Lagi, memperpanjang (masa aktif) SIM di Polres Bandung

Akhirnya setelah ditunda-tunda hampir sebulan, niat memperpanjang SIM jadi juga. Untunglah masih ada waktu sebelum masa berlaku SIM benar-bensr habis. Karena sekarang kalau habis harus bikin baru. Lebih mahal.

Karena merupakan warga Kabupaten Bandung, maka urusan memperpanjang SIM harus ke mapolres Bandung di Soreang. Sebenarnya kalau normal proses perpanjangan bisa di outlet sim keliling. Sayangnya sejak beberapa bulan lalu katanya stok blanko SIM habis sedemikian sehingga harus ke mapolres.

Sengaja berangkat dari rumah pagi-pagi supaya bisa beres cepat. Sampai di mapolres sekitar jam setengah 9. Tapi di mana tempat perpanjangan sim? Setelah putar-putar cari tempat parkir, begitu mau parkir dikasih tahu sama bapak-bapak bahwa saya salah masuk kalau mau ngurus sim. Harusnya saya masuk lewat belakang.

“Nanti sampainya sama saja ke kantor bagian belakang, tapi masuknya nggak lagi dari depan,” kata bapak itu. Ya sudah saya putar balik karena jaraknya cukup jauh.

Jadi ternyata untuk ngurus sim, sekarang harus masuk lewat jalan Bojongsayang. Kalau dari arah Banjaran sebelum jembatan yang sebelum jalan masuk ke Polres. Nanti bakal masuk ke tempat parkir cukup luas yang letaknya sebenarnya ada di belakang mapolres.

Setelah parkir (kini pake jasa ISS), nanti sama petugas akan ditanya apakah mau buat sim atau perpanjang saja. Tapi apapun jawabannya bakal dikasih kartu tanda masuk. Seharusnya kalau perpanjang sim tulisan di kartunya “perpanjang SIM” sementara kalau mau buat sim baru tulisannya “peserta ujian SIM”.

Tapi ya begitulah, saya yang mau perpanjang malah dikasih kartu ujian sim. Indonesia hehe.

Oiya, sebelum mau perpanjang sim, lebih baik persiapkan fotokopi KTP dan sim lama. Juga map warna biru. Karena kalau fotokopi di dalam harganya suka tak masuk akal.

Setelah jalan melewati kolam, nanti kita disuruh daftar tes kesehatan. Daftarnya dengan menancapkan fotokopi ktp ke paku di samping pintu masuk ruang tes kesehatan. Nanti bakal dipanggil.

Tesnya apa saja? Cuma tes buta warna saja dan menimbang berat badan. Kali ini tak ada pertanyaan minus mata berapa. Untuk berat badan (juga tinggi badan) pun bisa dijawab sembarangan karena si petugas tidak mengecek. Saya yang bilang berat badan 70 kg aja si teteh petugas nggak protes. Padahal lebih :'(. Di sini kita harus bayar Rp25 ribu, dan tanpa kuitansi.

Setelah tes kesehatan, ambil formulir perpanjangan sim di loket atau tempat fotokopi samping pintu masuk komplek polres. Terus isi formulirnya. Formulirnya gratis, cuma kalau nggak bawa pulpen, harga pulpen di sana mahal pisan. Masa pulpen biasa harganya Rp5.000. Hih.

Kalau sudah beres, hampiri loket entah namanya yang berdampingan dengan ruang informasi. Tanya apa ada yang kurang atau tidak. Harusnya sih tidak kurang. Setelah itu datangi loket BRI untuk bayar biaya perpanjangan sim. Untuk sim C Rp75 ribu. Entah kalau sim lain. Nanti kalau sudah, si petugas akan kasih kuitansi. Isi kuitansinya ya.

Kalau sudah beres, datang ke loket 3 dan serahkan seluruh berkasnya. Isinya fotokopi ktp, formulir, lembar hasil tes kesehatan, dan kuitansi BRI. Tunggu beberapa saat.

Seharusnya, dalam SOP perpanjangan SIM, proses ini kurang dari 30 menit. Tapi ya begitulah, saya menyerahkan berkas sekitar jam 9, baru dipanggil jam 11. Sebentar kan?

Nanti bapak petugas loket 1 akan panggil nama kita dan menyuruh mengisi lagi formulir dan menandatangani kertas kosong yang entah buat apa. Ini formulir apa lagi ya? Apa nggak cukup formulir pertama? Aneh…

Oiya jangan lupa ambil satu lembar nomor urut yang ditempel di formulir. Nanti nomor urut yang satu lembar lagi akan digunakan oleh petugas saat memanggil kita untuk difoto. Juga tulis nomor telepon di muka map.

Waktu dari setelah serahkan formulir ke loket 3 dan dipanggil untuk difoto juga cukup lama, tapi tak selama saat dipanggil pertama tadi. Jadi waspadalah, jangan jauh-jauh atau nanti bakal dianggap nggak ada.

Oke, akhirnya dipanggil juga untuk difoto. Di ruang foto, nanti kita diminta sidik jari jempol sebelum difoto. Siap-siap pasang muka manis yah.

Proses pemotretan akhirnya selesai. Apakah sudah beres? Tentu saja belum. Kita harus masuk lagi ke ruangan terakhir. Seharusnya di ruangan terakhir ini sim baru kita akan dicetak. Tapi apa daya ternyata stoknya habis, dan gantinya kita cuma dikasih kartu warna biru sebagai keterangan bahwa kita lulus tes sim. TES APAAA??

Oh iya, apakah layanan sim di Polres Bandung sudah baik? Secara umum mungkin sudah baik ya. Terutama dari loket 3 sampai loket penyerahan sim. Tapi sayangnya, untuk layanan awal masih kurang. Seperti tes kesehatan yang tak pakai kuitansi. Juga masalah informasi yang minim. Saya sampai bingung, setelah tes kesehatan harus ke mana? Loket informasi pun letaknya bukan di depan, sehingga susah untuk tanya-tanya.

Orang-orang yang diduga calo pun masih tampak berkeliaran, terutama di dekat ruang kesehatan.

Mungkin pak polisi harus belajar sama samsat yang pelayanannya sudah semakin baik. Minimal meja informasi terlihat jelas dan letaknya di depan. Hehe.

Yasudah, proses perpanjangan sim akhirnya beres juga. Kini tinggal menunggu ditelepon saja sama petugas saat stok sim sudah ada. Kapan? Entahlah, karena di kartunya pun tak ditulis kapan simnya bisa diambil.

*ditulis di Simplenote sambil nunggu hujan reda di alfamart yang ada fasilitas kursinya*

Ada komentar?

%d bloggers like this: