Stop making stupid people famous

SEJAK tahu ada orang yang namanya Jonru saat ramai-ramai pilpres dua tahun lalu, saya tak pernah sekali pun punya niat untuk ikut-ikutan like fanspage-nya. Juga follow akun Twitternya. Saya pikir baca-baca tulisannya bisa bikin level otak saya agak turun. Jadi lebih baik abaikan saja tulisan-tulisan dia yang sering dibagikan di jagad maya itu.

Tapi tulisan terakhir yang mengkritik Presiden Jokowi yang memilih Lebaran di Padang dan tidak sungkem ke ibunya di hari pertama Lebaran bikin saya gatal ingin menulis di sini. Ya hitung-hitung nambah ide buat mengisi hestek #JuliNgeblog.

Sebelumnya disclaimer dulu. Bagi saya, mengkritik pemerintah (termasuk mengkritik Presiden Jokowi) itu wajib bagi yang mampu. Banyak kebijakan rezim sekarang yang sangat harus dikritisi tanpa membawa pribadi presidennya, apalagi jika itu sangat tidak berkaitan.

Mau membeci sampai ubun-ubun juga silakan, tidak ada yang melarang. Tapi jika sampai mengajak orang lain membenci sesuatu (atau seseorang) tanpa menggunakan akalnya ya tunggu dulu. Ngapain akal hasil karunia Tuhan nggak dipakai, bukan?

Dalam postingannya di Facebook (yang saya baca dari hasil tangkapan layar dalam sebuah cuitan di dunia burung), mister J ini mempertanyakan kebenaran bahwa ibunya jokowi benar-benar ibunya. Ini isu yang sempat kencang saat pilpres lalu yang kalau nggak salah sudah diklarifikasi dan kini masih dipakai oleh mister J. Dan saya malas membahas masalah ini.

Saya cuma ingin menulis tentang Mister J yang mempermasalahkan Jokowi yang memilih tidak sungkeman di hari raya dan memilih berlebaran di Padang. Menurut pria yang katanya penulis itu, sungkeman merupakan tradisi penting orang Jawa dan aneh jika orang Jawa seperti Jokowi memilih tidak sungkem di hari pertama lebaran.

Jadi begini, mister J. Tahukah bahwa banyak orang Jawa (juga orang Sunda, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll, tulis nama daerah di sini) yang memilih tidak berlebaran? Ada yang memang karena memilih dengan senang hati, ada juga yang karena tugas.

Apakah mister J tahu bahwa banyak polisi, tentara, pegawai Kementerian Perhubungan, pegawai Kementerian kesehatan, petugas tol, pilot, sopir, masinis, pegawai bandara, terminal, stasiun, dokter, perawat, sopir ambulans, wartawan, koki restoran, penjaga warung, dll, yang tidak bisa berlebaran demi menjalankan tugasnya sedemikian sehingga orang-orang seperti anda bisa berlebaran dengan nyaman?

Apa mister J menganggap mereka yang bekerja di hari-h itu juga tidak berbakti pada orangtuanya? Apakah mister J bisa membayangkan bagaimana jika mereka keukeuh tidak mau bekerja karena menganggap kalau bekerja di hari raya -dan itu artinya tidak bisa sungkeman di hari pertama lebaran- bisa menjadikan mereka dianggap tidak berbakti pada orangtuanya dan malah bisa-bisa dianggap durhaka?

Atau dengan mengikuti logika anda, mister J, berarti mereka yang bertugas di hari raya itu memiliki riwayat yang tidak jelas tentang orangtuanya? Ah logika yang sangat dangkal, mister.

Ah sudahlah, ngapain membicarakan masalah logika dengan orang yang tidak punya otak eh otaknya tidak dipakai, bukan? Itu sama saja seperti membicarakan masa depan rumah tangga oleh para jomblo. Nggak bakalan nyambung. halah.

Jadi, mister J, mau dijual berapa itu otak anda? Sayang daripada tidak dipakai mending dijual saja.

*Sudahlah, stop making stupid people famous.*

2 Thoughts.

  1. BIasa itumah kerjaan orang yang gak punya kerjaan, Mr J termasuk orang yang kurang kerjaan, kalau dilihat dari tulisan tulisannya gak ada yang bermanfaat semoga kedepannya otaknya lebih waras.

Ada komentar?

%d bloggers like this: