
Ternyata olahraga panahan itu tidak hanya sekadar membidik sasaran. Kekuatan tangan pun sangat berpengaruh. Bisa-bisa, anak panah yang meluncur bisa melesat jauh dari sasaran.
Di hari minggu sore yang cerah, saya, istri, dan anak (dan adik ipar) berkelana ke kawasan PLTA Plengan. Ya, tidak salah, namanya Plengan, bukan Pangalengan. Entah kenapa Belanda dulu menamakan PLTA ini demikian pada 1922 silam.
Kenapa kami jauh-jauh ke sana? Karena di kawasan sekitar PLTA ada kafe baru. Mungkin lebih tepat warung kopi baru. Menurut pengukuran Google maps, jaraknya sekitar 5 km dari rumah mertua. Dari jalan raya Pangalengan sendiri, jaraknya sekitar 3,3 km. Warung kopi ini masih berada di area perkemahan Rasamala Camp.
Menurut pengakuan pengelolanya (yang merupakan supplier kopi saya beberapa bulan terakhir), warung kopi ini baru buka 2 minggu silam. Saking barunya, bahkan belum ada buku menu ataupun sajian kopi apa saja yang tersedia. Karena saya masih mulas habis diare, saya hanya pesan kopi Vietnam drip. Sementara istri pesan Kopi gula aren. Rasa kopinya bagaimana? Ya namanya Vietnam drip, pastinya manis banget. Tapi saya sempat mencicipi kopi hitamnya, dan rasanya lumayan enak.
Tapi bukan kopi yang mau saya ceritakan di tulisan kali ini. Karena kopi dan Pangalengan merupakan hal yang terlalu biasa, tidak ada yang menarik untuk diceritakan~
Sambil menunggu pesanan datang, kami mengeksplorasi warung ini. Di sisi warung ada kolam pemancingan yang lumayan luas. Saya tidak tahu apakah di kolam ada ikannya atau tidak, tapi ada beberapa orang yang sedang memancing, jadi harusnya ada. Nah yang menarik selain dari adanya kolam itu adalah adanya tempat memanah.
Karena kopi yang ditunggu belum datang, kami pun pindah ke meja bundar di luar warung. Di sana ada beberapa anak panah dan busurnya. Ada dua macam busur, yang modern dan yang tradisional. Kami pinjam busur yang tradisional dan beberapa anak panahnya. Di kejauhan, tampak sebuah sasaran tembak berbentuk kotak dan berwarna biru-merah-kuning yang terbuat dari semacam anyaman jerami.
Selama ini saya belum pernah sekalipun mencoba memanah. Kalaupun pernah, hanya di dalam game saja. Namanya game, tidak ada tenaga yang harus dipersiapkan, cukup membidik sasaran saja dan pantau meteran energi, lalu whoooosshh anak panah melaju ke sasaran.
Kenyataannya tidak semudah itu. Sebelum coba, adik saya mengajari kami bagaimana memegang busur yang benar, bagaimana menyimpan panah supaya mudah dibidik, dan bagaimana melepaskan anak panahnya. Dia pun lalu memperagakannya. Ok, teorinya ternyata tidak ribet.
Namun pas dicoba, anak panah hanya meluncur pelan, jatuh jauh sebelum mencapai sasaran. Wow, susah banget ternyata. Beberapa kali saya dan istri mencoba membidik sasaran dan memanah sasaran tersebut. Kena sasaran? Tentu saja tidak hahaha.
Pada percobaan awal, saya usahakan untuk sejajar dengan sasaran tembak. Tapi setelah belasan kali panahnya meluncur jauh dari sasaran, akhirnya saya coba menggeser bidikan jauh dari sasaran. Kalau dihitung, mungkin jarak bidikan horizontalnya lebih dari 30% ke kiri dari sasaran sebnarnya.
Hasilnya agak lumayan. Dari sekian belas anak panah yang ditembakkan, setidaknya ada 3 yang mengenai sasaran. Ini baru asal kena saja, bukan beneran di tengah-tengah sasaran tembak.
Ternyata olahraga memanah itu memang bukan hanya harus terampil membidik, tapi juga membutuhkan stamina yang baik. Setidaknya tangan kiri harus beneran kokoh menahan posisi busur, sementara tangan kanan harus bisa menarik tali busur sekuat mungkin. Sehingga ketika anak panah dilepaskan dari busurnya, tangan kiri tetap goyah dan anak panah bisa meluncur cepat mencari sasarannya.
Padahal, panahan merupakan salah satu olahraga yang disunahkan oleh Rasulullah SAW, selain berenang dan berkuda. Dari ketiga olahraga itu, tidak ada satupun yang bisa saya kuasai. Untuk berenang, saya cuma bisa gaya batu, sementara berkuda, hanya bisa menjadi penumpang (keretek) saja.