Sebuah ironi

Tadinya mau nulis ini pada selasa (12/7/2016) lalu. Tapi sebuah insiden di facebook membuat mood untuk menulis beginian hancur sudah. Berkeping-keping.

Tapi kalau cuma ikuti mood hati, hidup bakalan susah ya. Makanya daripada terpuruk dengan nasib dan menyalahkan keadaan, mending berpikir hidup positif saja kan ya. Iyain saja deh biar cepat.

Jadi begini. Saat musim libur lebaran kemarin seperti biasa saya kebagian piket alias kerja di hari libur. Ya risiko sebagai pewarta, harus mau kerja di saat yang lain menikmati liburan.

Untunglah saya masih agak beruntung karena masih bisa bekerja di rumah. Selama ada internet dan komputer, saya bisa bekerja. Dan beruntung sejak akhir Ramadan lalu Indosat baik hati karena jaringannya ditingkatkan sedemikian sehingga rumah di kampung dapat koneksi 4G.

Dengan koneksi yang cepat (bahkan lebih cepat dari koneksi speedy di kantor :D), bekerja di rumah jadi lebih mudah. Padahal waktu masih dapat H+, kerja di rumah itu agak menyebalkan.

Terus ironinya di mana? Begini. Saat kerja di rumah, dengan keterbatasan kuota saya harus pintar-pintar hemat koneksi. Nah di tengah keterbatasan itu kok perasaan kerja malah lebih produktif ya.

Sambil kerja, saya masih bisa bikin 2 postingan di blog dan bahkan bisa sambil iseng-iseng ngoding. Kerjaan pun bisa beres sekitar jam 8-an malam.

Nah ini beda dengan di kantor. Dengan koneksi berlimpah, produktivitas kerja malah menurun. Begitu banyak penghalang sedemikian sehingga susah kali buat serius ngedit. Apalagi sambil nulis blog atau iseng ngoding.

Sebenarnya bukan faktor koneksi saja sih. Pernah kerja dari sekre Ajib dengan koneksi berlimpah juga, dan kerja bisa lebih cepat.

Jadi faktor apa ini? Apa karena sudah nggak betah di kantor? Eh..

*ditulis di ponsel pakai aplikasi Simplenote yang ternyata enakeun.

Ada komentar?

%d bloggers like this: