Mari berkontribusi!

BAGI sebagian orang, Sabtu sore adalah saatnya untuk bersantai atau berlibur atau *ehem* pacaran. Tapi buat yang tak bisa berlibur atau bersantai atau *ehem* pacaran, lebih baik meluangkan waktu dengan berkontribusi. Buat diri kita bermanfaat untuk orang lain. hehe.

Jumat (18/7/2014) pagi yang tak pagi-pagi amat, di kantor ada selebaran yang tergeletak di dekat meja komputer saya. Isinya, seperti biasa yang terjadi di bulan Ramadan, adalah acara ngabuburit. Tapi ini beda. Selebaran yang sepertinya baru dicetak itu berisi acara ngabuburi bersama si Rubah alias Mozilla. Waw.

Setahu saya, acara ngabuburit itu harusnya digelar Minggu, hari ini. Tapi di selebaran, ternyata Sabtu sore mulai jam 3pm. Waw. Maka tanpa pikir panjang, saya pun langsung daftar secara daring di situs eventbrite.com. Katanya, 30 peserta pertama bakal dapat tajil gratis! Ini pengumuman yang sangat penting haha.

Sabtu jam setengah dua siang saya pergi dari rumah. Rencana awal, tadinya mau istirahat dulu di markas AJIB di Jalan Gempol, tak jauh dari lokasi acara yang digelar di Wahana Bakti Pos Jalan Banda. Tapi ternyata THR sudah pada cair sedemikian sehingga Bandung macetnya gila-gilaan. Macet di mana-mana. Alhasil, saya baru sampai di Jl Gempol pas jam 3 sore.

Setelah istirahat sebentar sambil menunggu adzan Ashar, saya pun pergi ke TKP yang jaraknya cukup dekat. Saya baru sampai ke lokasi sekitar jam 3.40 sore. Sudah telat.

Tapi pas masuk ke lokasi, ternyata belum banyak peserta yang datang. Ketika saya datang, peserta workshop baru sekitar 4 orang saja. “Mungkin macet kang,” ujar panitianya. Yayaya, lalu lintas Bandung memang sedang menyebalkan sore itu.

Jam 4 sore. Acara masih belum dimulai. Apalagi baru segelintir peserta yang datang. Wah bisa telat ini beresnya. Pikir saya. Padahal saya punya agenda lain sore itu, buka bareng geng matematik yang digelar di Warung Kehidupan.

Untunglah, sekitar jam 4 lebih, panitia yang ternyata cuma dua orang (dan anak UPI!) mulai membuka acara. Dimulai dengan diskusi mengenai apakah penting melakukan pelokalan sebuah aplikasi ke dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah di Indonesia.

Setelah itu dilanjut dengan penayangan dua (atau tiga, saya lupa) video tentang Mozilla dan para Mozillian di seluruh dunia. Terus dilanjutkan dengan Hangout bareng salah satu aktivis Mozilla Indonesia yang sekarang sedang mukim di negeri Neuer, Jerman.

Dan workshop L10N alias localization alias pelokalan pun dimulai.

Sebenarnya, proyek pelokalan Mozilla ini tak beda jauh dengan proyek sejenis yang sudah lama berkembang di dunia opensource (cmiiw). Seperti pelokalan KDE, GNOME, dll, termasuk aplikasi Twidere yang saya ikut di sana menyumbang seperak dua perak terjemahan :D.

Intinya ya menerjemahkan berkas .po ke dalam bahasa tujuan dari bahasa Inggris. Di Mozilla, selain Bahasa Indonesia, ada beberapa proyek bahasa daerah yang mulai dirintis. Di antaranya Bahasa Sunda, Jawa, dan Minangkabau. Saya nggak tahu apakah bahasa daerah lain sudah mulai dirintis atau belum. Yang pasti, untuk bahasa Sunda, masih sedikit berkas yang sudah diterjemahkan.

Untuk itulah perlu banyak bantuan dari Anda, hey pengguna internet yang ingin berbuat secuil kontribusi di dunia opensource. Jangankan bahasa daerah, untuk bahasa Indonesia saja belum semua beres diterjemahkan. Jadi, bantuan kita-kita masih sangat dibutuhkan.

Karena itu, mari saatnya berkontribusi, untuk Indonesia yang lebih baik 😀

2 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: