Hoax!

HATI-HATI BAGI PENGGEMAR TELUR AYAM

[Wajib Dibaca]

Seperti dilaporkan Mailonline, para peneliti baru-baru ini melaporkan tentang bahaya konsentrat pada pakan ayam, yang terkandung dalam telurnya.

Tim peneliti yang terdiri dari para ilmuan dari universitas di Sheffield dan Warwick menggunakan subjek berupa ratusan kucing yang diberi makan berupa telur ayam berkonsentrat.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Tidak satu pun dari kucing-kucing tersebut tertarik untuk memakannya. Rupanya selain dapat mendeteksi adanya formalin dalam makanan, kucing juga dapat mendeteksi konsentrat dalam telur ayam.

Penelitian ini membawa Dr. Douglass Freeman dari Departemen Teknik Material Universitas Steffield untuk membuktikan bahaya konsentrat yang ditambahkan dalam pakan ayam di negara-negara maju dan berkembang.

Menurutnya, konsentrat yang terkandung dalam telur ayam akibat penambahan bahan tersebut pada pakan ayam, dapat berakibat buruk pada perkembangan janin dan mengganggu pertumbuhan anak-anak serta dapat menyebabkan kerusakan otak.

Allahu akbar!

——

Sudah baca tulisan di atas? Bagaimana? Percaya? Kalau anda percaya, selamat, anda berhak untuk baca buku lebih banyak dan banyak belajar lagi berinternet, setidaknya cara googling yang lebih baik.

Loh kenapa? Percayalah, tulisan di atas itu benar-benar palsu. Dibuat oleh temannya teman, dan benar-benar ngarang.

Jadi begini. Sekarang memasuki zamannya informasi melimpah ruah. Kita dapat dengan relatif mudah mendapatkan informasi, entah berita, materi kuliah, dsb di internet. Cukup ketikkan kata kunci di Google atau sebangsanya, maka bersiaplah melahap informasi sebanyak kamu mau.

Masalahnya, justru ketika informasi berlimpah -malah jadi banjir informasi- kita (atau sebagian dari kita) jadi malas untuk memilah informasi. Menerima semua yang dia baca dan langsung mempercayainya.

Apalagi kalau dalam tulisan yang dibaca itu bawa-bawa embel-embel agama atau tuhan. Maka bagi sebagian orang, langsung dipercayalah tulisan ini. Lalu dengan menyebut nama kebesaran tuhan, disebarkanlah tulisan itu, dan ditambah dengan ancaman, bahwa kalau nggak menyebar info itu kita sudah dzalim atau semacam itu.

Contohnya banyak. Selain contoh di atas (itu mah memang bohongan), ada tulisan lain yang banyak disebar di Facebook, seperti tentang rotasi bumi yang bakal berhenti kalau tak ada lagi orang yang tawaf di Kakbah. Tulisan yang disebar kira-kira seperti ini (karena ada beberapa varian lain, tapi intinya sama):

“Encyclopedia Americana menulis : “…Sekiranya orang2 Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yg berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik.

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas : menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yg mempunyai kadar logam yg sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yg ada.”

Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis : “…Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu…”

Bagi yang jarang baca, atau setidaknya orang yang nggak skeptis, mungkin bakal langsung percaya dengan tulisan ddi atas. Apalagi bawa-bawa ensiklopedia dan nama profesor. Tapi, benarkah tulisan ini?

Dari hasil googling beberapa kali, sampai saat ini saya nggak mempercayainya. Mungkin, bisa jadi iya, tapi untuk saat ini saya memilih nggak percaya. Kenapa?

Banyak sebabnya, seperti apa benar entri itu ada di Encyclopedia Americana? Atau, apa benar ada orang yang bernama Professor Lawrence yang menulis tentang fakta itu? Universitas mana yang meneliti, dan mana papernya? Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Banyak lagi info-info yang berpotensi menyesatkan kita. Misalnya yang terbaru kemarin, tentang pemakaian masker terbalik yang katanya lebih baik menahan abu vulkanik (dan dari beberapa sumber kemungkinan itu hoax juga). Atau tentang informasi antiimunisasi yang sering banyak disebar juga.

Dari tulisan di kompasiana yang ditulis seorang dokter (yang seharusnya lebih punya kompetensi), dipastikan sebagian besar tulisan di blog itu hoax. Karena ya itu tadi, banyak informasi yang nggak jelas sumbernya di mana, atau ditulis puluhan tahun lalu ketika teknologi vaksinasi mungkin belum berkembang.

Ya, dengan semakin banyaknya informasi yang mudah didapat di internet, mungkin sudah saatnya sifat skeptis kita pelihara. Bukan berarti sinis, tapi setidaknya dengan tidak langsung percaya, kita bisa sedikit usaha dulu cari kebenarannya. Syukur-syukur ketemu sumber primernya. Setelah ketemu, silakan mau berpendapat yang mana, apakah setuju dengan informasi tersebut atau tidak.

*duh, tulisannya serius begini :)))

Ada komentar?

%d bloggers like this: