Menulis itu (tidak) mudah!

PRAMOEDYA Ananta Toer pernah berucap, orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Tadi pagi, ada cara hajatan besar di sekolah tempat saya ngajar. Selain hajatan imtihan bertajuk Akhat, juga ada peresmian gedung sekolah baru. Sudah beberapa tahun terakhir pesantren tempat saya ngajar di waktu weekend ini memang sedang membangun.

Bahkan proses pembangunan sudah dimulai sejak saya masih sekolah di sana, sekitar 18 tahun lalu. Sejak saat itu, sekolah terus mempercantik diri, hingga diresmikan tadi siang.

Nah, seperti acara Akhat tahun-tahun sebelumnya, acara hajatan tahun ini pun ada semacam bazar buku, meski buku yang dijual tak selengkap biasanya. Sebagian besar buku keagamaan dan motivasi.

Tapi ada yang menarik. Bahkan sangat menarik. Di depan pintu masuk, selain menampilkan deretan buku jualan, ternyata ada deretan buku -atau lebih tepatnya dummy- karya siswa.

Ada belasan -atau puluhan, saya tak menghitungnya- ‘buku’ yang terhampar di sana. Isinya? Bukan, bukan buku laporan. Ternyata itu adalah novel karya siswa. Dari membaca sekilas judul-judulnya, tema novelnya beragam. Ada cerita cinta-cintaan khas remaja, ada cerita bernuansa keagamaan, ada juga yang tentang perjalanan.

Katanya, itu merupakan salah satu tugas Bahasa Indonesia. Diumumkan sejak sekitar 3 bulan lalu. Dan semua siswa diharuskan membuat novel (mungkin lebih tepatnya novelet, karena masih belum terlalu tebal :D).

Ini menarik, karena baru kali ini saya lihat ada tugas yang cukup spektakuler: menyuruh siswa bikin novel. Meski saya belum baca buku-bukunya, saya pikir tugas ini keren, karena memaksa siswa untuk menulis, dengan jumlah karakter yang cukup banyak tentunya.

ketika melihat deretan novel itu, kadang miris dengan kondisi saya yang tiap hari mengedit (kadang mengetik ulang) +- 50 ribu karakter. Jika dalam sebulan saya kerja 20 hari, saya sudah mengetik sekitar satu juta karakter! Jumlah sebanyak itu kalau dibikin buku bisa berapa halaman?

Tapi ya begitulah, kadang-kadang menulis itu sulit. Bahkan ketika ide sudah ada di kepala dan sudah siap dikeluarkan, ternyata masih macet ketika sampai di depan keyboard.

Bahkan ketika sengaja beli domain dua tahun lalu, saya pernah bertekad bisa sering menulis di blog. Masa mahal-mahal beli domain dan sewa hosting tapi nggak dipakai?

Tapi rencana tinggal rencana, wacana tinggal wacana. karena kadang menulis itu susah.

Selamat buat kalian, siswa kelas 10 yang sudah berani menulis novel. Menulis adalah semacam keberanian mengalirkan ide di kepala. Karena, sekali lagi, menulis itu seringkali tidak mudah.

4 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: