Pangandaran (bukan) milik warga Pangandaran

PANGANDARAN merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Jabar. Namun ternyata keuntungan wisata itu kebanyakan dinikmati orang luar. Kok bisa?

Pria itu masih asyik berbincang dengan para pengunjung yang melingkari sebuah makam. Dengan semangat, dia menjelaskan sejarah tempat tersebut. Sebuah tempat yang katanya pernah dikuasai kerajaan Galuh Pangauban pada tahun 600-an.

Sebenarnya bukan makam betulan. Karena di dalamnya tidak ada mayat yang terkubur. Hanya sebuah tempat yang ditandai tumpukan batu. “Orang dulu kan banyak yang sakti. Ada yang bilang di sini tempat terakhir dia terlihat. Setelah itu hilang,” ujar Arkin, kuncen Situs Batu Kalde.

Arkin Arifin nama lengkapnya. Dia mengaku merupakan warga asli Pangandaran. Artinya lahir dan besar di kawasan pantai, dan sekarang menjadi kuncen situs Batu Kalde. Dia sangat bersemangat ketika menjelaskan sejarah situs yang berada di kawasan Cagar Alam tersebut.

Situs itu dinamakan Batu Kalde karena di sana ada sebuah batu yang mirip seekor kalde atau sapi kecil. Bisa jadi sejenis keledai. Menurut informasi yang tertulis pada sebuah batu besar, situs yang juga dinamakan Sapi Gumarang itu dulunya merupakan tempat bersembahyang masyarakat Hindu pada zaman kerajaan Pananjung.

Patung Batu Kalde merupakan satu di antara banyak reruntuhan bekas candi di kawasan tersebut. Arkin mengatakan, di tempat itu dulu memang ada candi, namun kini hanya tinggal reruntuhannya saja. Plus lima buah makam yang diperkirakan merupakan makam para pembesar kerajaan.

“Katanya candi ini hancur oleh para bajak laut pada abad ke-16,” ujar Arkin yang mengaku orang asli Pangandaran.

Arkin sedang menjelaskan situs Batu Kalde

Arkin sedang menjelaskan situs Batu Kalde

Dia mengatakan, sudah sejak lama kawasan Pangandaran sudah dihuni oleh masyarakat. Lokasinya yang unik bisa jadi menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan sejak abad ke-6 kawasan tersebut sudah ramai, ditandai dengan berdirinya kerajaan Galuh Pangauban.

Dan keramaian di salah satu destinasi wisata andalan Jawa Barat itu masih terasa. Setiap liburan datang, kawasan ini dipastikan ramai oleh para wisatawan yang sebagian besar dari Jawa Barat. Padahal untuk mencapai ke lokasi, jalur yang ditempuh tidak mudah, meski untungnya sebagian besar jalan sudah mulus.

Namun, apakah dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Pangandaran berdampak positif pada warganya? Seharusnya iya.

Arkin mengatakan, sebenarnya banyak pengelola wisata, seperti penginapan dll, ternyata tidak dimiliki sepenuhnya oleh warga asli Pangandaran. Bahkan boleh dibilang kebanyakan dimiliki oleh orang luar, terutama Jakarta dan Bandung.

Hal ini, kata dia, sebenarnya dapat dilihat dari arti nama Pangandaran. Menurutnya, Pangandaran berasal dari kata Pangan yang artinya makan, dan Andaran yang artinya pelancong atau pendatang.

Jadi, kata pria yang mengaku lahir di Pangandaran ini, Pangandaran bisa diartikan sebagai tempat pelancong atau pendatang mencari makan. Jadi, jangan heran jika kebanyakan pemilik usaha di Pangandaran, entah itu hotel, penginapan, rumah makan, dll, bukan warga asli Pangandaran. Meski bisa jadi, mereka sudah lama tinggal di kawasan yang berbatasan dengan Jawa Tengah itu.

“Makanya dulu pantai ini dinamakan Pantai Pananjung. Tapi sekarang lebih dikenal sebagai Pantai Pangandaran,” ucapnya.

Warga asli Pangandaran sendiri, kata dia, sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, rumah warga asli pun tak lagi dekat dengan daerah wisata yang ramai. Tapi sudah mulai agak terdesak ke dalam.

“Sebagian warga sekarang tinggal di Sukahurip Babakan,” ujar Arkin.

2 Thoughts.

  1. Maaf informasinya kurang tepat,untk identitas yg namanya arkin itu bkn kuncen, klw kuncenya sudah meninggal yaitu bpk sukianto mngkin klw keturunannya atau anaknya pasti Ada, karena pak sukianto juga merupakan keturunan dr kuncen terdahulu. Dan saya ini anaknya pak sukianto,terimakasih

    • wah terima kasih informasinya pak. saya dapat informasinya saat mendengarkan beliau bicara 🙂

Ada komentar?

%d bloggers like this: