Menjajal BlankOn X Tambora

Setelah lama tak ada kabarnya, akhirnya sebentar lagi distro kebanggaan nusantara segera rilis kembali. Ya, salah satu distro Linux paling keren sejagat raya, BlankOn segera rilis untuk yang kesepuluh kalinya. Kode namanya Tambora.

BlankOn X Tambora



Sebagai orang yang katanya sedang melamar menjadi seorang tester, dalam dua minggu terakhir saya mencoba distro berbasis Debian ini. Kalau tak salah, dalam 8 hari terakhir saya sudah 3 kali bolak-balik instal ulang laptop dengan BlankOn ini. Kadang coba juga di virtualBox kalau sedang ingin.

Sampai tulisan ini dibuat, rilis BlankOn sudah masuk ke tahap Rilis Kandidat 2 alias RC-2. Artinya, seharusnya sebentar lagi distro ini akan dirilis secara resmi. Kalau tak salah, versi X ini akan dirilis November 2016, artinya kurang dari sebulan lagi.

Pada berkas iso hasil pembakaran terakhir Ir Robot Gedek SH alias irgsh pada 19 Oktober kemarin, sebenarnya BlankOn sudah bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Meski begitu, namanya juga masih dalam tahap RC-2, masih ada kutu yang menyempil di sana-sini. Mari kita ulas beberapa di antaranya.

Kutu pertama, menu volume di panel Manokwari sebelah kanan yang masih juga belum berfungsi. Setidaknya di laptop saya. Padahal saat coba rilisan terakhir di VirtualBox, menu volume itu berjalan normal. Artinya kalau kita geser-geser volumenya, indikator volume di panel lain pun ikut bergeser.

volume yang tak mau ikut bergeser

Kutu kedua, mengenai bahasa. Saat melakukan instalasi, kita dihadapkan pada dua pilihan bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Inggris. Jika kita pilih Bahasa Indonesia, maka nanti setelah BlankOn terinstal, sebagian besar bahasa antarmukanya akan berbahasa Indonesia. Artinya pemilihan bahasanya berhasil dong ya.

Nah, jika di kemudian hari kita berganti bahasa lewat gnome-control-center, penggantian tersebut tidak berhasil. Untuk penggantian pertama sih berhasil (terutama kalau pilih bahasa Inggris). Namun kalau kita coba ganti lagi bahasanya, si bahasa antarmuka tetap tidak berhasil diganti. Jadi penggantian bahasa hanya bisa dilakukan sekali saja, karena itu manfaatkan sebaik-baiknya :D.

Kutu ketiga, yakni fitur alt-tab yang tak bisa bolak-balik antara dua aplikasi. Ini terjadi kalau kita buka lebih dari tiga aplikasi/jendela. Misalkan kita nautilus, terminal, dan gedit. Kalau kita mau pindah dari gedit ke terminal, maka yang dilakukan adalah pencet alt-tab lalu pindah ke jendela terminal. Kalau kita ingin balik lagi, biasanya kan tinggal pencet sekali alt-tab, kita kembali ke aplikasi semula, dalam hal ini gedit.

Tapi di BlankOn tidak, ketika pencet tombol kombinasi itu, yang terbuka justru nautilus dulu, baru setelah itu ke gedit. Jadi nantinya berputar: gedit->terminal->nautilus->gedit.

Sebenarnya masih ada beberapa kutu lagi yang sudah ditemukan. Selengkapnya bisa dilihat di daftar tiket di sini. Nah, bagi kamu yang penasaran dan suka mencari kutu, tak ada salahnya untuk mencoba BlankOn. Apalagi kalau sambil bisa menambal kutunya :D.

Ngomong-ngomong, bagi yang suka dan bisa desain, boleh loh dicoba ikut sayembara membuat maskot BlankOn. Hadiahnya lumayan loh, voucher wifi.id senilai Rp50 ribu. Gede kan? Kalau masih kurang, panitia bakal kasih bonus berupa sebuah laptop senilai 8 juta rupiah. Woww.. Informasi lengkapnya sila cek di sini.

Ada komentar?

%d bloggers like this: