Ramadhan yang Berisik

Saya pikir, ketika Pemilu Presiden dua tahun lalu berakhir, segala hiruk pikuk antara pro A dan anti B berakhir juga. Tapi setelah dua tahun ternyata masih belum juga reda.

Bara gesekan antara kedua belah kubu masih tampak terasa nyata. Terutama di media sosial, wabil khusus Facebook dan Twitter.
Termasuk ketika masuk bulan suci Ramadhan. Bulan yang seharusnya diisi dengan banyak beribadah, malah diisi dengan segala macam debat sengit, saling berbagi berita yang sebagian di antaranya justru hoax, dan memanas-manasi suasana.

Berita-berita dari sumber yang tak jelas berseliweran di lini massa. Tak usah diselidiki apakah itu benar-benar fakta atau cuma khayalan si uploader alias hoax, yang penting dibagi supaya dapat amin. Sayangnya, sumber-sumber tak jelas itu ya itu lagi itu lagi. Situs blog yang maunya disebut situs berita padahal tak punya wartawan dan mengandalkan konten dari kopas sana sini dan mengandalkan pendapatan dari clickbait supaya dapat kue iklan dari ndoro gugel.

Ruang publik di dunia maya ini pun terasa sangat panas. Gerah. Saling beradu argumen lewat status dan cuitan. Perdebatan yang berujung pada pelabelan kamu pro A dan anti B. Seolah-olah di dunia ini hanya ada dua kubu. Kubu kami dan mereka. Tak peduli ada yang mau berusaha kritis dan tidak memihak salah satu kubu.

Dan saya terkadang ikut hanyut di antara riuh rendah isu panas itu. Saruana -_-

Ramadhan tinggal Ramadhan. Puasa tinggal puasa. Tapi perdebatan dan saling melempar hoax harus tetap berjalan. fyuh.

Kadang rindu dengan suasana Ramadhan masa kecil, ketika yang ada hanya gelak tawa dan keceriaan main kucing-kucingan setelah sahur hingga pagi. Atau main petasan sambil sembunyi-sembunyi karena takut dimarahi orang-orang tua yang terganggu. Atau ngabuburit ke alun-alun sambil beli banyak makanan yang akhirnya nggak dimakan ketika buka karena kebanyakan dan perut sudah kepenuhan.

Atau kekalutan ketika lupa mengisi buku ramadhan sehingga secara sadar dan sengaja meniru tanda tangan khotib agar supaya penuh dan dapat nilai besar sama guru.

Apa harus kembali puasa sosmed seperti beberapa bulan lalu? Rasanya kini agak sulit, karena kalau semua aplikasi sosmed dihapus, hape bakal kesepian. Seperti orangnya. 

Beberapa bulan lalu lumayan berhasil menahan keinginan untuk ngetwit karena aplikasinya dihapus. Tapi efeknya saya jadi kecanduan game one piece hingga hampir tiap hari main game itu. Alesam doang sih ini mah.

Eitsss, seperti kara pepatah, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Karena itu mari kita nyalakan lilin, eh mari kita perbanyak postingan positif di media sosial kita. Setidaknya diisi dengan status galau. Mari kita bombardir facebook dengan postingan  positif dan berfaedah demi kelangsungan umat manusia di dunia. halaah..

Ini postingan nggak jelas begini. Demi ikutan #juliNgeblog mau-maunya nulis hal yang nggak penting begini. Padahal sudah ketinggalan sehari juga -_-. huft

Ada komentar?

%d bloggers like this: