Tentang kopi

Duh, sehari kelewat nulis blog buat ajang #JuliNgeblog. Ternyata konsistensi itu sulit yah. Untuk itu, hari ini mari kita menulis dua blog sekaligus. Tulisan pertama tentang kamu, kopi yang pahit tapi ngangenin :3

Sebenarnya saya bukan maniak kopi. Menyukai sewajarnya saja. Bukan seperti kelakuan salah satu pengunjung kafe Merdesa di Gedung Indonesia Menggugat yang bikin orang lain sebal, belum lama ini.

Bahkan sebenarnya saya pernah benci dengan kopi. Musuhan. Gara-garanya karena maag saya tiba-tiba kambuh karena kebanyakan minum kopi hitam merek Kapal Api. Saat itu, saya sedang ikutan LK 1 HMI, beberapa tahun lalu.

Kalau yang pernah ikutan LK, pasti tahu bagaimana padatnya materi yang digelar untuk para peserta. Materinya pun berat-berat, karena seringkali berhubungan dengan filsafat. Maka bagi saya yang jarang baca buku filsafat, diskusi yang berujung debat itu malah bikin mata mengantuk. Akhirnya kopi jadi andalan supaya mata masih bisa terbuka menyaksikan para peserta dan pemateri beradu debat.

Tapi ya efeknya, lambung saya bermasalah. Maag pun kumat di saat materi penting tentang Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Bagi kader HMI pasti tahu pentingnya materi NDP kan ya? Materi yang kadang bikin orang-orang menuduh anak HMI ateis :)).

Ok kembali ke kopi. Gara-gara trauma dengan kopi hitam, sejak saat itu saya cuma berani minum kopi campur. Entah itu kopi susu atau kopi merek Gooday yang kebanyakan gula dibanding kopinya. Kopi hitam? No way.

Tapi kemudian negara api menyerang.

Saya mulai kembali berani minum kopi hitam ketika mulai gandrung dengan Kopi Aroma. Kamu tahu kan Kopi Aroma? Orang Bandung harusnya tahu dengan kopi legendaris ini. Karena katanya Kopi Aroma ramah di lambung, saya kembali berani menyeduh kopi hitam. Bahkan kadang kopi pahit.

Saya mulai beli kopi ini setelah mengantar seorang teman asal Jogja yang ingin beli oleh-oleh berupa kopi, sekitar 2012 (atau 2013?) silam. Sayangnya saat itu hari Minggu, dan pabrik Kopi Aroma ternyata tutup.

Beberapa hari kemudian saya kembali ke sana dan beli 2 bungkus kopi arabica. Sejak saat itu saya kembali kecanduan dengan kopi. Kali ini kopi asli, bukan lagi kopi kw alias kopi sobek.

Untunglah kecanduan terhadap kopi tidak berlanjut dengan kecanduan minum kopi di warung kopi atau kafe. Mahal broo.. Saya pernah beli kopi di Ngopdoel dekat Gramedia. Secangkir kopi hitam dibanderol puluhan ribu. Padahal kalau beli Kopi Aroma bisa dapat dua bungkus. Apalagi kalau beli kopi di Starbucks. Hih.

Tapi bukan berarti anti kafe lah ya. Dua di antara kafe yang harga kopinya masih masuk akal adalah kedai Kopi Preanger di Buahbatu dan Kafe Merdesa di.. saya lupa tempatnya :D. Yang pasti tempatnya di daerah Monju, tepatnya di sekretariat Walhi.

Kebetulan salah satu barista alias tukang meracik kopi di Merdesa adalah teman saya. Seorang wartawan jempolan yang juga mahir jadi bendahara. Harga kopi di Merdesa masih masuk akal. Duit 10 ribu sudah bisa dapat secangkir kopi tubruk spesial. Saya lupa kalau Vietnam Drip berapa, pokoknya masih terhitung murah dan rasanya tak kalah sama kedai ternama *promosi, semoga dapat lagi kopi gratisan haha*.

Karena jarang ke kafe, saya biasanya beli kopi yang bisa dibawa ke rumah. Sayangnya, pilihan untuk beli kopi mentahan agak sulit, apalagi yang harganya murah :D. Apalagi saya makin jarang ke Kopi Aroma. Bukan karena mahal, tapi kadang antreannya panjang. Akhirnya kalau sudah ingin, ya terpaksa kembali ke kopi kw.

Untunglah kini ada saudara yang juga jualan kopi. Ini kopi bukan sembarang kopi, karena merupakan kopi juara dunia. Tak percaya? Baca saja artikel bikinan teman saya di Beritagar ini. Ya, kopi Malabar adalah salah satu kopi bergengsi di dunia.

Kopi yang dijual sama saudara ini diberi merek Kopi Banjaran. Harganya pun murah, cuma 20 ribu rupiah untuk satu bungkus ukuran sekian gram. Memang masih lebih mahal dibanding kopi Kapal Api, tapi percayalah, rasanya memang beda. *Promosi lagi haha*

Entahlah, sejak kenal sama kopi Aroma -kemudian kopi Malabar- rasa kopi Kapal Api atau pun merek pabrik lainnya terasa biasa saja. Serasa bukan kopi :D. Entah memang rasanya beda atau memang sugesti saja sih :D.

Kembali ke Kopi Banjaran, supaya promosinya nggak tanggung-tanggung. Kopi ini memang menggunakan kopi Malabar, tepatnya dari perkebunan di Gunung Puntang, yang masih masuk daerah Banjaran. Makanya namanya Kopi Banjaran. Karena masih baru, peredarannya pun masih terbatas, masih dijual dari mulut ke mulut tanpa promosi berlebihan, kecuali di dunia maya. Bagi yang penasaran mau mencoba, silakan kunjungi akun instagramnya di @kopibanjaran.

Sayangnya, karena masih baru, produksinya pun masih terbatas. Kadang saya tak kebagian kopi ini. Bahkan kemarin saat beli dua bungkus pun, ternyata itu stok pribadi penjualnya. Semoga Kopi Banjaran (dan petaninya) semakin berjaya yeaaah…

Jadi, masih mau minum kopi jagung -eh kopi sobek? Hhe

*Ditulis sambil menikmati segelas Kopi Banjaran pakai susu kental manis semanis kamu*

3 Thoughts.

  1. Kira kira apa yang membuat kopi banjaran tidak membuat kambuh penyakit mah…..rasanya ingin juga mencobanya….

Ada komentar?

%d bloggers like this: