Mencari Bandung #1

KETIKA selesai nyoblos pada pilpres tahun lalu, pikiran saya bukan lagi tertuju siapa yang akan menang, apakah Jokowi atau Prabowo. Tapi pikiran saya tertuju pada pilkada Kabupaten Bandung.

Jika dihitung saat itu, Juli 2014, pilkada Kabupaten Bandung sebenarnya masih lama, karena baru akan digelar akhir 2015. Sayangnya, hingga ramai hingar bingar perhelatan pilpres yang cukup panas itu, belum ada satu pun tokoh alternatif yang muncul dari Bandung untuk menantang sang petahana, DN, yang juga menantu bupati terdahulu.

Bahkan hingga awal 2015, belum ada tokoh yang benar-benar serius maju di pilbup itu. Sempat ada gosip Dede Yusuf akan maju, tapi ternyata cuma gosip belaka.

Saya sempat senang ketika ada dualisme di tubuh Golkar, karena sang petahana yang juga kader partai beringin itu bisa terganjal pencalonannya. Sial, ternyata beliau memilih jalur independen. Sebagainya bukan kader partai, cara ini serasa membajak jalur independen :|.

Loh, kenapa dengan beliau? Apakah kinerjanya buruk?
Kinerja DN mungkin tak buruk-buruk amat. Tapi jika dibandingkan dengan tetangga sebelah yang merupakan adiknya, si Kota Bandung, tentu saja gapnya terlalu jauh.

Misalnya di bidang infrastruktur, kondisi jalan-jalan di Kabupaten banyak yang buruk. Dan itu tak banyak berubah sejak 2010, ketika DN naik menggantikan mertuanya. Salah satunya jalan sepanjang Pameungpeuk – Cibaduyut yang selalu saja rusak. Sampai sekarang.

Juga jalan dari Banjaran menuju rumah yang sekarang kembali bolong-bolong, padahal baru beberapa bulan lalu ditambal pakai aspal yang tak seberapa.

Beberapa ruas jalan memang kini dibeton, tapi ya kok betonnya asal-asalan? Di jalan dekat rumah, pembetonan dilakukan dari setelah jembatan hingga gang depan rumah. Lalu disambung lagi sekitar 50 meter dari sana hingga ke dekat kantor desa.

Hingga kini yang sekitar 50 meter itu masih belum dibeton. Kagok banget. Kata kabar burung sih ini terjadi karena beda kontraktor.

Tak hanya pembetonan yang asal dibeton, di beberapa ruas jalan hanya dibeton saja, sementara selokannya dibiarkan tak diurus. Lah terus pas hujan seperti sekarang, itu air mau dialirkan ke mana mz?

Itu baru infrastruktur jalan. Belum masalah PJU. Ada anekdot yang tak cukup lucu. Jika kamu malam-malam dari Kota Bandung dan bingung apakah sudah masuk wilayah kabupaten atau belum, lihat saja kondisi jalannya. Kalau banyak jalan yang gelap karena lampunya mati, kemungkinan besar kamu sudah ada di Kabupaten.

Mungkin agak lebay, tapi dulu saya pernah iseng menghitung jumlah lampu yang hidup dan mati sepanjang jalan dari perbatasan antara kota dan kabupaten hingga pengkolan menuju rumah. Hasilnya, hampir setengah lebih lampu mati. Keren kan? Padahal kita sudah bayar PJU saat bayar listrik lho.

Lalu urusan banjir. Sejak saya pertama liputan pada Februari 2009 lalu ketika terjadi banjir di Cieunteung, hingga kini belum ada solusi konkret agar banjir itu bisa dikendalikan. Saat itu katanya akan ada relokasi dan pembuatan danau buatan. Hingga kini ternyata rencana itu baru sebatas wacana.

Ya, untuk masalah ini memang bukan hanya tanggung jawab Pemkab saja. Pemprov dan pusat pun terlibat. Tapi ya bagaimana pun pemkab ikut andil dalam membereskan masalah banjir ini.

Kalau bidang lain macam kesehatan, pendidikan, ekonomi, hukum, korupsi, dll bagaimana mz? Jujur saja, meski saya lahir dan tinggal di kabupaten, untuk isu-isu macam itu malah saya lebih paham masalah di Kota Bandung. Ironis ya. Iya.

Oke kembali ke pilkada serentak. Karena berbagai pertimbangan dan membandingkan dengan kota Bandung -yang meski saya pun sering nyinyir terhadap walikotanya haha- saya pikir bahwa kabupaten ini cukup tertinggal.

Makanya, ketika beres nyoblos pilpres tahun lalu, saya mulai mencari siapa tokoh alternatif yang bisa mengalahkan beliau. Dan hingga hari ini, beberapa jam sebelum nyoblos, saya belum menemukan tokoh itu. Ya, mau calon nomor 1 atau 3, saya tak yakin dengan mereka.

Lah siapa mereka? Mungkin saya yang kurang gaul, tapi ya ketika digoogling, nama mereka tak cukup banyak muncul ke permukaan. Google yang maha tahu aja tak cukup tahu tentang kiprah mereka, bagaimana saya mau percaya? haha.

Pada pilkada 2010 lalu, sempat ada harapan ketika PKS -ya partai yang sering dinyinyiri oleh para netizen yang terhormat, termasuk oleh saya haha- maju mengusung calon sendiri. Tapi saya kecewa, karena pada pilkada tahun ini partai ini malah gabung sama yang membajak jalur independen. Apakah mereka tak cukup pede? Entah lah.

Padahal meski saya sering mencemooh partai ini -dan partai lain juga supaya adil- untuk beberapa pilkada saya lebih memilih calon dari partai ini. Waktu Aher pertama nyalon pada 2008 lalu pun, saya coblos beliau. Juga pada pilkada 2010 itu. Tapi waktu Aher maju untuk kedua kalinya, saya tak memilih beliau (semoga orang kantor tak tahu ini hahahaahha).

Jadi jadi siapa nih yang bakal dipilih pas pilkada beberapa jam lagi? Entah lah, sampai sekarang saya tak punya pilihan. Meski pemilu itu biasanya memilih yang terbaik di antara yang terburuk, untuk sekarang saya belum melihat mana yang agak mendingan dari ketiga calon itu.

Apa pilih calon nomor 4 saja ya? Haha..
seum

Ada komentar?

%d bloggers like this: