2019 yang luar biasa

Tahun 2019 yang luar biasa sudah berlalu. Ada banyak momen yang membikin hidup lebih hidup. Akankah perjalanan di akhir dekade ini akan semakin menarik?

TL;DR: IStri saya melahirkan, harus dioperasi, tapi malah saya yang dioperasi, pindah kantor, dan kerja untuk pertama kalinya di Jakarta.

Bagi saya, perjalanan di 2019 memang luar biasa. Setelah pada 2018 saya akhirnya menikah, di awal 2019 kami diberi amanah baru: menjadi orang tua. Sejak Januari 2019 saya sah dipanggil bapak.

Proses kelahiran anak kami sebenarnya tidak terlalu mulus. Malam sebelum bayi lahir, istri saya mengalami pecah ketuban dengan air berwarna hijau. Bidan yang saat itu memeriksa menyarankan kepada keluarga untuk membawa istri ke rumah sakit. Rencana melahirkan di bidan pun akhirnya gagal.

Menggunakan ambulans, istri saya akhirnya dirujuk ke rumah sakit Sartika Asih, dengan pertimbangan dekat dengan pintu tol sehingga diharapkan lebih cepat sampai dan segera mendapat perawatan.

Menjelang tengah malam, dokter mulai membawa istri saya ke ruang persalinan. Namun si bayi masih betah di dalam perut. Semalaman kami tidak bisa tidur, menunggu si bayi keluar. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya sekitar jam 7.30 pagi sang bayi pun lahir.

Tapi bayi tidak langsung menangis -yang membuat saya belum bisa bernapas lega. Untunglah, setelah dibawa ke ruang bayi dan mendapatkan perawatan dengan cara mengeluarkan air dari mulutnya, bayi mungil itu akhirnya menjerit dengan penuh tenaga.

Memasuki bulan ketiga, ada kabar mengejutkan. Dari hasil pemeriksaan dokter kandungan, istri saya divonis mengidap kista dan jika terus memburuk harus segera dioperasi. Duh. Tapi yang dioperasi malah saya.

Tentu saja bukan operasi kista, tapi usus buntu. Semuanya berawal dari sakit serupa maag yang melanda saya sejak pertengahan Maret. Beberapa kali berobat, hasilnya tidak kunjung membaik.

Akhirnya ketika kembali berobat ke klinik dekat rumah, dokter curiga saya menderita usus buntu. Apalagi hampir seminggu saya tidak bisa buang air besar. Dia pun meminta saya diperiksa ke dokter spesialis di rumah sakit Al-Ihsan Baleendah. Besoknya, saya ke Al-Ihsan. Dari hasil pemeriksaan, saya divonis usus buntu dan harus segera dioperasi. Dokter pun memberikan surat rujukan rawat inap.

Karena biaya operasi lumayan mahal, saya memutuskan menggunakan BPJS (selama berobat saya jarang pakai BPJS). Itu artinya saya harus berobat dari awal: ke puskesmas untuk mendapatkan surat rujukan. Dengan kondisi lumayan payah, besoknya saya ke puskesmas diantar teteh dan bapak. Di sana, saya cuma diperiksa sebentar karena saya sudah bawa surat rujukan dari dokter spesialis. Berbekal surat rujukan dari puskesmas, saya kembali ke Al-Ihsan untuk mendaftar rawat inap.

Berbeda dengan pasien umum, ketika menggunakan BPJS ternyata kamar langsung penuh. Luar biasa. Karena tidak ada kepastian mendapatkan ruangan, kami mulai mencari alternatif rumah sakit lain. Beberapa saudara yang bekerja ataupun punya kenalan di rumah sakit kami hubungi. Sayangnya, tidak ada kamar yang kosong.

Termasuk ketika kami pergi ke Sartika Asih, berharap ada kamar kosong. Sesampainya di sana, saya cuma hanya bisa menunggu di ruang IGD, karena tidak ada ruangan kosong. Bapak kembali menghubungi saudara yang bekerja di rumah sakit. Kebetulan kakak sepupu kerja di RSUD Soreang, dan ternyata beliau bisa mengusahakan kamar kosong di sana. Menggunakan Grab, kami pun akhirnya ke Soreang.

Kami sampai di RSUD Soreang menjelang sore. Sementara teteh dan kakak sepupu mengurus administrasi BPJS, saya dibawa ke IGD dan langsung mendapatkan pemeriksaan awal. Menjelang magrib akhirnya saya dipindahkan ke kamar rawat inap.

Pagi-pagi saya kembali diperiksa. Kali ini harus di-USG. Dari hasil USG, dokter menyimpulkan saya harus segera dioperasi. Perawat pun meminta saya untuk mulai puasa, karena rencananya sore nanti saya akan masuk ruang operasi.

Tanggal 27 Maret 2019 sore hari, saya akhirnya dibawa ke ruang operasi. Di ruang tunggu, saya diminta melepaskan seluruh pakaian dan mengenakan baju operasi. Di ruangan itu, hampir setengah jam saya menunggu dengan perasaan cemas. Menjelang magrib, akhirnya saya dibawa ke meja operasi. Di ruangan itu, sudah menunggu beberapa orang dokter dan perawat.

“Kamu sudah cukuran?” kata dokter. Ah saya lupa, sebelum operasi, bagian bawah perut harus bersih dari rambut. Saya pun hanya menggeleng.

Salah seorang dokter kemudian memberi tahu bahwa saya akan disuntik anestesi. Belum juga menjawab, dokter sudah mulai beraksi. Beberapa saat kemudian gelap.

Sekitar jam 8 atau 9 malam (saya lupa) saya mulai siuman. Ternyata operasinya sudah selesai dan saya sudah dipindahkan ke ruangan lain. Menurut ibu yang saat itu sedang menunggui saya, operasinya cukup besar dan lumayan berisiko.

Wow. Saya kaget setelah beristirahat alias reuwas kareureuhnakeun. Karena saya kira operasinya tidak terlalu besar. Namun ketika melihat bekas luka yang cukup memanjang di bawah pusar, operasinya memang mungkin cukup besar.

Perlu waktu hampir sebulan bagi saya hingga bisa kembali mulai beraktivitas normal. Itu pun belum berani bawa motor sendiri. Ke kantor pun pakai gojek (yang ternyata lumayan mahal). Beberapa kali saya harus kontrol periksa luka bekas operasi.

Bahkan setelah dinyatakan sembuh pun, saya harus kembali ke dokter (klinik yang berbeda) karena ternyata ada luka yang kembali basah. Akhirnya saya harus minum antibiotik lagi agar supaya tidak terjadi infeksi.

Bagaimana dengan kondisi kista yang diderita istri? Ternyata kistanya hilang (atau hancur, saya juga nggak mengerti) setelah rutin berendam air hangat dan minum obat dari dokter. Alhamdulillah istri saya tak harus dioperasi. Dari hasil pemeriksaan beberapa minggu kemudian, dokter menyatakan kistanya sudah tidak ada lagi.

Memasuki pertengahan tahun tidak ada yang istimewa selain Lebaran yang kini ditemani istri dan anak. Peristiwa besar lain baru muncul di akhir Agustus. Seorang teman menawarkan kesempatan pindah kerja. Awalnya tidak terlalu tertarik, toh saya masih betah berkantor di kawasan Cimenyan.

Tapi setelah beberapa kali komunikasi, awal September saya akhirnya bikin CV (asal-asalan) dan dikirimkan ke teman yang kantornya mengadakan acara rekrutmen untuk perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta namun punya kantor di Bandung.

Awalnya cuma iseng. Apalagi CV yang saya buat sangat sederhana. Setelah itu, saya dapat email untuk mengerjakan tes online. Dengan persiapan seadanya, saya kerjakan tes itu. Kalau tidak salah ada 10-15 soal, dengan 3 di antaranya soal yang berkaitan dengan pemrograman. Ditemani istri yang mengasuh anak kami, saya mengerjakan soal itu dengan cukup lama. Bahkan sampai waktu habis, ada satu soal pemrograman yang tidak bisa saya kerjakan. Saya pun pasrah, dan meminta istri untuk tak perlu terlalu berharap lebih.

Tak dinyana, besoknya saya dapat email dari teman bahwa saya diminta untuk interview pada hari Sabtu jam 3 sore (saya mengerjakan soal online pada Selasa malam). Lalu interview kedua besoknya, hari minggu. Lalu interview terakhir bersama CTO pada hari Rabu minggu depannya.

Tiga hari kemudian, saya diminta melakukan medical checkup. Wow. Prosesnya cepat juga ternyata. Saat itu teman saya mengatakan peluang untuk lolos sudah cukup besar (apalagi sudah diminta medcheck), tapi saya masih belum percaya sebelum ada kepastian dari pihak HRD, sehingga belum kasih kabar ke teman-teman bahwa saya akan resign. pada 20 September sore, akhirnya pihak HRD mengabari bahwa saya diterima bekerja di perusahaan e-commerce tersebut. Minggu depannya, saya mengabari bos bahwa saya akan resign.

31 Oktober. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan pihak HRD, saya diminta untuk ke Jakarta untuk mengurus masalah administrasi dan mengikuti sesi onboarding. Sesi ini direncanakan diadakan selama sebulan penuh.

Itu artinya, selama November saya akan tinggal dan bekerja di Jakarta. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya. Ya, sejak lulus kuliah, Jakarta menjadi salah satu kota yang saya hindari ketika mencari pekerjaan. Sudah terlalu nyaman di Bandung hehe. Tapi karena tuntutan perusahaan yang mengharuskan karyawan baru mengikuti sesi onboarding, saya pun akhirnya merasakan bagaimana bekerja di ibu kota.

Ternyata tidak buruk-buruk amat. Selama ini saya selalu membayangkan Jakarta sebagai kota yang tidak aman. Juga macet dan panas. Namun setelah tinggal selama sebulan penuh, beberapa hal yang saya khawatirkan tidak terbukti. Hamdalah.

Jalanan macet pun jarang saya alami, karena kebetulan kantor berada di kawasan ganjil-genap, dan jalur dari kosan ke kantor melewati jalur tersebut. Saya baru merasakan luarbiasa macetnya Jakarta ketika menghadiri acara di kantor Gojek. Wow macetnya benar-benar luar biasa.

Tanggal 1 Desember saya kembali ke Bandung. Awalnya, saya hendak pulang tanggal 30 November, sehingga bisa istirahat dulu sehari di Banjaran atau Pangalengan sebelum masuk kantor yang di Bandung. Namun tiket yang dibelikan kantor baru berangkat esok harinya. Tapi tak apa-apa. Yang penting gratis.

Alhamdulillah sudah sebulan saya bekerja di kantor yang di Bandung. Tentu saja ada banyak hal yang berbeda dibandingkan ketika masih kerja di kantor lama. Mulai tidak lagi bekerja sendiri, sampai harus siap cas cis cus bahasa Inggris yang merupakan salah satu kelemahan saya. Tapi itu untuk tulisan selanjutnya saja. Kalau sempat. Dan mau. Dan tidak malas.

Sekian saja. Semoga tulisan yang nirfaedah ini tamat kamu baca sampai sini. Luar biasa. Mau-maunya membaca tulisan tidak jelas ini. Terima kasih.

2 Thoughts.

Leave a Reply to hahn Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: