Ngarujak di puncak Burangrang

SEBAGIAN orang mendaki gunung untuk kemping di puncaknya. Tapi apa yang kami lakukan agak lain. Kami ke puncak untuk tujuan mulia: ngarujak.

PUNCAK!

Agak mahiwal memang. Tapi itulah yang dilakukan oleh kami, sekelompok orang berdelapan orang yang sedang menyamar menjadi pencinta alam. Jauh-jauh ke puncak Burangrang yang berketinggian 2.050 mdpl untuk makan rujak.

Semua berawal ketika gegedug komplotan berinisial G mengajak untuk naik gunung dalam rangka menghilangkan lemak opor pasca-lebaran. Lewat WhatsApp, progammer game itu mengajak saya untuk naik gunung. Mumpung masih suasana libur lebaran, katanya.

Karena ngajar masih libur, saya putuskan untuk ikut. Sudah lama saya tak naik gunung. Kalau tak salah ingat, terakhir naik gunung bersama komplotan ini sekitar 4-5 tahun lalu ke Tangkubanparahu lewat Jayagiri -dan sempat tersesat. Apalagi kini tujuannya bukan lagi Tangkubanparahu, tapi tetangganya, Burangrang, yang sempat saya kira itu merupakan Tangkubanparahu.

Singkat cerita, Sabtu 25 Juli kami berangkat. Jumlah komplotan sebanyak 8 orang. 2 laki-laki dan sisanya perempuan. Dari 6 perempuan ini, dua di antaranya belum pernah sekali pun naik gunung, dua orang pernah naik Tangkubanparahu, dan dua lainnya sudah sering naik gunung, bahkan sudah pernah menjelajah Gunung Semeru.

Sabtu pagi sekitar jam 5.30 saya sudah berangkat dari rumah. Karena katanya kami harus kumpul jam setengah 7 di Cimahi. Setelah menjemput R yang menunggu di depan kantor, kami berdua berboncengan bergerak ke titik kumpul di SPBU Cimindi. Ternyata jadwal harus kumpul jam setengah 7 hanya wacana. Kami baru berkumpul semua sekitar jam setengah 8. Setelah semua kumpul, kami pun berangkat ke pos masuk kawasan Burangrang.

Dari hasil penelusuran google, ada dua pintu masuk ke kawasan Burangrang. Pertama lewat pos yang disebut pos Komando. Ini merupakan kawasan militer, dan katanya tak jarang sering terdengar bunyi senapan dari tentara yang sedang berlatih. Pos ini katanya sudah ditutup sehingga pendaki dilarang lewat pos ini. Belakangan kami baru tahu bahwa kita masih dapat masuk lewat pos ini. Cuma saya tak tahu apakah legal atau tidak.

Sementara pos kedua lewat Desa Tugumukti, KBB. Ini merupakan desa yang paling dekat dengan puncak gunung. Rencananya kami berangkat lewat pos ini. Meski jalannya lebih jauh dan memutar, katanya jalur ini lebih aman dan legal.

posko pendaftaran

Desa ini jaraknya cukup jauh dari jalan raya dan lebih mudah dicapai menggunakan motor. Pastikan kondisi motor Anda cukup baik dan tak bermasalah. Karena jalannya kecil, banyak tanjakan curam, dan kondisinya sebagian masih berbatu. Kalau malam, jalannya cukup gelap karena penerangan yang kurang. D

ari pertigaan Cimahi hingga desa Tugumukti jaraknya sekitar 1 jam pakai motor. Sekitar jam 8.30 kami baru sampai di rumah Pak RW 10 yang saya lupa namanya. Seluruh pendaki yang masuk lewat desa ini wajib lapor ke rumah Pak RW dengan menuliskan nama di buku yang sudah disediakan. Juga harus bayar sebesar 5.000 rupiah per orang.

Pendaki wajib lapor karena kalau ada apa-apa, kecelakaan misalnya, mereka bisa segera tahu dan mengevakuasi pendaki dari gunung. Sebagai warga asli lereng Burangrang, sebagian besar warga -terutama yang laki-laki- sudah berpengalaman dalam mendaki dan melakukan evakuasi korban.

Setelah beristirahat sebentar, sekitar jam 9 kami mulai berangkat menuju puncak. Kalau tak ada rintangan, waktu tempuh hingga ke puncak sekitar 3-4 jam. Jalan masuk lewat pos ini adalah jalan kecil perkebunan milik warga, yang di pinggirnya ada kuburan. Jalan setapak itu menanjak, hingga ketemu kawasan rerumputan yang agak luas. Di tempat ini biasanya anak sekolah mengadakan kemping. Tempatnya cukup luas dan datar, sehingga cocok untuk mendirikan tenda. Apalagi di pinggir lapang ada saluran air.

Sebelum gunung

Tapi kita belum masuk kawasan hutan. Pintu masuk hutan jaraknya masih cukup jauh, sekitar 100-200 meter dari sana. Pemandangan sepanjang jalan menuju hutan cukup indah. Kita bisa melihat pemandangan kota Bandung di sebelah kanan dan perkebunan warga di lereng gunung di sebelah kiri. Jalannya pun masih bersahabat, tak ada tanjakan yang curam.

Selepas masuk hutan, petualangan pun dimulai.

Dibandingkan dengan jalur ke Tangkubanparahu lewat Jayagiri, jalur menuju puncak Burangrang dari pos ini kita tak usah khawatir bakal tersesat, karena jalurnya mudah diikuti dan tak banyak jalan bercabang. Kalau ada pun, ujungnya tetap sama, dan itu pun tak jauh. Yang jadi masalah adalah, di mana pun jalur menuju puncak selalu tak mudah.

Tak ada jalan dengan tangga yang mudah dilalui. Apalagi eskalator atau kereta gantung. Itu hanya ada di mimpi. Ini gunung, bung!

Untuk mencapai puncak, kita akan melewati tiga pos, dan jarak antarpos tidak sama. Saat masih di bawah, saya membayangkan pos itu berupa saung atau gubuk kecil dan ada penjaganya. Tapi ternyata bayangan saya salah. Jarak dari awal masuk hutan hingga pos satu cukup jauh, dan mungkin yang paling jauh.

Jalurnya pun mulai bikin kaki pegal. Tak jarang kita harus mencari akar atau ranting untuk pegangan. Meski sudah masuk kawasan hutan, namun pepohonannya masih belum terlalu rapat, sehingga matahari masih bisa masuk dengan mudah.

Istirahat dulu

Beruntung kami mendaki saat musim kemarau, sehingga meski medan cukup berat, namun masih bisa dilalui dengan mudah karena tanahnya tidak licin. Sekitar jam 10.40 akhirnya kami sampai di pos pertama.

Ternyata, pos ini hanya sebidang tanah agak luas dan ada tulisan Pos I Burangrang yang dipaku di sebuah pohon besar. Tak ada itu saung apalagi warung. Beruntung perbekalan kami cukup lengkap, saya sendiri bawa air sekitar 2 liter dan makanan ringan.

Kuncen pos 1

Setelah istirahat 15 menit, kami pun kembali berangkat karena hari sudah mulai siang. Kami takut tak bakal sempat sampai puncak karena diburu waktu. Kami sudah harus turun sebelum magrib. Jalur dari pos 1 ke pos 2 lumayan terjal. Padahal katanya Burangrang merupakan trek untuk pemula.

Menuju pos 2, jalur pendakian semakin bikin tubuh pegal-pegal. Pepohonan pun mulai rapat. Tak jarang jalur yang dilewati hanya jalan setapak kecil yang hanya cukup dilewati seorang saja. Sementara di pinggirnya jurang yang cukup dalam. Beberapa kali kami harus beristirahat demi bisa bernapas agak lega, sementara keringat semakin bercucuran.

Selama perjalanan ke puncak, kami berpapasan dengan beberapa pendaki. Mereka sepertinya kemping di puncak malam sebelumnya. Sebagian besar masih abg, bahkan ada anak kecil. Dari mereka kami tahu bahwa di atas sudah ada banyak orang yang mau berkemah. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai pos 2. Padahal jarak antara pos 1 dan pos 2 tak terlalu jauh. Tapi stamina yang mulai menipis membuat waktu tempuh cukup lama.

Seperti pos 1, di pos ini pun tak ada bangunan apapun, kecuali sebatang pohon besar yang roboh dan bisa dijadikan tempat duduk, meski pemandangannya cukup mengerikan: jurang. Di pos ini pun kami tak lama beristirahat.

Pos 2

Jika jalur ke pos 2 sudah cukup terjal dan menguras tenaga, maka jalur setelah pos 2 benar-benar bikin seluruh tubuh pegal-pegal. Kami tak lagi harus berjalan, tapi benar-benar memanjat jalur yang kemiringannya hingga 90 derajat. Sepanjang jalan menuju pos 3, ada beberapa jalur yang membuat kami harus memanjat jalan dan sangat berhati-hati.

Kami pun semakin sering berhenti untuk beristirahat. Perbekalan -terutama air- mulai menipis, padahal puncak masih jauh. Hari pun sudah siang, sudah lebih dari jam 12. Beruntung pepohonan yang cukup rapat membuat kami tak terlalu kepanasan.

Dari jalur ini kita sudah bisa melihat puncak lain Burangrang. Katanya, ada tujuh puncak di Burangrang, dan yang kami tuju adalah puncak tertinggi, yang belakangan saya baru tahu bahwa puncak itu merupakan perbatasan antara KBB dengan Purwakarta.

Di sana kota Bandung

Sekitar jam 13.10 kami akhirnya berhasil melewati pos 3. Kami tak tahu berapa lama lagi akan sampai puncak, karena belum ada tanda-tanda kelihatan ujung jalannya. Berbeda dengan dua pos sebelumnya, pos 3 letaknya di jalan setapak pinggir jurang dan tak ada tempat untuk beristirahat. Karena sudah lewat tengah hari kami putuskan tak lama istirahat dan melanjutkan perjalanan. Ternyata jarak dari pos 3 ke puncak sangat dekat.

Tak jauh dari pos 3, kami mendengar sayup-sayup orang yang sedang ngobrol. Saya pikir mereka sedang istirahat seperti kami. Namun dugaan saya salah, ternyata mereka sudah ada di puncak. Mereka agak turun sedikit karena di puncak ada banyak orang, sehingga istirahat makan di sana.

Jika dihitung, dari pos terakhir ke puncak tak lebih dari 10 menit perjalanan. Akhirnya, pukul 13.20 kami tiba di puncak Burangrang di ketinggian 2.050 mdpl. Berhasil!

Tugu

Sayangnya ini hari terakhir libur sehingga banyak orang yang seperti kami, menghabiskan sisa-sisa liburan di puncak gunung. Saat kami tiba di tugu puncak Burangrang, setidaknya sudah ada 3 tenda yang didirikan di sekitar tugu. Karena kawasan puncak cukup sempit, kami pun putuskan untuk beristirahat di puncak sebelah utara yang agak lapang.

Muka-muka kelelahan

Di tempat inilah kami beristirahat dan melaksanakan tujuan utama kami naik gunung: ngarujak. Untunglah rujak yang dibikin ibu-ibu komplotan yang sedang menyamar jadi pencita alam tak terlalu pedas. Gawat kalau sakit perut, harus dibuang di mana? hehe..

Ngarujak

Sayangnya kami tiba di puncak sudah siang, sehingga banyak kabut yang menghalangi pemandangan di bawahnya. Padahal kalau sedang cerah dan tak ada kabut, dari puncak kita bisa melihat danau Lembang. Juga pemandangan Bandung raya di kejauhan. Kabut di puncak memang cukup tebal, bahkan tak jarang jarak pandang bisa kurang dari 10 meter.

Kami tak lama di puncak. Tujuan kami memang bukan untuk kemping, tapi hanya hiking dan ngarujak saja. Meski kaki masih pegal, sekitar jam 3 sore kami sudah mulai bersiap-siap untuk turun lagi. Tapi sebelumnya tak lupa kami foto-foto di tugu puncak, sebagai bukti pernah menaklukkan Burangrang. Karena nopic adalah hoax.

Seperti halnya mendaki, turun gunung ternyata tak mudah, bahkan mungkin lebih sulit. Apalagi dengan kondisi badan yang sudah sangat lelah. Untunglah hari sudah mulai sore dan sudah tak terlalu panas. Selama perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki lain yang hendak kemping. Sepertinya malam ini, suasana puncak bakal sangat ramai dan penuh.

Turunnya susah

Kami pun bertemu dengan sejumlah warga desa. Belakangan diketahui mereka naik ke puncak karena ada informasi sejumlah pendaki tersesat. Para ABG yang naik gunung itu, yang ternyata masih warga desa Tugumukti, katanya berangkat pagi-pagi sekali dan hingga sore tak diketahui di mana rimbanya.

Pengumuman

Saat kami tiba di pos RW sekitar jam 6.30, mereka belum juga ketemu. Namun sekitar jam setengah 8 ada kabar rombongan yang tersesat itu sudah ditemukan. Alhamdulillah. Dari obrolan ibu-ibu yang berkumpul di rumah Pak RW, mereka berangkat pagi dan hendak ngabotram di puncak gunung. Lalu katanya mereka pulang lewat jalur lain, bukan lewat jalur sebelumnya, dengan tujuan mau ke curug. Sayangnya, mereka malah tersesat.

Untunglah Pak RW dan warga lainnya bisa menemukan mereka. Tapi hingga kami pamitan (sekitar jam 8 kurang), rombongan pendaki yang hilang maupun warga yang mencari belum juga turun. Saya tak tahu apakah mereka langsung turun gunung atau kemping dan pulang esok harinya. Yang pasti, semuanya selamat.

Ada komentar?

%d bloggers like this: