Kaduhung mah Tara Tiheula, Kecuali Nuntun Domba

Waktu masih berseragam putih biru alias SMP, ketika lagi asyik nongkrong di warung depan sekolah, salah seorang teman saya tiba-tiba nyeletuk. “Kaduhung mah tara tiheula, kecuali nuntun domba,” terang dia. Kebetulan waktu itu ada segerombolan domba yang dituntun sama pemiliknya.

Artinya? Sudah jelas, bahwa penyesalan selalu datang belakangan alias terlambat, kecuali si penuntun domba. Kenapa? karena dia pasti ada di depan domba, bukan di belakang.

Dan ternyata teori teman saya ada benarnya. Saya menyesal alias kaduhung nggak belajar bahasa inggris dari kecil. Ya minimal sejak SMP, ketika ada pelajarannya. Waktu kuliah pun saya nggak serius belajar, padahal hampir-bahkan semua buku teks berbahasa inggris. Waktu itu yang penting bisa lulus dengan nilai yang nggak jelek.

Padahal, waktu masih kuliah, sempat ada kelas bahasa inggris yang digagas ketua jurusan. Tapi saya hanya ikutan beberapa kali, setelah itu jarang masuk lagi. Ah padahal gratis..

Dan ternyata efeknya terasa sekarang, ketika masuk dunia nyata. Bahasa -yang kata pak Taufik Ismail mah disebut bahasa inggehis, ternyata sangat penting. Apalagi hampir setiap minggu saya harus bisa menerjemahkan berita bahasa inggris untuk ganjel halaman tekno. Akhirnya, karena butek, translator buatan paman google yang jadi tumpuan harapan.

Itu masih mending, karena “hanya” menerjemahkan teks. Nah kalau ngomong cas cis cus gimana? Itulah masalahnya. Dan saya pernah alami hal itu, ketika harus mewawancarai narasumber bule. Untung saja waktu itu ada wartawan lain yang memang lulusan Sastra Inggris, jadi dia bisa nanya. Sementara saya hanya cukup menganggup dan sedikit senyum, dan recorder dinyalakan.

Ya daripada terus begini, ayoh kita mulai belajar cas cis cus. Semoga belum terlambat. Semga tidak menjadi penuntun domba.

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: