Beralih ke OpenSuse

Kadang-kadang yutuban berlebihan itu berbahaya. Berbahaya bagi dompet. Seperti saat melihat video orang yang memasang SSD ke laptop Lenovo G40-70, tiba-tiba ingin ikutan juga pasang SSD. Sadar woi, duitnya dari mana?

Bunglon

opensuse



Sebenarnya sudah lama ingin menambah kapasitas harddisk laptop dengan SSD. Supaya agak kekinian. Apalagi setelah baca email di salah satu milis tentang betapa dahsyatnya kecepatan laptop setelah dipasang SSD.

Akhirnya setelah konsultasi ke grup Pegel di telegram dan seorang teman yang sudah lebih dulu pakai SSD, akhirnya Senin pagi nekat ke BEC untuk mencari SSD. Setelah towaf beberapa kali karena susahnya mencari SSD Samsung 850 Pro, akhirnya kembali ke toko pertama dan beli seri EVO. Kata orang-orang pegel sih yang EVO pun sudah bagus. Jadi yasudahlah saya beli itu. Jangan lupa beli juga HDD caddy ukuran 9,5 mm ya gaes.

Oke, tengah malam ketika suasana di rumah sudah sepi dan hening, dimulailah aksi install ulang laptop pada SSD yang terbaca sebagai /dev/sda itu. Karena merasa Fedora agak semakin lambat, maka saya putuskan untuk menggunakan OpenSuse Leap 42.1.

Ini versi OpenSuse terbaru yang tak baru-baru amat karena sudah hampir setahun umurnya. Untuk ukuran Linux, ini versi sudah banyak ketinggalan. Contohnya, versi 42.1 masih menggunakan kernel 4.1.x, sementara kernel terbaru sudah versi 4.7. Fedora 24 yang saya pasang pun sudah pakai kernel 4.6. Bahkan OpenSuse tumbleweed yang juga saya pasang sudah pakai kernel 4.5.

Tapi karena sudah kagok dan ingin versi yang benar-benar stabil, dipasang saja itu barang. Nah, proses instalasi OpenSuse saya pikir agak lebih mudah dibandingkan Fedora. Bahkan sistem dengan baik hati membuatkan partisi /boot/EFI, tidak seperti saat saya install Fedora 23 setahun lalu yang harus manual (dan membuat kernel panic).

Proses instalasi kalau tak salah makan waktu sekitar 1 jam lebih sedikit. Setelah reboot, laptop anda seharusnya sudah bisa langsung digunakan. Seharusnya. Sayangnya proses selanjutnya tidak semulus paha ceribel.

Agar sistem yang dipasang mirip dengan F24 yang belakangan terbaca di /dev/sdb8, maka saya pasang beberapa yang ketinggalan seperti yang sudah dibahas di sini. Terutama masalah multimedia dan Java.

Untuk Java tidak terlalu ada masalah. Cara pasang dan settingannya tak banyak masalah sedemikian sehingga saya bisa kembali bisa buka Android Studio tanpa ada kekurangan sesuatu apapun. Intinya sudah bisa compile. Hore..

Yang jadi masalah adalah di multimedia. Pertama masalah pemutar video. Saya sudah pasang dua aplikasi, vlc dan mpv (sesuai saran para mastah grup pegel). Tapi waktu saya coba buka berkas film jepang (bukan jav loh woii) ternyata nggak jalan. Ada apa ini?

Bolak-balik install codec masih saja bermasalah. Malah saat pasang vlc jendelanya tak muncul, katanya ada korupsi di librari qt4. Padahal librari ini sudah dipasang. Tapi entah saya pasang librari apa, yang pasti setelah bolak-balik instal berbagai librari dan program, akhirnya vlc bisa terbuka. Tapi tetap, sampai saat ini videonya tak muncul. huft.

Masalah multimedia kedua adalah codec mp3 yang masih tak mau mainkan berkas mp3 (bajakan). Padahal sudah coba sesuai saran di situs ini dan ini. Tapi hasilnya tetap error.

Untunglah masih bisa pasang spotify. Sepertinya untuk sementara nyetel lagu pakai spotify dulu. Bagaimana dengan film? Ya belum bisa -_-.

Apa harus kembali ke si topi biru? *kemudian bimbang*

Ada komentar?

%d bloggers like this: