Reklame

Selasa malam. Jam 11. Di depan kantor tiba-tiba banyak polisi dan Satpol PP. Mereka berbaris dengan rapi. 3 berbanjar. Ada apa ini? Mau menggeruduk kantor malam-malam?

Ternyata bukan. Untungnya bukan. Ternyata mereka hanya numpang baris. Numpang apel. Mereka bukan mau demo di depan kantor, tapi mau bongkar reklame bando yang ukurannya gede. banget.

Bando itu letaknya memang sangat strategis. Dipasang di dekat perempatan Jalan Pasteur-Surya Sumantri. Pas setelah pintu tol Pasteur yang tiap hari macet panjang. Entah berapa ukurannya, yang pasti memang salah satu bando ukuran besar kalau di Bandung.

Meski strategis, anehnya saya nggak pernah melihat ada perusahaan yang pasang iklan di sana. Sejak kantor pindah ke dekat bando ini, seringnya iklan yang diisi adalah iklan para calon penipu caleg atau iklan politik. Kalau lagi sepi, biasanya diganti dengan iklannya bapak gubernur yang mau jadi capres itu.

Untuk bando yang dilihat dari arah timur, biasanya diisi oleh politikus PAN. Yang pertama saya tahu pasang di sana adalah Juniarso Ridwan, mantan kepala dinas di Pemkot beberapa tahun lalu. Sejak lama bapak Juniarso pasang wajahnya di sini.

Lalu menjelang pemilu kemarin, diganti sama sang ketua umum partai yang anaknya pernah menabrak orang hingga tewas. Tulisannya sangat optimistis, ‘Calon Presiden 2014-2019″.

Sementara bando sisi lainnya diisi oleh beberapa politikus. Beberapa yang pernah mengisi slot di bagian itu adalah ketua umum PKB dan ketua umum PPP. Bahkan yang PPP saya lihat kembali dipasang seminggu belakangan, dengan isi menyambut pemilu legislatif. Iklan yang sangat kedaluarsa :|.

Untunglah, mulai tadi malam saya nggak bakal dihantui lagi oleh wajah-wajah calon penipu itu, karena Satpol PP sudah mulai membongkarnya.

Ngomong-ngomong tentang reklame bando di Bandung, sebenarnya ada yang menarik, terutama dalam kurun waktu 2012-2013. Menjelang akhir tahun, tiba-tiba saja bando mulai menjamur hampir bersamaan. Jalan terusan Buahbatu yang dulunya bersih, tiba-tiba muncul bando yang melintang jalan. Juga di Jalan Sudirman dekat perempatan mau ke Pasarbaru. Juga di Jalan Moh. Toha.

Tapi ada yang lebih lucu lagi, yaitu kemunculan reklame bando di Jalan Siliwangi daerah Babakan Siliwangi, dekat jembatan, yang sempat menimbulkan polemik. Kenapa lucu? Karena setahun sebelumnya, tepatnya sekitar pertengahan hingga akhir 2011, Pemkot Bandung pernah menggelar sayembara untuk mendesain kawasan di jembatan tersebut agar tampil lebih menarik.

Kalau nggak salah, desain yang disayembarakan bertema pedestrian. Sehingga kawasan sungai itu nantinya bisa digunakan untuk ruang publik. Saat itu, sekitar pertengahan 2011, Pemkot menggelar penilaian para finalis yang pesertanya nggak hanya dari Bandung saja. Salah satu jurinya adalah kang Tisna Sanjaya. Kebetulan, saat itu saya meliput kegiatan tersebut.

Singkat cerita, kalau tak salah pada akhir 2011, dewan juri pun mengumumkan pemenangnya. Saya lupa siapa yang menang, karena saat itu saya nggak lagi liputan di Pemkot. Yang pasti, hasil obrolan dengan pak Ayi Vivananda -yang saat itu menjabat wakil wali kota- desain pemenang akan segera dibangun oleh swasta, kalau nggak salah perusahaan rokok, sekitar 2012.

Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Sampai sekarang desain hasil sayembara tersebut belum pernah dibangun. Bahkan tiba-tiba saja beberapa waktu kemudian muncul bando di dekat jembatan itu. Tapi kalau tak salah, sekarang bando itu sudah nggak ada.

Apakah kemunculan banyak bando secara tiba-tiba ini berhubungan dengan pilwalkot dulu? Entahlah, semoga saja bukan hehe *teori konsfirasi tiba-tiba bermunculan*.

Ada komentar?

%d bloggers like this: