Keliling Eropa Berkat Sampah

Sehari-hari, seniman Dodong Kodir bergelut dengan sampah. Tentu bukan alih profesi menjadi pemulung, tapi mencari sampah yang dapat diolah dan dijadikan karya seni. Kok bisa?

Ya, sejak 1990-an Dodong sudah akrab dengan sampah. Sampah yang bagi sebagian orang tidak berguna, di tangannya disulap menjadi karya seni yang unik. Bahkan almarhum Harry Roesli pernah mengatakan bahwa pensiunan karyawan STSI Bandung itu sudah ditakdirkan untuk hidup dengan sampah.

“Saya memang sudah lama membuat alat musik dari sampah. Bahannya dari apa saja, yang penting dapat menghasilkan bunyi. Biasanya barang-barang itu saya dapatkan dari tukang loak di Astanaanyar, tempat sampah, atau pemberian tetangga. Bahkan ada juga yang saya cari sampai ke Baduy,” ujar Dodong.

Dari tangan terampilnya, sudah banyak alat musik yang diciptakan. Dia mengaku sudah lebih dari 100 alat musik yang tercipta. Sebut saja Singkardong, sebuah alat musik perkusi yang terbuat dari aksesori kendaraan. Ada juga cariuk, sebuah alat yang dapat mengeluarkan suara kuda.

“Alat musik ini terbuat dari buah Cariuk, saya dapatkan waktu ke Baduy. Sekarang Cariuk disimpan di salah satu galeri di Madrid Spanyol,” ujarnya bangga.

Seniman kelahiran Manonjaya tasikmalaya ini mengaku, meski berasal dari sampah tak berguna, namun sudah banyak alat ciptaannya yang disimpan di galeri atau museum di luar negeri. Selain Cariuk, Singkardong pun saat ini sudah menjadi salah satu koleksi galeri di Yunani.

“Saya sudah sering keliling eropa. Bahkan Spanyol sudah saya ubek-ubek. Saya ke sana berkat alat musik dari sampah ini, dan sebagian diminta disimpan di galeri di sana. Alat musik Sinkardong misalnya, sekarang disimpan di galeri di Yunani. Sementara Cariuk disimpan di Madrid Spanyol,” kata dia.

Dodong mengakui, berkat alat ciptaanya dia dapat menjelajah ke luar negeri. Dia mengakui, sudah beberapa kali diundang ke luar negeri untuk menunjukkan alat musik ciptaannya itu.

“Ke Yunani saya sudah dua kali. Ke Vietnam dan Spanyol sekali. Bahkan hampir seluruh daerah di Spanyol sudah saya ubek-ubek,” ujarnya sambil tertawa.

Warga Cisitu itu menambahkan, apresiasi seniman luar negeri terhadap karyanya sungguh luar biasa. Maka tak heran jika beberapa karyanya mendapat penghargaan dari seniman lain.

Dia menjelaskan, beberapa alat musik miliknya pernah mendapat penghargaan internasional. Salah satu karyanya, tornadong, diganjar gelar juara dalam salah satu festival seni di Vietnam. Alat sederhana yang terbuat dari buah kukuk itu mampu mengeluarkan bunyi mirip tornado.

“Saya pernah gelar pameran di Selasar Soenaryo. Ternyata salah satu pengunjungnya adalah seniman Jepang, Makoto. Karena dia sangat tertarik, dia langsung bikin kolaborasi musik dengan saya, padahal persiapannya hanya sekitar 4 jam,” kata dia.

Bahkan dia mengaku, seniman asal Jepang itu cemburu, karena di negaranya tidak ada seniman yang seperti dirinya. Sebagai kenang-kenangan, dia memberi cinderamata alat musik dari bekas pencukur rambut. “Dia cemburu, karena di sana nggak ada yang seperti Dodong,” ujarnya bangga.

Meski sudah sering mendapat penghargaan, Dodong menegaskan karyanya tidak akan dikomersilkan. Padahal Dodong mengaku banyak orang yang memintanya untuk memproduksi masal karya ciptaannya.

“Saya hidupnya dari sini, jadi tidak akan dikomersilkan. Karya saya pun nggak akan dibuat hak cipta. Saya hanya ingin mengamalkan saja,” jelas Dodong serius.

Meski begitu, agar karyanya tidak hilang, Dodong mengaku ingin membangun sebuah galeri yang dapat menampung semua karyanya. Menurut dia, galeri itu sangat penting agar anak muda dapat mempelajari dan menghargai karyanya. Apalagi beberapa karya ciptaannya memang menggunakan bahan yang sudah langka, seperti cariuk dan singkardong.

“Sampai sekarang saya belum miliki galeri. Padahal galeri itu penting, untuk regenerasi, supaya makin banyak masyarakat yang peduli,” pungkas dia.

*catatan waktu ngobrol dengan kang Dodong, 12/10/2011*

Ada komentar?

%d bloggers like this: