Menulis itu harus jeraus berkata-kata supaya cempiang

Jurnalis adalah penulis juga. Seperti halnya novelis atau pembikin puisi. Bergaul dengan kata-kata harusnya menjadi makanan sehari-hari. Kata-kata menjadi kekuatan. Maka penulis harus jeraus menggunakan kata. Betul?

Hah, apa pula itu jeraus?

Senin siang menjelang zuhur, saat baca koran PR di ruang guru, saya terantuk pada dua buah kata dalam berita headline tentang kerusuhan di Lapas Banceuy dua hari sebelumnya. Satu kata cukup sering digunakan tapi tidak dengan varian kata lainnya. Sementara kata kedua benar-benar baru baca. Apa ini sebuah typo?

Sebagai orang yang setiap hari baca tulisan orang, mata ini memang agak sensitif kalau baca kata-kata yang agak hipster. Tapi kalau typo kan agak mustahal, masak di headline -halaman pertama lagi- bisa typo?

Namun setelah buka aplikasi kamus di ponsel -yang saya bikin bulan lalu *ehem*, dua kata itu, menukas dan setakat, ternyata memang baku. Artinya ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III.

Menurut KBBI, ‘menukas’ itu salah satu artinya mendakwa (menuduh) tanpa alasan yang cukup. Sementara ‘setakat’ artinya hingga atau sampai. Kata yang unik dan cukup hipster, bukan?

Dalam berita, setidaknya yang saya edit sehari-hari, memang jarang ada yang menggunakan kata-kata ‘unik’ di tulisannya. Biasanya kata-kata yang begini suka keluar dalam novel atau puisi. Yang ada malah kata-kata asing yang sebenarnya sudah ada padanan katanya di Indonesia. Banyak juga yang gunakan kata-kata langit agar tampak ilmiah dan keren.

Salah satu penulis yang sering menggunakan kata-kata tak lazim padahal baku adalah Remy Sylado, salah satu penulis idola hamba. Di banyak buku novelnya, dia sering menggunakan kata yang hipster dan jarang diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang kata dari bahasa daerah yang tidak baku juga digunakan.

Berikut ini adalah beberapa contoh kalimat dari dua buku yang pernah saya baca. Dikutip dari novel Namaku Mata Hari dan Sam Po Kong.

Besok-lusa orang akan mengetahui bahwa dia pemuda yang tidak bisa disepelekan. Dia termasuk cempiang yang tangguh. (Sam Po Kong, lupa halaman berapa)

Tak ayal, berbicara cempiang yang paling ampuh di dalam pelayaran ini, niscaya itu adalah Ceng Ho belaka. (halaman 92)

“Kelihatannya dia sedang menuju ke hidup yang arahat,” kata Kiu Gi. “Kau tahu, suasana di Borobudur sangat mendukung.” (680)

Dia disekap di dalam penjara gua ini sepuluh tahun lalu karena menempelak sihir Hanira, menyebutnya sebagai pekerjaan berhala. (747)

Kumisnya yang ketel, terpuntir ke atas, persis dengan tokoh wayang wong yang aku kenal di kemudian hari, Gatotkoco. (Namaku Mata Hari, 18)

Ibu tidak tahan didera geram oleh tenahak ayah. (19)

…memang puguh beberapa kali terjadi perselisihan pendapat yang menyebabkan aku bludrek,… (119)

Maka senyampang santai di malam terakhir di Kota Kembang ini, aku tanyakan itu. (219)

Itu baru secuil. Ini beberapa kata lain yang berhasil saya catat saat membaca novel Sam Po Kong yang cukup tebal itu. Bagi yang penasaran, silakan cari sendiri artinya di KBBI. Apa? Tak punya kamus? Ya sudah cek saja sendiri di situs ini.

Jeraus – waad – cempiang – gawal – arkian – sitinggil – cancang – menjeramba – mubtadi – gelojoh – mustaid – ternahak – dangau – ihsanat – acaram – kasdu – astaka.

Jadi, bagaimana? Masih mau pakai kata dari bahasa asing dan internesyenel? Atau mengulik kata-kata dari KBBI yang tebalnya minta ampun? Nggak mau? Tak apa, toh seperti kata Alif Danya Munsyi yang adalah juga Remy Sylado, 9 dari 10 kata di Bahasa Indonesia dari bahasa asing, kok.

Kanan?

Ada komentar?

%d bloggers like this: