Kejar Jakarta

ALKISAH segerombolan mahasiswa yang dibiayai pemerintah lewat skema beasiswa unggulan diundang oleh bapak menteri pendidikan untuk hadir ke ibu kota Jakarta. Agendanya, menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Mendiknas dengan salah satu bank di Indonesia, BRI. Berhubung undangannya mendadak (H-1), dan beberapa teman disibukkan dengan persiapan mudik, akhirnya diputuskanlah 3 orang jadi perwakilan untuk datang ke sana. Toh di undangan hanya mengundang perwakilan saja, nggak semuanya hehe.. Diputuskanlah 3 orang menjadi utusan ke acara itu.

Maka, berangkatlah saya, pak Hadi dan Ramdhan untuk berangkat ke Jakarta. Bukan cuma sekadar jadi undangan saja, tapi kami pun ada misi penting, menyangkut hajat hidup orang banyak hehe.. Diputuskan, kami akan berangkat Selasa pagi, jam 6.30 naik travel Baraya dari pool di Surapati.

Nyadar diri tinggal di luar kota (a.k.a kabupaten), maka saya berangkat subuh, jam 5 pagi. Singkat cerita, tepat jam 6.00 saya sudah sampai di Surapati. Ternyata jam segitu pool travel sudah ramai, banyak yang mau ke ibu kota kayaknya, menambah kemacetan di sana. Ternyata Pak Hadi dan Ramdhan belum sampai.

Sekitar jam 6.10 Pak Hadi datang, dan 15 menit kemudian Ramdhan pun akhirnya datang juga. “Macet,” kata dia. Kebetulan hari itu hari pertama SNMPTN, jadi jalan sudah ramai

Sesuai jadwal keberangkatan, kami berangkat dari pool Baraya jam 6.30. Nggak tepat sih, telat sekitar 5-10 menit. Kami naik mobil Baraya no 90, kebagian kursi no 6,7 dan 8.

Di jalan nggak ada yang rame. Di mana-mana pemandangan tol ya gitu-gitu aja nggak ada pedagang asongan yang ujug-ujug nawarin dagangan, atau pengamen. Selain itu, kami kebanyakan tidur, jadi nggak tahu keadaan di jalan seperti apa hehe..

Sekitar jam 8.30-an sepertinya kami sudah mulai masuk ke Jakarta. Setidaknya sudah mulai keluar tol Jakarta (nggak tahu nama gerbangnya apa hehe). Dan seperti biasanya, keadaan Jakarta pagi hari (dan juga sepertinya sepanjang waktu yah) dihiasi dengan kemacetan yang PARAH. Awalnya biasa saja. Toh di Bandung juga sama suka macet. Ya mirip-mirip jalan Buahbatu pas pagi hari lah macetnya. Tapi kok ini mobil nggak jalan-jalan ya?

Masuk jam 9-an, mobil masih terjebak macet di jalan Gatot Subroto. Bahkan sampai 30 menit berikutnya, mobil masih terjebak di sana.. hiks (atau gatsu Jakarta panjang banget gitu ya?). Baru 40 menit kemudian kami bisa sedikit lepas dari macet. Ya minimal sudah masuk ke jalan lain, Kapten Tendean hehe.. skip skip skip..

Singkat cerita, sekitar jam 10-an kami baru sampai ke pool Baraya di Melawai. Itu artinya kita sudah telat, karena dalam undangan katanya mulai acara jam 10. Apalagi dari Jalan wijaya ke Jl Jendral Soedirman masih jauh. Harus satu kali naik busway, jurusan Blok M. Ya sudah kami pun jalan kaki dari Jalan wijaya ke Blok M. Untung pas masuk ke shelter busway langsung ada dan kosong. Jadi nggak nunggu lama.

naek baswey

Horee naek baswey

 

Sekitar 10 menit naik busway, akhirnya sampai juga di shelter Soedirman. Tapi kami bertiga nggak ada yang tahu di mana gedung Kemdiknas itu. Dasar ndeso haha.. Untung saja, kata mbak Anna, katanya gedung Kemdiknas ada di deket mal. Dan benar saja, ternyata nggak jauh dari shelter.

Masuklah kami ke gerbang komplek Kemdiknas. Tapi gedung mana? Setelah sempat tersesat ke gedung C, akhirnya kami sampai juga ke tempat acara, di Gedung A lantai 2. Pas masuk ke tempat acara, ternyata acara sudah mulai. Pas kami masuk, pak menteri dan direktur BRI sedang bernarsis ria difoto sama tukang kuli foto. Sepertinya kami lumayan telat haha..

Untung saja ternyata pak menteri belum memberikan sambutan. Setelah sukses berfoto-foto ria dan tanda tangan MoU,lalu bapak menteri memberikan sambutannya. Nggak ada yang banyak diingat dari sambutan itu. Hanya beberapa yang saya ingat, yaitu.

“Jadilah nasabah BRI!”

haha

Yap, mantan menkominfo itu sangat menggebu-gebu menyarankan audien untuk jadi nasabah bank rakyat itu hihi. Kalau mau tahu lebih lengkap apa saja isi sambutan pak menteri, bisa dibaca di sini.

Setelah itu acara pun usai. Padahal kami belum setengah jam di ruangan ber-AC itu hihi.. Tapi masih mendinglah masih bisa mengikuti acaranya, jadi nggak malu pas dikasih makan :D. nggak kayak bang nanang dan Ar yang cuma makan doang haha..

Setelah makan ternyata acara berlanjut. Kali ini lebih serius, karena bukan hanya seremonial belaka. yang mengisinya pun bukan pak menteri lagi (karena beliau langsung sidak kesiapan SNMPTN), tapi koordinator Beasiswa unggulan, Dr AB Susanto dan Musa Yosep. Dalam paparannya, mereka berdua menjelaskan mengenai BU itu seperti apa. Kami, sebagai penerima beasiswa, mempunyai kewajiban untuk mensosialisasikan beasiswa ini ke seluruh khalayak umum. Kami wajib menjadi agen-agen marketing BU hihi..

yang lain serus, ini malah foto foto

Ketika saya serius, kok kalian malah fotofoto sih

 

Pak Yos pun menjelaskan mengenai alur dana BU, yakni dari APBN. Dia mengakui penyaluran dana BU sering telat, kadang cair bulan Februari, Maret, bahkan tahun ini baru cair bulan April. Pantesan status kita di ITB masih Belum Dibayar hehe.

Menurut Pak AB, selain kewajiban belajar dengan baik, ada satu lagi tugas yang harus diemban penerima beasiswa, yakni MENULIS. Ya, menulis apapun, yang penting diterbitkan di media nasional. Menurut dia, hal itu penting agar sosialisasi BU semakin luas. Tulisan yang dibuat pun bebas, tema apapun, asal berkaitan atau ada tulisan Beasiswa unggulan. Kalaupun nggak bisa nulis opini atau artikel, kata dia, menulis surat pembaca pun boleh.. “Bahkan kalau nggak bisa nulis tapi bisa ngomong, suruh temen atau pacarmu untuk nulis apa yang kamu omongkan, kata dia. Namun itu selemah-lemahnya iman D.

Dia menambahkan, tulisan itu akan menjadi pertimbangan bagi pihak BU (yang ternyata diisi oleh anak-anak muda) ketika kita mau mengajukan beasiswa lagi ke S3 atau mengajukan dana untuk berangkat ke luar negeri. Semakin banyak tulisan yang diterbitkan media (cetak), semakin bagus penilaiannya.

narsis dulu

dapat tas yang isinya tas di dalam tas

 

Sekitar jam setengah dua lebih, acara berakhir, setelah sebelumnya kami berfoto bersama (dan dibagi uang transport haha).

Karena ada misi titipan dari rekan-rekan setanah air, maka kami pun menanyakan hal itu, mengenai biaya hidup bagi penerima beasiswa. Apa jawabannya? Sayangnya ternyata nggak ada. Kata Ibu Lilis Devianti (yang mengurusi beasiswa jalur mandiri), skema BU tidak menyediakan biaya hidup. Yang ditanggung hanya biaya akademik.

“Sebenarnya ada tanggungan biaya hidup bagi penerima BU,” kata dia. Kami mulai semangat mendengarkannya.
“Tapi itu untuk yang belajar di luar negeri,” lanjutnya. Lilis menambahkan, berbeda dengan penerima BU di dalam negeri, bagi yang sekolah di luar negeri, malah biaya sekolah yang nggak ditanggung. Walahh..

Karena nggak ada yang dapat ditanyai lagi, akhirnya kami pun beranjak keluar ruangan dan bergegas ke masjid (di jalan, Ramdhan sempat kenalan sama salah satu penerima BU. Ttadinya mau kenalan, tapi ternyata angkatan 2000 hahaha).

Setelah beres shalat, tadinya mau main dulu, tapi ternyata sudah jam 2 sore, jadi ya sudah kami pun bergegas pulang, kembali naik busway. Kali ini, busway penuh dan kita nggak kebagian kursi. Untung saja jaraknya nggak jauh dan nggak macet. Rencananya kami mau pulang naek Baraya yang jam 2.30, tapi pas waktu ke sana sudah penuh :(. Akhirnya setelah nunggu satu jam, berangkatlah kami dari Melawai kembali ke Surapati. Singkat cerita, sekitar jam 6.30 kami sampai juga di Surapati dengan selamat.

Ya sudah, sekian saja cerita laporannya. Maapken jika terlalu panjang dan bertele-tele. Namanya juga laporan, harus detail hehe..

0 Thoughts.

  1. om, lama tak jumpa. gimana kabar?

    btw, belom sempet baca semua nich postingannya. panjang beuneur. tapi ente dapet beasiswa ya? kul dimana sekarang?

    hehe.. namanya juga laporan, jadi musti panjang 😀
    sekarang kuliah di itebe bang.. lumayan dapet beasiswa 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: