Motor

Bulan Juni belum habis. Tapi sudah tiga kali kecelakaan motor. Duh. Dua kali jatuh dan sekali kaki (hampir) digeleng sama motor. Kok produktif banget mz..

Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya bakal jatuh juga. Begitu pun saat naik motor, saya suka mikir, kapan saya jatuh?

Bukan mendoakan, tapi peluangnya memang selalu ada. Selama kita naik motor, maka peluang kita celaka selalu ada, kan? Apalagi kalau melihat kondisi jalan di Indonesia, terutama di Kota dan -terutama- Kabupaten Bandung yang sungguh sangat keren sekali pisan. Sudah mirip arena motocross.

Dan benar saja. Awal Juni ini akhirnya harus merasakan kerasnya aspal yang tak mulus. Padahal saat itu saya nggak menjalankan motor terlalu ngebut. Motor saya memang nggak bisa ngebut, meski untuk nyusul bus atau truk mah masih bisa.

Malam pulang dari kantor, saya bawa motor lewat jalur seperti biasanya. Dari Pasteur belok kanan di Pasirkaliki, lalu belok kiri di Pajajaran, sebelum belok kanan di jalan kecil yang nanti tembus ke Kebonkawung. Lalu masuk jalan Otista yang biasanya ada teteh-teteh gemes mencari pria hidung belang. Dari Tegallega belok kiri ke Jalan BKR sebelum nantinya di perempatan belok kanan ke Jalan Moh Toha.

Dari sinilah jalan mulai agak keren. Mungkin dari banyak jalan yang biasa saya lewati, jalan Moh Toha merupakan jalan terjelek di Kota Bandung. Banyak jembatan betmen di sana. Bahkan dulu saya hampir nabrak angkot gara-gara menghindar lubang bekas selokan yang menyebabkan jalan agak ambles.

Malam itu, meski di kantor sudah sangat ngantuk, seperti biasanya kalau bawa motor malam-malam sangat jarang ngantuk. Masih segar dan konsentrasi. Bahkan memasuki wilayah Obarland, konsentrasi lebih meningkat karena jalannya yang aduhai sekali.

Petaka terjadi saat lewat belokan dekat Polsek Dayeuhkolot. Setelah belokan, jalan di sana cukup gelap dan aspalnya tak mulus-mulus amat. Itulah hasil kerja Dinas Binamarga Obarland ketika menambal jalan. Jalan yang awalnya berlubang, setelah ditambal malah mencuat ke atas. Tetap saja nggak rata.

Lalu ketika sedang berpikir tentang instalasi blankon, tanpa sadar saya menghindari jalan yang tak rata, dan tiba-tiba saja motor oleng. Lalu tanpa sadar, saya sudah jatuh dari motor. Jatuh ke arah kanan di jalan yang cukup gelap.

Beruntung, dari belakang tak ada kendaraan lain, karena kondisi memang cukup sepi. Entah apa yang terjadi kalau di belakang ada motor atau mobil 😐

Setelah dibantu sama bapak yang pakai topi, akhirnya saya bisa angkat motor yang jatuh. Saat itu saya belum merasakan efek dari kecelakaan itu. Yang saya pikirkan -setelah memastikan motor bisa jalan- adalah nasib laptop di tas. Gawat kalau laptop rusak 🙁

Di rumah, langsung saya cek laptop, dan alhamdulillah nggak lecet sama sekali. Cuma badan mulai terasa banyak yang sakit. Juga motor yang harus dioperasi. Lumayan mahal, 300 ribu melayang ke pemilik bengkel.

Setelah jatuh, saya makin hati-hati bawa motor. Apalagi motornya memang agak nggak enakeun, terutama kalau ngerem.

Tapi, meski kita sudah hati-hati, tetap saja kita bisa celaka oleh orang lain. Saat itu, dari Jalan Aruna saya mau ke jalan samping Bandara, karena jalan lintas Husen ditutup setelah pelaksanaan KAA sehingga kami harus melewati jalan kecil yang rusak demi bisa ke Pasteur.

Saat lampu hijau, saya langsung gas motor supaya maju. Saat itulah ada seekor monyet yang bawa motor hijau tiba-tiba nyelonong menerobos persimpangan Jalan Pajajaran. Bapak monyet pengendara motor yang bonceng anaknya (yang nggak pakai helm) itu seenaknya maju meski lampu sudah merah.

Kami yang telanjur tancap gas kaget dan cepat-cepat ngerem supaya tak menabrak monyet itu. Alhamdulillah tabrakan bisa terhindarkan dan si bapak monyet itu dengan santainya terus melaju. Saat itulah, saat sedang ngerem, tiba-tiba dari belakang ada bapak-bapak yang bawa motor telat ngerem, dan akhirnya melindas kaki kiri saya. Beruntung cuma sebagian saja yang terlindas, meski sakitnya hingga sekarang masih terasa. Gara-gara monyet!

Kejadian terakhir terjadi tadi malam. Dan TKP-nya di dekat rumah. Jalan yang menuju rumah saat ini masih diblokir karena sedang dibeton. Maka pengemudi motor harus cari jalan lain agar bisa lewat jalan tersebut.

Salah satunya adalah lewat gang kecil yang curam dan dekat sawah. Lalu harus menyeberangi sungai yang jembatannya tak ada pagarnya. Lalu setelah itu harus nanjak lagi.

Sudah dua hari saya lewat jalur itu. Baik saat pergi maupun saat pulang. Lalu terjadilah kejadian itu. Gang kecil yang curam itu jalannya sudah mulai rusak karena ratusan motor jadi sering lewat ke sana. Akibatnya, gang yang hanya ditembok seadanya itu kondisinya mulai rusak, termasuk pas tanjakan yang curam dan sempit itu.

Sialnya, saat menuruni gang curam itu, saya salah pasang gigi, malah ke gigi 1. Sialnya lagi, saya lupa menginjak rem belakang, jadi saat turun saya hanya pakai rem depan saja. Semakin turun, motor semakin berat, dan saya pun terpaksa turun dan menuntun motor sambil tetap ngerem ban depan. Sialnya, karena jalan yang agak bolong, saya tak tahan menahan berat motor. Dan terjadilah, motor itu jatuh ke kanan, hampir masuk sawah yang untungnya sedang kering.

Beruntung masih ada anak-anak yang ngatur gang kecil itu, dan mereka pun membantu mengangkat dan mendorong motor ke gang yang agak terang. Dari perbincangan warga, katanya sudah beberapa motor yang kecelakaan di kawasan itu. Hmm..

Semoga saja jalan yang dibeton segera dibuka. Saya kapok harus lewat gang itu lagi 😐

Ada komentar?

%d bloggers like this: