜€ *suudzon*.

Karena malas nunggu, saya teruskan perjalanan, dan sampailah di sebuah minimarket di jalan Terusan Buahbatu. Di sana ada ATM Bank Mandiri. Ada orang di dalamnya. Harus menunggu.

“Wah mas ATMnya error, nggak bisa dipakai,” ujar seseorang sambil membuka pintu ATM. Sial. Lagi-lagi ATM tak berfungsi.

Karena malas harus balik lagi tanpa dapat hasil, akhirnya saya teruskan perjalanan. Setahu saya di daerah Buahbatu ada bjb yang buka meski weekend. Setelah gowes sekitar 10-15 menit, sampailah saya di ATM. Alhamdulillah ATM ini berfungsi, sehingga saya bisa transfer uang ke teteh saya di Bogor.

Bentar.. Sudah 10 paragraf tapi mana cerita tamannya? Santai, sodara.

Kita lanjutkan ceritanya.
Setelah beres transfer, saya lihat awan di sebelah selatan Bandung semakin tebal. “Pasti hujan, pikir saya. Dan benar saja, teteh saya mengabarkan kalau di rumah sedang hujan. Karena malas hujan-hujanan, saya pun dengan nekat melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Toh ini sudah di Kota Bandung. Sayang kalau cuma sekadar mampir di Buahbatu saja :D.

Sebenarnya saya sudah lama ingin sepedahan ke kota, sudah dua tahun nggak melakukan hal nekat itu. Ingin menjelajahi jalanan di Kota yang sudah pada mulus. Sekalian melihat-lihat taman yang dibikin kang Emil.

Makanya, ketika sudah di Buahbatu saya putuskan saja untuk jelajah tanah Emilland ini. Meski belum mandi. Dan belum ganti baju sejak kemarin :D.

Masalahnya, saya nggak tahu letak taman-taman itu. Padahal ada banyak taman yang sedang dibangun kang Emil. Ada taman bunga, taman fotografi, taman Persib, taman musik, dan yang paling fenomenal mungkin taman jomblo :D.

Karena bingung -dan belum salat-, saya putuskan untuk singgah dulu di sekre AJIB di Jalan gempol, melewati rute Karapitan-Aceh-Riau-Banda-Gempol. Saya baru tahu kalau salah satu taman yangg saya lalui di daerah SMAN 5 itu akan dijadikan taman musik. Sayangnya waktu saya lewati, taman yang biasanya suka dipenuhi anak SMAN3/5 itu masih sedang diperbaiki.

Tiba di sekre, saya nggak menemukan sarung. Mau pinjam ke tetangga malu, padahal di sebelah sekre ada masjid :D. Saat itulah kepikiran untuk ke kosan teman yang ada di kawasan Tamansari, sekalian menengok taman jomblo eh Taman Pasupati.

Setelah menempuh jarak 1,8 km (sesuai perhitungan Strava), sampai juga di kosan Ramdhan. Saya nunggu di kosan sampai Ashar, supaya nggak kagok.

Sekitar jam 4 saya pamit dari kosan, dengan tujuan pertama Taman Pasupati. Kebetulan saat itu taman tersebut sedang diresmikan oleh Kang Emil. Karena baru diresmikan, taman yang berada di bawah jalan layang Pasupati itu tampak ramai. Bahkan hampir semua bangku yang berbentuk kotak terisi oleh jomblo eh pengunjung. Begitu pun dengan taman di sebelahnya, taman Skateboard. Dipenuhi oleh para skater Bandung.

Nah, taman Jomblo itu ternyata merupakan satu dari sekian taman tematik yang ada di kawasan itu. Secara keseluruhan dinamai Taman Pasupati.

Taman Pasupati

Mengenai tamannya, saya pikir sederhana, cuma ada kubus-kubus yang hanya bisa diduduki oleh satu orang saja. Juga ada patung pria yang hanya memakai celana pendek saja. Selebihnya nggak terlalu banyak ornamen. Benar-benar sederhana. Entah di mana letak jomblonya (kata kang Emil sih karena si kubus yang hanya bisa digunakan seorang saja).

Bagaimana dengan taman Skateboard? Saya nggak tahu, karena nggak sempat melihatnya. yang pasti sih katanya para skaters sangat terbantu dengan adanya taman itu.

Meski mungkin konsepnya sederhana, tapi saya apresiasi Pemkot yang mau memanfaatkan lahan-lahan kosong itu untuk dijadikan ruang publik seperti taman, apalagi ada wifinya. Selama ini pun lahan di kolong jembatan Pasupati sering digunakan sebagai area publik. Salah satunya dengan dibuatnya lapang futsal di kawasan itu.

Ketika pulang/pergi dari kosan Ramdhan, saya lihat lapangan itu selalu ramai. Baik oleh warga, maupun anak SD yang berolahraga di situ. Kawasan yang sempat dikhawatirkan menjadi tempat kumuh ternyata menjadi kawasan publik, terutama bagi warga sekitar. (Pernah ada riset yang melihat pemanfaatan kawasan bawah Pasupati oleh warga. Kalau nggak salah riset itu pernah dipresentasikan di Commonroom).

Kembali ke topik. Setelah cukup ambil foto taman Pasupati, saya putuskan pulang. Apalagi sudah jam 5 lebih. Artinya sampai rumah pasti sudah gelap. Maka saya kayuh lagi sepeda menyusuri jalan Bandung.

Awalnya, sembari pulang mau lewat ke beberapa taman yang sudah diresmikan itu. Sayangnya cuaca semakin gelap, sehingga rencana itu saya batalkan dan memilih langsung pulang. Melewati jalur Dago-Merdeka, supaya nggak terlalu nanjak, nggak seperti jalur Wastukancana-Riau-Merdeka :D.

Ketika sedang asyik gowes di Jalan Merdeka, setelah Balaikota saya lihat ada tulisan yang cukup mencolok dan menarik perhatian. Hurufnya berwarna merah. Sebuah taman. Namanya Taman Vanda. Menempati secuil lahan bekas jalur segitiga antara Merdeka dan Braga.

Taman Vanda

Entah apa maksudnya taman itu diberi nama Taman Vanda. Apakah maksudnya taman Vandalisme? Atau Ayi Vandananda? halah. Meski begitu, saya suka dengan tulisannya. Terkesan mencolok dan menarik perhatian. Mirip-mirip dengan tulisan Dago di kawasan taman Cikapayang.

Sayangnya, sampai saat ini saya lihat kebanyakan taman letaknya di kawasan pusat kota. Ketika saya susuri jalur Bandung kota bagian selatan, belum ada tanda-tanda bakal adanya taman. Kecuali Tegallega saja :D.

Semoga saja distribusi penyebaran taman nggak hanya menumpuk di kawasan pusat kota, tapi juga menyebar ke kawasan Timur dan selatan. Kalau bisa sih menyebar sampai ke daerah Obarland haha.

Duh tulisannya panjang sekali pisan. kalau anda baca tamat sampai sini, saya ucapkan selamat ๐Ÿ˜€

2 Thoughts.

  1. oke biar sah komen soal blog yang ini..
    kenapa tamannya dikasih nama taman vanda? karena (dan kemungkinan besar) dulu saat pemilik blog ini masih dalam angan-angan dan yang komen belom rencana muncul ke dunia ada bioskop letaknya daerah balkot (yang sekarang gedung BI *kemungkinan ke2*) bernama bioskop VANDA…itu bisa jadi alesan pak walkot ngasih nama taman VANDA. :3

Ada komentar?

%d bloggers like this: