Awiligar dan Oecusse

OECUSSE adalah salah satu distrik di Timor Leste, atau kita dulu mengenalnya dengan Timor-Timur. Ada yang unik dengan distrik yang beribukota Pante Makasar (dengan satu ‘s’) itu.

Apa yang membuatnya menarik? Daerah yang kata Wikipedia dinamakan Oecussi-Ambeno itu letaknya terpisah dari Timor Leste. Alias berada di kawasan Timor-Barat yang sampai saat ini masih termasuk ke dalam wilayah Indonesia.

Bagi saya yang belum pernah ke sana, rasanya aneh ketika bagian dari sebuah negara terhalang oleh negara lain. Bagaimana jika ada warganya yang ingin mengurus KTP atau kartu keluarga, misalnya?

Karena belum pernah ke sana, saya nggak tahu bagaimana kondisi warganya, ketika mereka harus pergi ke ibu kota Dili. Mungkin warganya harus menyiapkan paspor dulu :D.

Lalu, apa hubungannya dengan Awiligar?

Sebenarnya tidak ada. Awiligar ada di Kabupaten Bandung, Oecusse ada di Timor Leste. Yang satu berada di bawah kekuasaan yang mulia Dadang Naser (YMDN), yang satu lagi saya nggak tahu siapa pemimpin distriknya. Satu yang pasti, keduanya tidak menjalin kerja sama sister city.

Lalu apa?

Saya tiba-tiba saja teringat dengan Oecusse ketika menyadari bahwa daerah ini cukup jauh, lalu dengan iseng saya twit di twitter. Bagi saya, yang jadi kemiripannya adalah karena kawasan ini sama-sama terpencil, jauh dari daerah induknya. Itu saja.

Awiligar berada di Kecamatan Cimenyan. Berbeda dengan 30 kecamatan lain yang berada di bawah YMDN, letak Cimenyan bisa dibilang salah satu yang cukup terpencil, hampir terpisah dengan daerah induknya. Daerah ini hanya dihubungkan oleh kecamatan Cileunyi yang juga nun jauh di sana.

Akhir pekan lalu saya berkesempatan menjelajah ke daerah sana, ke Awiligar, sebuah kawasan yang cukup nyaman sebenarnya, namun cukup terpencil dan dengan kondisi jalan yang -seperti biasa- rusak.

Untuk mencapai daerah ini, salah satu cara yang paling mudah adalah lewat Kota Bandung. Yap, kalau kita berangkat dari Soreang menuju Cimenyan, cara paling mudah adalah lewat daerah kekuasaan Ridwan Kamil.

Untuk mencapai Awiligar, dari Jalan PHH Mustopa kita belok kiri di perempatan JL Pahlawan. Lalu di pertigaan kita belok ke kiri menuju Jalan Cikutra. Selang beberapa puluh meter, ada minimarket Alfamart dan Indomaret. Di sana ada jalan ke kanan, menuju Jalan Cikangkawung. Setelah itu, tinggal ikuti jalan tersebut, menanjak hingga melewati perbatasan antara Kabupaten dan Kota Bandung. Perbatasan yang didasari peraturan pemerintah nomor 16 tahun 1987.

Daerah perbatasan Kabupaten dan Kota Bandung

Daerah perbatasan Kabupaten dan Kota Bandung

Pemandangan dari Cimenyan, terutama kawasan Awiligar, sebenarnya sangat bagus. Apalagi ketika malam hari, kita bisa melihat gemerlap Kota Bandung di bawah. Sementara cuaca di sana pun sangat sejuk, bahkan cukup dingin ketika malam menuju dini hari. Saya yang dua hari tidur di sana tanpa selimut tebal, lumayan cukup kedinginan. Apalagi harus tidur di lantai karpet. Untung lantainya dari kayu, kalau dari keramik bisa bronchitis :D.

Jalan buntu di Awiligar

Jalan buntu di Awiligar

Tapi….
Saya membayangkan kalau saya jadi warga Cimenyan. Sepertinya bakal banyak kerepotan yang tercipta. Bagaimana kalau saya harus mengurus KTP atau STNK? Percayalah, jarak Cimenyan-Soreang itu jauh banget.

Saya nggak bisa membayangkan bagaimana kerepotan para petugas desa atau kecamatan ketika mengurus administrasi penduduknya. Juga petugas KPU ketika mempersiapkan pemilu kemarin. Selain repot, yang pasti boros ongkos.

Aneh, kenapa daerah ini nggak diberikan saja ke Kota Bandung atau masuk ke bagian Bandung Barat. Toh cimenyan lebih dekat ke Lembang daripada mayoritas ibu kota kecamatan di Kabupaten Bandung. Atau, masukkan saja ke Kabupaten Bandung Timur, toh daerah kekuasaan YMDN saat ini sudah terlalu luas.

Begitu, yang mulia..

Ada komentar?

%d bloggers like this: