Lebaran haji dan keramaian di medsos

Lebaran haji tahun ini agak berbeda dengan lebaran tahun lalu. Tahun ini, tak ada tetangga atau saudara yang berangkat ke tanah suci.

Tahun lalu, lebaran haji dilewati dengan kesedihan. Saat yang di kampung sedang kipas-kipas daging sate, saudara kami yang di tanah suci sedang dilanda tragedi. Semoga mereka termasuk orang-orang yang syahid. Amiin.

Sudah ah sedihnya. Kita kembali ke kekinian. Tahun ini, jumlah sapi yang disembelih sama dengan tahun lalu, yakni 7 ekor. Tapi jumlah domba meningkat pesat, dari satu ekor jadi 8 ekor.

Jumlah yang cukup besar, mengingat biasanya jumlah domba yang disembelih tak lebih dari 3 ekor. Akibatnya jumlah kantong yang dibikin pun lumayan banyak. Dari hitungan sampai jam 2 siang, kantong berukuran sekitar 2,5 ons itu mencapai 2.500-an.

Dan seperti biasa, di medsos ternyata lagi ramai tentang pro kontra lebaran iduladha ini. Hal ini saya ketahui dari salah satu grup telegram yang saya ikuti.

Setelah *ehem, terpaksa* buka twitter, kata salah seorang selebtwit dalam kicauannya, iduladha itu hari raya penyembelihan. Merayakan pembunuhan. Begitulah kira-kira, saya lupa persisnya bagaimana karena twitnya sudah dihapus :D.

Aduh kok nganu ya mb. Sejak kapan iduladha dimaknai sebagai perayaan pembunuhan? Adanya penyembelihan hewan qurban ya pasti, tapi bukan berarti itu dirayakan. Duh mb.

Tapi yasudahlah, semoga si mbaknya istiqomah dengan tidak memakan hewan (karena sudah pasti disembelih dulu sebelum dimasak, kecuali hewan laut mungkin). Juga si mbaknya tidak makan tumbuhan karena padi pun harus dipanen (alias dibunuh) agar bisa dimasak jadi nasi, kan?

*lah terus si mbaknya makan apa? Batu? *

Yasudahlah, daripada ikut-ikutan panas menanggapi keramaian di dunia maya, lebih baik kita lanjutkan acara penting di sore ini mumpung hujannya sudah reda: NYATEEEE!

Ada komentar?

%d bloggers like this: